Surga Hitam

Surga Hitam
Pengakuan Aga!


__ADS_3

Suasana asri bisa di rasakan Aji setelah mobilnya berhenti di halaman luas sebuah rumah yang ada di Mojokerto. Aji bergegas turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Aga pun mengekor di belakangnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah itu, rumah yang di kelilingi berbagai macam tanaman.


"Ayo masuk!" ucap Aji setelah membuka kunci rumah tersebut. Ia mempersilahkan Aga untuk masuk terlebih dahulu.


klek .. klek .. klek


Aga menghentikan langkahnya ketika mendengar Aji mengunci pintu rumah itu. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang akan di lakukan Aji di rumah ini, tapi ternyata—


Bugh! sebuah bogem mentah tiba-tiba mendarat di wajah Aga. Hal itu membuat tubuh pria kelahiran Surabaya itu terhuyung ke belakang karena tidak ada persiapan untuk menelak pu-ku-lan dari Aji.


"kenapa kau me-mu-kul-ku, Ji!" teriak Aga sambil mengusap hidungnya yang terasa ngilu.


"kenapa? kamu tidak terima?" Aji berkacak pinggang di hadapan Aga, "ini hanya permulaan, Ga!" ucap Aji dengan wajah yang mulai menampakkan rona merah.


Emosi yang ada di dalam diri Aga pun mulai muncul, jiwa a-na-r-kis yang dulu kembali hadir karena ulah sepupunya sendiri. Ia menatap Aji dengan matanya yang merah.


"Katakan! apa masalahmu?" ujar Aga dengan tatapan nyalangnya.


Aji mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia sudah muak melihat wajah yang ada di hadapannya itu, "sekarang ceritakan kepadaku, apa saja yang sudah kamu lakukan kepada Tata?" Aji melangkah satu langkah.


Aga tertegun setelah mendapat pertanyaan itu dari Aji. Tangannya yang sejak tadi terkepal, kini perlahan terbuka karena nama keramat yang di sebut oleh Aji, "bukankah dulu sudah pernah aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" Aga masih menutupi semua kebusukannya.


"Cih! ternyata mulutmu perlu di kasih pelajaran agar bisa berkata jujur!" Aji semakin emosi karena Aga masih saja berbelit, tanpa ragu Aji memberikan


ten-da-nga-n ke lutut Aga, ten-da-nga-n yang berhasil membuat Aga ambruk di lantai yang kotor itu.


"Kamu ingin jujur atau terus menutupi kebusukanmu, Ga!" Aji berjongkok di hadapan Aga yang sedang duduk dengan kaki berselonjor.


"aku sudah jujur, Ji!" ucap Aga dengan tatapan tajamnya, "jangan memaksaku menjadi a-nar-kis karena desakanmu itu!" Aga mulai mengintimidasi Aji.

__ADS_1


"Aku tidak pernah takut melawan Ba-ji-ngan sepertimu!" Aji mengeraskan rahangnya.


"ku-rang a-ja-r!" Aga benar-benar emosi karena Aji terus menyudutkannya, ia mendorong tubuh Aji hingga terhuyung ke belakang.


Ba-ku ha-n-tam pun terjadi di ruang tamu itu, keduanya sama-sama kuat karena Aji sendiri memiliki bekal bela diri yang mumpuni. Aga sempat kewalahan melawan Aji yang semakin membabi buta.


"Aaaahkh!" teriak Aga ketika Aji berhasil mengunci lengannya dengan teknik kun-cian pen-cak silat.


Hanya membutuhkan sekali tarikan saja, tangan Aga bisa di pastikan patah. Aji sengaja menahannya karena ingin memberikan kesempatan kepada Aga agar mengakui semua kesalahannya.


"hari ini tanganmu di takdirkan patah di tanganku, Ga! kalau tidak percaya bergeraklah sedikit saja, maka tanganmu benar-benar patah!" ujar Aji dengan nafas yang tersengal.


"apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku!" teriak Aga sambil melirik Aji yang ada di balik tubuhnya.


"katakan padaku! apa yang sudah kamu lakukan kepada Tata di gudang yang ada di dekat dapur?" tanya Aji dengan suara yang serak, "jawab!" teriak Aji karena Aga hanya diam saja.


"Aku sudah menemukan keberadaan Tata! haruskah aku bawa dia ke hadapanmu, agar semua orang tau bahwa kamu adalah pria bi-a-dab!" Aji semakin mencengkram lengan Aga karena sepupunya itu tak kunjung mengakui kesalahannya.


"Aku tidak melakukan apapun! mungkin cerita yang kamu dengar adalah bohong! dia ingin menjebakku!" Aga masih saja berkilah.


Aji semakin geram di buatnya, tanpa banyak bicara Aji melanjutkan kuncian di pergelangan tangan Aga. Emosinya sudah tidak bisa di kontrol lagi ketika mendengar pengakuan dari Aga. Tanpa ragu, Aji tega me-ma-tah-kan tangan Aga.


"Aaaakh ...." teriak Aga setelah merasakan rasa sakit yang luar biasa di tangannya. Ia tersungkur di lantai setelah Aji melepaskan tubuhnya.


"Pria be-jat seperti mu pantas mendapatkan lebih dari ini!" Aji sudah mengangkat kakinya, ia bersiap untuk mematahkan kaki Aga sekaligus.


Aga meringis kesakitan, tanpa sadar air matanya mulai berjatuhan karena rasa sakit yang menyerang tangannya. Ia tak bisa lagi bangun dari tempatnya saat ini.


"ampun, Ji. Ampun!" teriak Aga dengan mata yang terpejam karena merasakan sakit yang teramat sakit.

__ADS_1


Akhirnya, Aga mengakui semua kesalahannya di hadapan Aji. Ia menceritakan semua yang sudah ia perbuat kepada gadis bernama Tata itu. Tubuh Aji lunglai begitu saja setelah mendengar pengakuan dari Aga. Ia ambruk di lantai karena kakinya seperti kehilangan tenaga, ia tak sanggup menopang semua beban tubuhnya setelah mendengar langsung semua pengakuan Aga.


"B-r-e-n-g-s-ek!" Aji melayangkan pu-ku-lan di wajah Aga hingga membuat ujung bibir Aga mengeluarkan da-rah segar.


"Kenapa harus Tata yang menjadi korbanmu! asal kamu tahu, dia adalah wanita yang paling aku cintai!" ujar Aji sambil menatap Aga dengan mata yang berembun.


Aga mengeluarkan air matanya walau dengan mata yang terpejam. Selama ini ia sendiri selalu di hantui rasa bersalahnya kepada Tata. Bukankah penyesalan itu selalu datang di akhir dan membuat hidup tidak tenang? mungkin ini lah yang di rasakan Aga setelah tobat dan menata hidupnya.


Aji kembali melayangkan pu-ku-lan di wajah Aga hingga babak belur, "rasa sakit yang kamu alami saat ini tidak sebanding dengan yang di rasakan Tata!" ucap Aji setelah puas menumpahkan emosi yang tersimpan di dalam dirinya.


"Jika memang semua ini adalah salah satu jalan untuk menebus dosaku kepada Tata, maka aku terima, Ji! sekarang bawa aku ke rumah sakit, Ji. Aku janji tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang apa yang terjadi di antara kita hari ini." ucap Aga dengan sorot mata penuh harap.


Aji beranjak dari tempanya saat ini, ia membiarkan Aga terbaring lemah di atas lantai yang kotor itu. Aji membuka salah satu jendela yang ada di ruang tamu, untuk bisa merasakan udara segar yang ada di Mojokerto.


Rasa menyesal pasti ada di dalam hati Aji, karena selama ini ia sendiri sangat menghindari kekerasan meskipun ia bisa bela diri. Aji menatap nanar ke halaman rumah yang berhiaskan tanaman itu, sekilas ia menatap tangannya yang baru saja ia pakai untuk melukai sepupunya sendiri.


"Ya Allah! hamba tau semua ini salah. Tapi hamba tidak bisa menahan emosi yang menggebu di dalam jiwa penuh dosa ini," gumam Aji dalam hatinya, ia menundukkan kepalanya dengan segenap rasa sesal dalam jiwa.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2