
Angin malam perlahan mulai menerpa seorang wanita yang sedang duduk di gazebo. Tangisnya terdengar pilu dan menyayat hati, siapa lagi wanita itu kalau bukan Intan. Suasana malam yang mencengkam tak sedikitpun membuatnya takut berada di tempat ini seorang diri. Tempat ini berada di samping jalan menuju pondok putra.
Kepulan asap rokok mengudara di sana. Entah berapa batang rokok yang sudah dihabiskan Intan saat ini. Ia benar-benar frustasi karena masalah yang sudah menghantamnya. Ia seakan tak perduli lagi dengan kesehatan tubuhnya.
Ya, sebelum keluar dari kamar, Intan mengambil sebungkus rokok dan korek yang tersimpan di dalam tasnya. Intan membeli rokok itu sebelum makan di kantin rumah sakit tadi sore. Masalah yang besar telah membuatnya hilang kendali, lagi dan lagi ia terjebak dalam sebungkus rokok untuk menghilangkan rasa frustasi yang menyerang jiwanya.
"Kenapa? kenapa harus aku yang menerim semua ini? belum cukupkah ujian yang menimpaku selama ini?" Intan meracau dengan kepala yang menengadah.
"ini semua gara-gara Firda! mulutnya harus ditampar!" cerocos Intan setelah mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Intan semakin tergugu ketika mengingat sikap sang suami. Air mata itu seakan tak ada habisnya—terus mengucur deras seiring dengan bayang-bayang menyakitkan.
Satu bungkus rokok hampir habis dalam waktu beberapa jam saja. Intan masih terisak di gazebo belakang hingga dini hari, mungkin saat ini penunjuk waktu berada di angka satu tapi Intan enggan untuk kembali ke kamarnya. Ia memutuskan untuk menguras air mata dan perasaannya di tempat ini.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Waktu dini hari adalah waktu yang nyaman untuk berkelana di alam mimpi. Semua santri yang ada di pondok putra baru saja masuk ke dalam kamar masing-masing setelah mengikuti acara rutin. Seperti biasa, para pengurus pondok akan berkeliling di sekitar pondok untuk melihat situasi pondok benar-benar aman dari bahaya.
Berbekal senter kecil di tangan, Aga mulai berjalan ke arah barat. Ia harus memastikan semua pintu sudah terkunci, termasuk pintu yang terhubung ke ndalem. Setiap malam ia bertugas untuk memastikan tidak ada penyusup yang masuk. Pandangannya fokus ke arah sinar senter yang ia bawa berkeliling.
Langkah kaki Aga harus terhenti ketika melewati pintu menuju ndalem. Ia mendengar suara wanita yang sedang menangis di balik tembok yang menjulang tinggi ini. Tubuhnya tiba-tiba meremang karena membayangkan sosok hantu yang sangat fenomenal di Indonesia—kuntilanak.
"Masa iya ada kuntilanak nangis di situ. Aku harus memastikan!" gumam Aga setelah beberapa menit mendengarkan suara isak tangis yang bercampur dengan rancauan.
Pelan-pelan Aga mulai membuka pintu tersebut. Ia melongakkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat situasi yang ada disana. Suara tangis itu semakin terdengar jelas. Namun, Aga belum menemukan di mana sumber suara tersebut.
Rasa penasaran membuat Aga nekat masuk ke arah ndalem. Ia hanya ingin memastikan tidak ada apapun di ndalem. Aga mulai melangkah pelan, tapi tak lama setelah itu, Aga harus menghentikan langkahnya karena melihat warna merah api di gazebo.
"Itu seperti rokok! tapi kenapa suaranya seperti seorang wanita? siapa dia?" gumam Aga sebelum melangkah lagi.
__ADS_1
Semakin dekat, Aga semakin jelas mendengar suara tangisan itu. Ia mulai mengarahkan senternya ke arah gazebo yang gelap gulita itu. Aga tertegun ketika melihat sosok wanita tanpa jilbab ada di sana sambil menikmati rokok.
"Siapa kamu?" teriak Aga ketika langkahnya sampai di samping Gazebo.
Aga tertegun setelah wanita itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Aga mundur satu langkah ketika melihat tatapan mata yang di penuhi kilat amarah.
"Ta ... tata ...emm In ... Intan!" Aga terbata-bata tatkala mengetahui siapa wanita sedang menangis pilu di dalam gazebo.
Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu, baru kali ini Aga dan Intan bertemu empat mata. Intan membuang rokoknya begitu saja ketika melihat kehadiran pria yang sudah menghancurkan masa depannya.
"Kenapa kamu masih diluar di jam-jam seperti ini? Masuklah, ini sudah dini hari!" ujar Aga sambil menatap Intan yang mulai turun dari gazebo.
Aga melangkah mundur ketika melihat Intan mulai berjalan ke arahnya. Ia penasaran apa yang akan dilakukan Intan setelah ini. Gadis yang dulu seorang pemalu kini telah berubah menjadi wanita yang sangat berbeda. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Aga ketika dosa besarnya terhadap Intan mulai muncul dalam memori otaknya.
"Heh pria b-r-e-n-g-s-e-k! beraninya kau menampakkan diri di hadapanku!" ujar Intan dengan mata yang melebar sempurna. Kilatan amarah yang besar terlihat jelas dari sorot mata itu.
Intan menghentikan tepat dihadapannya. Amarah yang ada di hati semakin mendidih kala melihat wajah Aga dari dekat—wajah yang dulu pernah menampakkan seringai jahat dan saat menghancurkannya tanpa sisa.
"untuk apa kamu perduli dengan keadaanku saat ini?" tanya Intan dengan rahang yang terlihat mengeras, "semua ini gara-gara kamu pria b-r-e-n-g-s-e-k!!" teriak Intan sebelum mendaratkan bogem mentah di wajah Aga.
Dendam dalam hati yang sudah lama terpendam, kini akhirnya terlampiaskan. Intan menyerang Aga tanpa ampun sambil mengeluarkan semua beban yang ada di dalam hatinya. Intan terus menyerang wajah itu karena Aga sendiri hanya diam dan menerima semua yang dilakukan Intan saat ini.
Apa yang dirasakan Aga saat ini tidak sebanding dengan yang dirasakan oleh Intan. Ia pun ikhlas jika Intan menghabisinya malam ini, mungkin balasan ini belum ada apa-apanya dengan balasan dari Sang Pencipta nanti.
"Suamiku akan dinikahkan dengan Rahma! kamu tahu karena apa?" tanya Intan setelah berhenti menghajar Aga, ia mencengkram kerah kemeja Aga dengan erat, "akan aku beri tahu alasannya!" ucap. Intan dengan mata yang melebar sempurna.
"suamiku akan dinikahkan dengan Rahma karena sampai saat ini aku belum bisa hamil!! rahimku bermasalah gara-gara aku sering merokok dan minum saat aku di Tanggerang!! semua ini terjadi gara-gara kamu!" teriak Intan dengan derai air mata yang tak henti menetes.
"Coba saja dulu kamu tidak melakukan perbuatan keji padaku! aku tidak akan kabur ke Tangerang, aku tidak akan menjadi wanita yang rusak!! rahimku pasti sehat dan aku bisa melahirkan keturunan keluarga ini!"
__ADS_1
"Pria sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini!! hidupku sudah hancur gara-gara perbuatan be-jatmu!! Intan masih mencengkram kerah kemeja Aga.
Semua yang diucapkan Intan berhasil membuat Aga syok. Ia tidak pernah menyangka jika Intan mengalami semua itu karena ulahnya di masa lalu. Ia semakin merasa bersalah dengan gadis yang ada dihadapannya itu.
"Maaf ... tolong maafkan aku!" ucap Aga dengan nada penuh sesal.
"apakah dengan memaafkanmu kebahagiaanku akan kembali heh?" tanya Intan sambil melebarkan matanya sempurna.
Sekali lagi, pukulan keras mendarat di pipi kanan Aga hingga membuat tubuh tegap itu tersungkur di tanah. Ia mengusap pipinya yang ngilu karena tangan halus Intan.
"enyahlah dari hadapanku, pria b-r-e-n-g-s-e-k!!" teriak Intan seraya menunjuk pintu keluar menuju pondok putra.
Aga segera bangkit dari tempatnya, ia berdiri dihadapan Intan sambil mengusap rahangnya yang ngilu, "aku tahu, mungkin permintaan maaf ku tidak bisa mengobati lukamu, tapi aku benar-benar menyesal atas semua perbuatan yang aku lakukan dulu, aku benar-benar minta maaf," ucap Aga dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Tak ada jawaban apapun dari Intan, wanita itu hanya diam dengan tatapan yang kosong. Nafasnya terengah-engah karena lelah. Melihat Intan hanya diam saja, Aga segera pergi dari hadapannya, ia tidak mau jika sampai kemarahan Intan semakin menjadi.
Intan melangkah mundur hingga tubuhnya bersandar di gazebo. Intan masih diam dengan tatapan lurus ke depan. Ia pun akhirnya merebahkan diri di gazebo tersebut, ia meringkuk karena merasakan dinginnya angin malam yang terus menyerangnya. Semua amarah yang ada di hatinya telah terlampiaskan ke sasaran yang tepat.
"Ya Allah ... hamba lelah dengan semua ini," gumam Intan di sela-sela tangisnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Nih aku punya rekomendasi untuk kalian yang suka cerita mafia. bukan mafia bucin ya!! aku bisikin kalau disana bikin panas dingin😂
__ADS_1