Surga Hitam

Surga Hitam
Saya gugup, Gus!


__ADS_3

Intan mengerjapkan matanya pelan tatkala merasakan udara dingin menerpa tubuhnya. Perlahan, kedua mata Intan mulai menangkap gedung swalayan yang masih terang benderang di hadapannya. Setelah jiwanya terkumpul sempurna, Intan menegakkan tubuhnya, ia menatap sosok yang sedang terlelap di kursi kemudi.


"Baru kali ini aku melihat Gus saat tidur," gumam Intan dalam hatinya, "ini kan jaket Gus Aji, kenapa ada di bawah kakiku, ya?" lanjutnya setelah mengambil jaket yang jatuh di kakinya.


Intan kembali menatap Aji, ia hanya ingin memastikan jika Aji benar-benar tertidur pulas. Setelah situasi aman, Intan menenggelamkan wajahnya di jaket itu, ia menghirup aroma maskulin yang begitu memabukkan jiwanya.


"Wangi ya!"


Seketika Intan melemparkan jaket itu ke arah Aji karena terkejut setelah mendengar suara itu. Rasanya, Intan ingin sekali kabur dari mobil ini karena tak kuasa menahan malu yang begitu dahsyat.


Aji tergelak tatkala melihat wajah merah padam Intan meskipun keadaan di dalam mobil gelap gulita. Ia tidak tahan ketika melihat Intan mengendus-endus aroma jaketnya, "kalau kamu suka, ambil saja jaketnya!" ucap Aji seraya menegakkan tubuhnya, tak lupa ia mengubah posisi kursi seperti semula.


Mereka berdua saat ini sedang beristirahat di rest area yang ada di jalan Tol Nganjuk. Aji memutuskan untuk istirahat di sana karena rasa kantuk hebat mulai menyerangnya. Intan sendiri sudah tertidur sejak mobil yang di kendarai Aji sampai di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Aji lah yang menutupi tubuh Intan dengan jaketnya, agar gadis pujaannya itu tidak merasakan udara dingin, karena Aji membuka kaca jendela mobil saat tidur.


"Kenapa wajahmu merah begitu?" Aji semakin menggoda Intan, ia gemas sekali ketika melihat wajah yang hampir mirip dengan udang rebus itu.


"Apa sih, Gus!!" Intan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia seakan tak mempunyai muka lagi setelah aksinya ketahuan Aji.


Intan keluar dari mobil, di tatapnya langit yang masih gelap itu. Ia bersandar di pintu mobil seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Intan mulai merasakan rasa asam di indera pengecapnya, ia butuh sebatang rokok setelah bangun tidur seperti ini.


"Tan, ayo bersiap! Ini sudah masuk waktu subuh!" ucap Aji yang ada di balik tubuh Intan.


Intan menatap Aji sekilas, lalu ia membuka pintu belakang mobil untuk mengambil tas besarnya, di mana ada pakaian yang di belikan Aji beberapa waktu yang lalu yang tersimpan di tas tersebut. Ia harus memakai gamis itu karena setelah ini mereka akan sampai di pesantren.


"Saya agak lama ya Gus di toiletnya," pamit Intan sebelum mereka berpisah di depan toilet.


"Santai saja, kamu mau merokok dulu 'kan?" Aji mencoba menerka apa yang akan di lakukan Intan setelah ini.


Intan hanya tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan Aji. Ya, memang lah benar, ia akan merokok di toilet sambil membuang hajat seperti biasanya.

__ADS_1


"Kenapa gue jadi gugup ya," gumam Intan setelah duduk di atas closet, tak lupa ia menyulut sebatang rokok untuk menghilangkan rasa asam bercampur pahit yang terasa di mulutnya.


Setelah berada di kamar mandi selama tiga puluh menit, akhirnya Intan keluar dari sana. Ia sudah mandi dan memakai gamis ungu muda pemberian dari Aji. Gamis simpel yang terlihat pas di tubuhnya. Intan bergegas keluar dari toilet wanita karena ia harus menunaikan ibadah dua rakaat sebelum melanjutkan perjalanan.


"loh! Gus nunggu saya?" tanya Intan setelah melihat Aji duduk bersandar di samping toilet.


"Iya, dua puluh menit," ucap Aji seraya menatap Intan, "ayo jamaah subuh!" lanjut Aji saat beranjak dari tempat duduknya


Hati Intan bergetar ketika Aji mengajaknya sholat berjamaah, rasanya ia ingin menangis karena terharu. Akhirnya, impiannya yang dulu, sekarang menjadi kenyataan, menjadi makmum Ajisaka.


***


Warna jingga telah terlihat di cakrawala timur, tanda sang surya mulai bangun dari tidur nyenyaknya. Suara kicauan burung mulai terdengar bersahutan, bergembira menyambut hadirnya sang surya.


Seperti biasa, setiap pagi Rahma selalu membersihkan halaman rumah Kyai Yusuf. Mulai dari depan hingga halaman samping, semua ia kerjakan tanpa protes sedikitpun.


"Ya Allah, suami idamanku pulang," gumam Rahma seraya merapikan kerudungnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya ia pakai untuk memegangi sapu lidi.


Bunga-bunga cinta yang sempat bermekar indah, perlahan harus jatuh berguguran ketika Rahma melihat seorang wanita turun dari mobil Aji. Sapu lidi itu pun terlepas begitu saja tatkala Rahma melihat Aji tersenyum penuh arti kepada gadis yang memakai gamis ungu muda itu.


"Apa wanita itu calon istrinya Gus Aji?" gumam Rahma setelah melihat Aji masuk ke rumahnya lewat pintu depan, bukan pintu samping seperti biasanya.


Air mata Rahma perlahan turun membasahi pipinya. Ia sedang patah hati karena harapan menjadi istri Aji rupanya harus terkubur dalam-dalam, apalagi ketika melihat Aji dan wanita itu saling pandang dengan senyum penuh makna.


Tok ... tok ... tok ....


Beberapa kali Aji mengetuk pintu rumahnya. ia bisa saja masuk lewat pintu samping atau pintu belakang, tapi ia tidak bisa melakukan semua itu karena ada Intan bersamanya. Mereka berdua menunggu pintu itu hingga terbuka selama tiga menit.


"Assalamualaikum, Ning," ucap Aji setelah melihat Ninis yang membukakan pintu untuknya..

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Ninis seraya menatap Aji, "Masyaallah Tata! eh—Intan!" teriak Ninis setelah melihat sosok yang berdiri di samping Aji.


Tanpa menunggu lama, mereka berdua saling berpelukan. Melepas rindu yang sudah lama membelenggu jiwa. Intan terisak dalam pelukan hangat Ninis, wanita yang selama ini di anggapnya sebagai seorang kakak.


"Bagaimana kabarmu? jangan menangis dong!" tanya Ninis seraya mengusap pipi Intan yang basah.


Intan hanya menggelengkan kepalanya, ia tak sanggup untuk mengatakan apapun lagi di hadapan Ninis. Hanya air mata yang mewakili semua perasaannya saat ini.


"Ayo masuk! aku sampai lupa telah membiarkan kalian berdiri di sini." Ninis menarik tangan Intan agar gadis itu mengikuti langkahnya.


"Silahkan duduk dulu!" ujar Ninis setelah sampai di ruang tamu, "aku mau menemui Ummi sama Abah di belakang dulu," ucap Ninis sebelum berlalu pergi.


Intan menghela napasnya yang berat ketika Ninis berlalu dari ruang tamu. Ia mengedarkan pandangannya untuk mengamati ruangan yang dulu selalu ia bersihkan. Air matanya kembali berjatuhan tatkala mengingat saat-saat membahagiakan di rumah ini.


"Kenapa hanya diam?" tanya Aji yang sejak tadi mengamati Intan.


"Saya gugup, Gus. Saya takut bertemu Ummi sama Abah," ucap Intan seraya menatap Aji dengan mata yang masih berembun.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2