
"Aduh! lo mau ketemu Mas Ustad pakai baju itu? oh my god, Intan!" teriak Kinar setelah melihat Intan memakai tunik pemberian Aji, "ini bukan style lo! meskipun pakai hijab gak gitu juga kale!" cerocos Kinar yang sedang kesal karena melihat Intan menjadi aneh.
Intan menghempaskan diri di atas ranjangnya, ia lelah karena semua baju pemberian Aji tak ada yang cocok untuknya, tentu saja itu versi penilaian dari Kinar.
"Terus gue harus pakai baju apa? jam satu gue harus udah siap ketemu dia," tanya Intan tanpa menatap Kinar. Ia sedang memijat pelipisnya karena pusing mendengar suara Kinar yang menggelegar.
"Oke, mending sekarang lo ambil jaket! kita beli baju yang cocok untuk style lo!" Kinar menarik tangan Intan agar segera bangkit dari tempatnya.
"Baju-baju yang di kirim Mas Ustad lo itu cocoknya di pakai malam, kalau siang pakai baju kek begitu ya enggak banget lah kalau menurut gue!" gerutu Kinar ketika mereka keluar dari kontrakan.
Mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan yang dekat dengan kontrakan Intan. Laju motor yang di kendarai Kinar melesat ke pusat perbelanjaan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Kemampuan Kinar naik motor memang tidak bisa di ragukan lagi.
"Rasanya gue mau mati kalau lu yang bawa motor!" sungut Intan setelah sampai di tempat parkir salah satu toko pakaian yang cukup terkenal di Ciputat.
"jangan banyak protes! lu mau gue naik motor kek siput! bisa terlambat lu nanti!" Kinar berdecak setelah mendengar protes dari sahabatnya itu.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam toko tersebut untuk mencari pakaian yang cocok untuk Intan. Dalam hal ini, Kinar lah yang antusias memilihkan pakaian yang sesuai dengan Intan.
"eh, ini gimana?" tanya Intan sambil menunjukkan blouse abu-abu kepada Kinar.
"No! lu gak cocok pakai itu!" Kinar kembali memilih atasan yang pas untuk Intan setelah pandangannya menangkap pakaian pilihan Intan.
Intan menghela napasnya, karena beberapa kali pilihannya tidak ada yang cocok di mata Kinar. Pada akhirnya ia memilih pasrah saja ketika Kinar memilihkan kaos oversize lengan panjang berwarna mustard. Intan hanya duduk sambil menatap Kinar yang sangat bersemangat memilihkan outfit untuknya.
"Nih, cobain celananya! ini model baru yang cocok buat lu!" Kinar memberikan celana bahan corduroy warna milo kepada Intan.
"Lu yakin gue pakai celana seperti ini?" Intan menatap Kinar untuk memastikan pilihannya itu.
Kinar membalikkan tubuh Intan lalu ia mendorongnya ke kamar pass untuk mencoba celana yang di pilihnya, "buruan!" ucap Kinar setelah beberapa saat menunggu di depan pintu kamar pass.
Kedua sudut bibir Kinar tertarik ke dalam ketika pintu kamar pass terbuka lebar. Ia menatap Intan dari atas sampai bawah, pilihannya kali ini benar-benar tepat.
"nah! gini kan lebih keren!" seru Kinar seraya berkacak pinggang melihat Intan yang sedang memutar tubuhnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan celana dan atasan yang serasi, kini Kinar mengajak Intan untuk mencari kerudung yang senada. Lagi dan lagi Intan hanya bisa pasrah ketika Kinar menjatuhkan pilihannya pada kerudung pasmina warna cream, kerudung itu senada dengan celananya.
***
Intan tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Ia sangat puas dengan style yang di pilihkan Kinar untuknya. Intan tidak harus merubah gaya berpakaiannya meskipun harus memakai kerudung dan pakaian yang tertutup.
"Makasih banget ya, lu dah bantuin gue! sayang banget sama lu dah!" Intan merengkuh tubuh sahabatnya itu.
"Hillih! baru percaya 'kan lu, kalau gue tuh sebenarnya stylish yang handal!" Kinar menatap sinis Intan, ia berdecak karena melihat wajah imut yang di tampilkan Intan.
Semua persiapan telah selesai. Penampilan Intan siang ini terlihat sempurna dengan make-up tipis yang menghiasi wajahnya. Tak lupa Intan juga memakai sepatu yang berwarna senada dengan kerudungnya. Gadis bertato itu telah siap untuk bertemu dengan Mas Ustad idamannya.
"Tan, kite jemput si Mila dulu ye! gue gak mau ya jadi obat nyamuk lu!" ujar Kinar setelah Intan naik ke jok belakang motornya.
Memanglah benar, Intan tidak mau berangkat sendirian. Sejak tadi malam ia merayu Kinar agar bersedia menemaninya bertemu dengan Aji. Ia masih gugup jika bertemu Aji seorang diri.
Kinar melajukan motornya menuju lapak jualan milik Mila yang tak jauh dari studio tato milik Pak Gatot. Kedua gadis itu terlihat bahagia walaupun sedang merasakan keangkuhan sang raja sinar. Tawa renyah keduanya seakan menjadi musik pengiring di atas motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
"Alah, dia kan punya pegawai, jadi gak pakai tutup!" ucap Kinar seraya melepas helmnya.
"Halo guys!" teriak Kinar dan Intan setelah masuk ke dalam lapak untuk bertemu Mila.
"Woow!" Mila menatap heran gadis berkerudung yang ada di samping Kinar, "Lu kesambet setan mana sih, Tan?" tanya Mila dengan ekspresi wajah tak percaya ketika melihat penampilan Intan yang sangat berbeda dari biasanya.
"Noh, setan Casablanca nyangkut di kepala Intan!" kelakar Kinar setelah duduk di samping Mila.
Ketiga gadis itu pun tertawa lepas setelah mendengar Kinar berkelakar. Mila tidak pernah menyangka jika Intan bisa berubah menjadi gadis manis jika menutup tubuhnya seperti saat ini.
"Ya udah, gue ambil tas dulu, tungguin di depan sono!" ucap Mila setelah Kinar merayu nya agar mau ikut ke Cafe Joox.
Intan mengajak Kinar keluar seperti yang di perintahkan Mila. Kedua gadis itu asyik berselfi di depan lapak Mila yang ada di teras, "pinjem kacamata lu!" ucap Intan seraya menyodorkan tangannya kepada Kinar.
"Eh buset dah! lu keliatan keren banget!" ujar Kinar setelah melihat hasil foto Intan di galeri ponselnya, "lu gak pengen kirim foto ini ke Mas Ustad lu itu?" tanya Kinar.
__ADS_1
"ogah! entar dia gak penasaran lagi sama gue!" ucap Intan tanpa menatap Kinar, ia sendiri sedang sibuk melihat hasil jepretan sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Mila keluar dari lapaknya dengan menenteng helm di tangan. Ia terlihat lebih segar setelah memoles wajahnya dengan make-up tipis.
"Eh, jadi kita boncengan tiga nih?" tanya Intan setelah melihat Kinar duduk di atas motornya.
"Iya lah! gue tahu jalan tikus biar gak kena tilang!" ujar Kinar dengan bangga.
Karena tidak ada pilihan lagi, akhirnya Intan mengikuti kemauan Kinar. Ia duduk di tengah, di apit oleh Kinar dan Mila. Gelak tawa pun terus terdengar dari mulut ketiga gadis itu ketika motor yang di kendarai Kinar melewati polis tidur, otomatis kepala mereka yang berhelm saling berbenturan.
"Ya ampun! kita dari tadi di lihatin orang mulu nih!" teriak Intan di sela-sela tawanya.
"gue gak perduli! yang penting gue happy!" Kinar berteriak tanpa tahu malu.
Kinar terus melajukan motornya melewati gang-gang sempit, pinggiran sungai dan jalan tikus yang lainnya. Ia sangat hafal dengan daerah Ciputat meskipun di lubang semut sekalipun.
"Gue sangat bersyukur punya sahabat seperti lu yang selalu ada di samping gue, Kin," gumam Intan dalam hatinya ketika melihat wajah Kinar lewat kaca spion.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Nih aku kasih visualnya mbak Intan sebelum ketemu Mas Aji👇
sumber: Instagram
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1