Surga Hitam

Surga Hitam
Membuka Kado,


__ADS_3

Sepuluh kotak kado telah dikeluarkan Intan dari almari. Ia membawa kado-kado itu ke atas ranjangnya, di mana Aji sedang duduk bersandar sambil bermain dengan ponselnya.


"Sepertinya ini kado dari pak Farhan ya, Gus!" ucap Intan sambil menunjukkan kotak kado bermotif batik.


Aji meletakkan ponselnya di atas nakas, ia mendekat ke tempat Intan saat ini sambil melihat kotak yang ada di pangkuan Intan, "iya. Ini sepertinya dari Pak Farhan," gumam Aji setelah memeriksa kotak tersebut.


Aji membuka kotak kado dari sahabatnya itu—kotak kecil yang sangat ringan hingga membuat Aji penasaran. Aji membelalakkan matanya ketika melihat dua tiket honeymoon ke Bali.


"Sayang! lihat ini!" ujar Aji setelah mengeluarkan tiket itu dan menunjukkannya ke arah Intan.


"Waw!! tiket honeymoon gratis dari Pak Farhan?" Intan meyakinkan apa yang ia lihat saat ini.


Aji menganggukkan kepalanya, ia terlihat bahagia karena kado dari sahabatnya itu. Ia segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas untuk menghubungi Farhan. Aji sengaja menghubungi Farhan lewat video call.


"Assalamualaikum, Pak Farhan!" sapa Aji setelah melihat wajah Farhan di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam, ada apa Pak Aji?" tanya Farhan.


"tidak ada apa-apa, Pak! saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas kadonya," ucap Aji sambil menatap wajah yang ada di layar ponsel itu.


"waduh pengantin baru ngapain aja kok baru sempat buka kado? buka yang lain ya, Pak?" seloroh Farhan yang membuat Aji tergelak.


"Ya ... Pak Farhan pasti tau lah pengantin baru itu ngapain aja!" jawab Aji.


Aji mengerutkan keningnya ketika melihat ada Kinar berdiri di belakang Farhan, "Pak Farhan lagi jalan sama Kinar ya?" tanya Aji yang membuat Farhan mengalihkan pandangannya, Farhan membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang ada di balik tubuhnya.


Intan segera mendekat ke tempat Aji setelah suaminya menyebut nama Kinar. Kedua mata belo itu melebar sempurna tatkala melihat Kinar melambaikan tangan ke arahnya.

__ADS_1


"Heh Komodo! sejak kapan lu berani jalan sama Pak Farhan? gak takut di intai bang Tommy lu?" ucap Intan setelah mengambil alih ponsel itu dari tangan Aji.


"Yeee! gue udah dapat izin kali dari dua pria posesif!" ujar Kinar, ia menjulurkan lidahnya kepada Intan.


Obrolan pun berlangsung selama lima belas menit. Mereka berempat saling berseloroh lewat panggilan video ini. Panggilan harus berakhir karena Kinar dan Farhan sudah masuk ke salah satu resto yang ada di Mall tersebut.


"Saya gak nyangka loh kalau mereka berdua jalan!" gumam Intan setelah meletakkan ponsel Aji di atas bantal, "tapi Pak Farhan bukan buaya kan, Gus?" tanya Intan seraya menatap Aji.


"Pak Farhan buka tipe pria seperti itu, dia pria setia," ucap Aji.


Intan bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari Aji. Ia tidak rela jika sampai Farhan mempermainkan Kinar, biar pun Kinar seorang gadis yang jauh dari kata baik tapi Kinar tidak pernah bermain-main dengan pria—ia lebih suka menghabiskan beberapa botol minuman dan tawuran.


Sepasang suami-istri itu akhirnya melanjutkan kegiatannya, membuka satu persatu kado yang ada di sana. Banyak barang-barang pecah belah seperti satu set teko beserta gelasnya, piring-piring unik dan lain sebagainya. Kini Intan membuka kado terakhir—kado pemberian Kinar.


Intan membekap mulutnya setelah kotak kado itu terbuka. Ia menatap Aji yang tersenyum penuh arti ke arahnya. Intan mengambil satu persatu pakaian kurang bahan yang menghuni kotak kado itu.


"Pakai dong Yang! ya ... ya ... ya!" ucap Aji sambil menaik turunkan satu alisnya.


"Gak mau ah!! gak mau sekarang!" ujar Intan dengan bibir yang mengerucut setelahnya.


"Yah ... padahal aku udah berharap banget!" sesal aji setelah mendengar penolakan Intan.


"Dipakai kalau honeymoon aja ya, Mas!" ucap Intan, "eh, maksudnya Gus!" Intan menggigit bibir bawahnya setelah salah menyebut panggilan Aji.


Aji mengembangkan senyumnya ketika Intan memanggilnya dengan sebutan 'Mas', "sepertinya kamu harus ganti panggilan deh! aku lebih suka kamu panggil Mas," ucap Aji dengan sorot mata penuh harap ke arah Intan.


"Lingerinya dipakai nanti saja ya, Mas. Kalau sudah pulang ke Tangerang. Ini kan harus di cuci dulu sebelum dipakai," ucap Intan seraya mengusap paha Aji dengan lembut.

__ADS_1


Aji menghela napasnya panjang setelah mendengar ucapan Intan. Sepertinya ia harus bersabar jika ingin melihat istrinya memakai pakaian dinas kurang bahan itu, "jadi pengen cepet pulang ke Tangerang!" gumam Aji seraya merebahkan kepalanya di paha Intan.


"sabar dong! eh tapi jangan tidur seperti ini dulu, Mas! masih berantakan loh ini!" ujar Intan seraya mengangkat kepala Aji agar bangkit dari pangkuannya.


Aji membantu Intan membereskan barang-barang yang ada di atas ranjang. Ia meletakkan barang-barang itu di sudut kamarnya. Rencana paking barang pun harus tertunda karena Aji tiba-tiba mengangkat tubuh sang istri setelah ranjang itu kembali rapi.


"Kita harus sering bikin adonan, agar Saka junior cepat tumbuh di sini," ucap Aji sebelum mendaratkan kecupannya di perut rata Intan.


Intan terkekeh karena tindakan suaminya itu. Ia menggerakkan tubuhnya karena merasa geli setelah merasakan hembusan nafas Aji di perutnya.


Malam yang panas terulang kembali. Pasangan suami-istri itu seakan tak pernah bosan untuk membuat adonan Saka Junior. Rasa trauma yang pernah dirasakan di awal-awal ia melakukan hubungan, kini hilang sudah berganti dengan rasa nikmat yang tak pernah ada habisnya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Aji setelah beberapa puluh menit berjuang untuk melepaskan bibit unggul miliknya. Ia merebahkan diri di sisi Intan dengan nafas yang terengah.


"Sama-sama, Mas!" ucap Intan dengan suara yang sangat lirih. Ia menarik selimut tebal itu dan menelusupkan wajahnya di dada Aji.


Rasa lelah melanda keduanya, tak lama setelah itu mereka terlelap. Alam mimpi yang indah telah menanti kedatangan sepasang suami-istri itu. Suara dengkuran halus mulai terdengar di dalam kamar dengan cahaya lampu temaram.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2