
Tiga hari kemudian ....
Tangerang.
Suara siulan seorang gadis terdengar di kamar bernuansa abu-abu. Gadis itu mematut dirinya di depan cermin seraya merapikan rambut barunya. Ya, gadis itu tak lain adalah Kinar. Sejak satu jam yang lalu, ia mengurung diri di dalam kamar, beberapa pakaiannya pun berserakan di atas ranjang.
Malam ini Kinar akan di jemput Farhan, mereka berdua akan bertemu setelah beberapa hari ini saling memberi kabar lewat sambungan telfon. Kinar sangat bahagia, karena Pak Gatot dan Tommy mengizinkannya jalan berdua dengan Farhan—itupun karena Farhan adalah cucu kakek Amin.
"Sempurna!" gumam Kinar setelah meletakkan catok rambutnya. Tadi sore Kinar pergi ke salon untuk mengubah gaya rambut. Ia mengikuti potongan rambut Intan agar terlihat rapi.
Rambut hitam sebahu itu pun semakin membuat wajah Kinar lebih terlihat imut. Bentuk wajahnya sangat cocok dengan model rambutnya saat ini. Polesan make-up tipis menambah nilai tersendiri untuk penampilannya malam ini.
Setelah mengeluarkan setengah dari isi almarinya, akhirnya Kinar memutuskan untuk memakai celana jeans hitam yang dipadukan dengan blous lengan panjang. Penampilannya kali ini terlihat lebih sopan dari biasanya, kini tato di tangannya berhasil disembunyikan.
Kinar meraih ponselnya tatkala mendengar dering panggilan masuk. Ia melihat nama Farhan ada di sana, buru-buru Kinar menggeser icon hijau di layar ponsel itu untuk bisa mendengar suara bariton Farhan.
"Aku sudah di depan!" ucap Farhan setelah panggilan tersambung.
"Oke, Bang!" ucap Kinar seraya meraih tasnya.
Kinar segera keluar dari kamarnya, ia mengayun langkah menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan Farhan. Jujur saya ia sangat gugup saat ini, apalagi setelah pintu ruang tamu terbuka lebar dan nampaklah sosok yang mengusir rasa sepinya beberapa hari ini.
Farhan tertegun setelah melihat penampilan Kinar malam ini. Kesan bad girl yang pernah Farhan lihat seakan sirna sudah setelah melihat keadaan Kinar saat ini.
"silahkan masuk, Bang!" ucap Kinar saat menggeser tubuhnya ke sisi pintu.
Akhirnya, Farhan masuk ke dalam ruang tamu, ia duduk di sofa tunggal sambil menunggu Kinar yang masuk untuk memanggil orang tuanya.
"Om!" sapa Farhan ketika pak Gatot berada di ruang tamu, tak lupa ia mengecup punggung tangan itu.
"silahkan duduk, Nak Farhan!" ucap pak Gatot.
"Saya langsung pamit saja, Om. Saya mau ngajak Kinar jalan-jalan," ucap Farhan seraya menatap pak Gatot.
"oh iya sudah gak papa asal jangan pulang larut malam, Nak," ucap pak Gatot.
__ADS_1
"Baik , Om!" jawab Farhan dengan diiringi senyum tipis.
Akhirnya, kedua sejoli itu keluar dari rumah, Pak Gatot mengantar kepergian putrinya sampai di teras rumah. Beliau mengembangkan senyumnya ketika mobil yang dikendarai Farhan mulai meninggalkan halaman rumahnya.
Keheningan terasa di dalam mobil yang melaju kencang di jalan raya. Mereka berdua masih canggung untuk memulai obrolan malam ini. Pandangan Kinar fokus ke depan, ia takut untuk mengalihkan pandangan ke samping.
"Hey calon istri! kenapa hanya diam saja?" Akhirnya Farhan memecah keheningan yang terasa di dalam mobilnya.
"iiih jangan panggil gitu! Nama ku Kinar!" ucap Kinar dengan bibir yang mengerucut setelahnya, semenjak sering berbagi kabar lewat chat, Kinar dan Farhan tak lagi memakai bahasa yang formal seperti biasanya.
"Loh salah ku di mana? kamu sendiri 'kan yang memberi nama kontakmu dengan 'calon istri'?" Farhan kembali mengingatkan hal konyol yang dilakukan Kinar beberapa hari yang lalu.
Kinar mengerucutkan bibirnya, ia mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun saat ini ia sedang menahan malu. Kinar ingin sekali membuang wajahnya jauh dan menggantinya dengan wajah Kimberly Ryder, misalnya.
Farhan hanya mengembangkan senyumnya ketika melihat ekspresi Kinar. Gadis yang dulu berkesan bad girl saat pertama kali berjumpa dengannya itu, kini tampil dengan gaya yang berbeda. Kinar terlihat seperti seorang gadis rumah malam ini.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit, mobil yang dikendarai Farhan telah sampai di salah satu Mall yang ada di Ciputat. Mereka berdua segera turun dan melangkahkan kaki menuju Mall tersebut.
"Bang, kita mau ngapain kesini?" tanya Kinar setelah mereka naik eskalator.
"Oh," gumam Kinar dengan suara yang lirih.
Untuk pertama kalinya Kinar nonton di bioskop dengan seorang pria. Ya, karena memang saat ini saja ia bisa bebas jalan dengan seorang pria tanpa pantauan Tommy. Kinar terkesiap ketika Farhan tiba-tiba meraih tangannya, lalu tak lama setelah itu kedua tangan itu saling menggenggam erat saat berjalan menuju bioskop.
"Biar kamu tidak hilang," ujar Farhan dengan diiringi senyum tipis.
...🌹🌹🌹🌹...
Jombang.
Langit malam terlihat cerah karena sang rembulan tengah menampakkan keindahannya. Bentuknya yang sempurna menjadikan bintang iri hati dan tak menampakkan diri.
Intan dan Ninis berjalan beriringan menuju ndalem, mereka berdua baru saja selesai mengisi acara di pesantren putri. Hari ini ada kelas tilawah yang biasa di isi oleh Ninis, karena Intan mahir dalam hal ini, alhasil Ninis mengajak Intan untuk ikut dengannya.
Senyum tipis terbit dari bibir Intan begitu saja tatkala dirinya teringat momen paling menyenangkan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Ia berhasil mengalahkan Rahma dalam lantunan tilawah, gadis yang sempat menguntit suaminya itu dengan bangganya menantang Intan dihadapan para santri, tentu saja bukan menantang secara terang-terangan tapi dengan cara yang lebih halus.
__ADS_1
"Ning Ninis ... kami semua mau mendengar Ning Intan membacakan tilawah dong! buat perkenalan gitu."
Ya, seperti itulah yang diucapkan Rahma ketika gadis itu selesai membaca tilawah beberapa ayat—tugas yang diberikan Ninis seminggu yang lalu.
Tentu saja, itu adalah hal yang mudah untuk Intan. Suaranya masih mampu melantunkan ayat suci dengan merdu dan tentunya dengan nada yang tinggi.
"Tan, tuh udah ditunggu Aji!" ujar Ninis ketika melihat adiknya itu berdiri di teras samping rumah.
"Ya Gusti!! baru ditinggal satu jam saja sudah ditungguin! gak hilang kok istrimu!" cibir Ninis ketika ia dan Intan sampai di tempat Aji.
Aji hanya berdecak mendengar ucapan kakaknya itu, ia tidak perduli meskipun Ninis mencibirnya karena semua itu hanya candaan.
"buruan masuk, Tan! urus itu bayi gedemu!" ujar Ninis ketika Aji meraih tangan Intan dan menuntun istrinya itu meninggalkan Ninis.
Aji dan Intan tergelak setelah mendengar ucapan Ninis. Mereka berlalu begitu saja dari hadapan Ninis dan mengayun langkah menuju kamarnya.
"Ada apa sih, Gus?" Intan penasaran karena seperti ada sesuatu yang sangat penting.
Pintu kamar itupun terbuka lebar, mereka segera masuk ke dalam kamar, "tidak ada apa-apa sih! aku hanya kangen dengan istriku!" ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Wajah Intan seketika bersemu merah tatkala mendengar gombalan dari sang suami. Semenjak kejadian malam itu atau lebih tepatnya saat malam pertama, sikap Aji semakin hangat dan semakin romantis kepada Intan.
"oh ya, Gus! kita belum buka kado loh!" ujar Intan ketika teringat ada beberapa kado dari orang-orang terdekat Aji yang belum sempat di buka.
"Iya ya, ya sudah kita buka saja, sekalian paking beberapa barang. Dua hari lagi kita harus balik ke Tangerang," ucap Aji seraya melepaskan kedua tangannya dari panggul Intan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷