
Flashback on
Kabar kepulangan ummi Sarah dari rumah sakit telah terdengar di pondok putri. Rahma pun berniat untuk melihat kondisi ummi Sarah mumpung tidak ada tugas apapun hari ini. Ia pergi seorang diri menuju ndalem setelah mengunci gerbang kamar, karena semua santri sedang sekolah.
Suasana di dalam rumah ummi Sarah terasa sunyi sepi. Tak ada seorang pun di dalam rumah tersebut. Akhirnya, Rahma berinisiatif untuk mencari mbok Sumi—seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ummi Sarah.
"Mbok, ummi ada di rumah kah? kok sepi?" tanya Rahma setelah menemui mbok Sumi yang sedang mencuci pakaian di belakang dapur.
"ummi di kamar, Mbak! ada Ning Firda kok di dalam," ucap mbok Sumi tanpa menatap Rahma, beliau sedang mengatur timer untuk bilasan terakhir.
Setelah pamit pergi kepada mbok Sumi, akhirnya Rahma kembali ke dalam rumah ummi Sarah. Ia mengayun langkah menuju kamar wanita yang selama ini mengasuhnya di pesantren. Rahma menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
Rahma mengangkat tangan kanannya dan bersiap untuk mengetuk pintu. Namun, tangannya kembali turun ketika indera pendengaran Rahma mendengar obrolan serius yang terjadi di dalam sana. Ia memutuskan untuk bersandar di tembok kamar seraya mencuri dengar obrolan menarik diantara ummi Sarah dan Firda.
"Firda sebenarnya kasihan Mi melihat Aji, dia belum juga punya anak sampai sekarang." Firda.
"iya Nak, tapi mau bagaimana lagi, memang Allah belum memberikan kepercayaan kepada mereka." ummi Sarah
"kenapa ummi tidak menyarankan Aji agar menikah lagi?" tanya Firda.
"ummi tidak tega, Nak. Aji dan Intan saling mencintai. Ummi bisa melihat jika cinta mereka sangat besar, bagaimana ummi tega untuk menyuruh Aji berpoligami?" ummi Sarah.
"Mi, poligami tidak membuat kita kehilangan suami 'kan Mi? saya dan ummi sama-sama mempunyai madu, tapi kita tetap bahagia dan tidak ada masalah dengan suami," ucap Firda.
Rahma memutar bola matanya setelah mendengar obrolan di dalam kamar ummi Sarah. Ia sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar jawaban yang dikatakan ummi Sarah.
"Sepertinya, menjadi istri kedua tidak terlalu buruk. Apa aku mengajukan diri saja ya agar bisa menjadi istrinya Gus Aji?" gumam Rahma dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Rahma masih diam di tempatnya seraya menyimak obrolan ummi Sarah dan Firda. Ia pun mulai merangkai kata untuk diucapkan kepada ummi Sarah nanti. Pikirannya mulai melayang-layang sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi istrinya Aji.
Lamunan Rahma harus buyar begitu saja ketika mendengar obrolan lagi di dalam kamar. Ia merapikan kerudungnya sebelum masuk ke dalam kamar. Kini, Rahma sudah berdiri di depan pintu dan mulai mengetuknya beberapa kali. Rahma menampilkan senyumnya yang sangat manis ketika melihat Firda membukakan pintu.
"Silahkan masuk!" ucap Firda seraya memberikan jalan kepada Rahma, "Tolong temani Ummi sebentar, Ya! aku mau membawa Dillah ke kamar dulu," ucap Firda sebelum berlalu dari kamar ummi Sarah.
Kini, di dalam kamar tersebut tinggallah ummi Sarah dan Rahma. Gadis tersebut duduk di sisi ranjang seraya menatap ummi Sarah dengan iringan senyum yang sangat manis.
"Bagaimana keadaan ummi?" tanya Rahma dengan suara yang sangat kalem.
"Seperti yang kamu lihat, ummi baik-baik saja," ucap ummi Sarah sambil menatap Rahma dengan intens.
Obrolan pun mulai terdengar di kamar tersebut. Ummi Sarah membahas keadaan pesantren dengan Rahma, karena gadis itu adalah salah satu pengurus di sana. Ummi Sarah tidak berhenti tertawa karena Rahma terus menghiburnya.
"Mi, saya minta maaf karena tadi sudah lancang mendengar obrolan ummi dan ning Firda. Awalnya saya tadi tidak sengaja Mi, tapi lama-lama saya jadi tertarik mendengarnya," ucap Rahma setelah beberapa menit terdiam.
"Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa saya bersedia menjadi istri kedua gus Aji jika memang gus Aji berniat poligami," ucap Rahma dengan kepala yang tertunduk.
"kamu yakin dengan keputusanmu, Rahma?" tanya ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Rahma.
"Saya yakin, Mi. Saya tidak masalah jika harus menjadi istri kedua gus Aji. Saya sudah lelah patah hati. Umur saya pun sudah banyak, Mi," ucap Rahma sambil menatap ummi Sarah dengan sorot penuh harap.
Kalimat yang diucapkan Rahma berhasil membuat ummi Sarah terenyuh. Beliau merasa bersalah karena beberapa kali gagal menjodohkan Rahma. Mungkin tidak ada salahnya jika menjodohkan Rahma dengan Aji, toh Intan tetap menjadi istrinya Aji.
"nanti ummi pikirkan lagi ya karena hanya Aji yang bisa memutuskan semua ini," ucap ummi Sarah seraya menepuk lengan Rahma.
Rahma bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban ummi Sarah, meski belum ada kepastian, setidaknya ia masih bisa berharap. Cita-cita yang sempat terkubur kini muncul kembali, menjadi istri kedua sepertinya tidak terlalu buruk.
__ADS_1
Flashback off.
...🌹🌹🌹🌹...
Suasana di kamar ummi Sarah mendadak sunyi sepi. Aji hanya bergeming setelah mendengarkan kalimat panjang yang di ucapkan ummi Sarah. Ia masih belum percaya jika ibunya itu tega menyuruhnya untuk berpoligami.
"Bagaimana Ji? apa kamu setuju?" ummi Sarah menepuk paha Aji.
Tatapan Aji lurus ke depan. Ia masih memikirkan perintah yang di ucapkan oleh ummi Sarah. Rasanya ia tak sanggup lagi menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.
"Maaf Mi, sampai kapan pun Aji tidak akan menikah lagi!" ucap Aji seraya menatap manik hitam ummi Sarah, "Aji sudah bahagia dengan Intan meskipun kami belum memiliki pelengkap dalam rumah tangga. Ummi jangan mengkhawatirkan tentang momongan ya, Mi!" ujar Aji dengan pandangan yang tak lepas dari ummi Sarah.
"Tapi Ji, ummi dan abah ini sudah semakin tua. Ummi ingin sekali menggendong anakmu, ummi takut jika suatu saat nanti tidak bisa menggendong anakmu karena ummi sakit atau ummi sudah pulang ke Rahmatullah," ucap Ummi Sarah dengan sorot mata penuh harap.
Aji menaikkan satu alisnya setelah mendengar ucapan ummi Sarah, ia heran melihat pemikiran ummi Sarah tiba-tiba goyah dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, "seharusnya ummi tidak bersikap seperti ini, bukankah ummi sudah tau jika kita tidak boleh mengkhawatirkan hal yang belum terjadi?" tanya Aji dengan tatapan yang tak lepas dari ummi Sarah.
Ummi Sarah hanya diam, beliau hanya menatap Aji dengan sorot mata penuh kekecewaan. Helaian napas berat pun terdengar di sana, beban di hati ummi Sarah rasanya semakin banyak setelah mengingat ucapan Rahma tadi siang.
"Sebaiknya ummi istirahat dulu, Aji juga harus istirahat Mi," pamit Aji sebelum berlalu dari hadapan ummi Sarah.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷