Surga Hitam

Surga Hitam
Sambutan hangat,


__ADS_3

Perjalanan panjang sebentar lagi akan dilalui Aji dan Intan. Mobil putih yang membawa mereka pergi ke Tangerang sudah berada di gerbang tol Jombang. Binar bahagia terlukis jelas di wajah keduanya, asupan gizi yang tersalurkan tadi malam berhasil menjadi mood booster untuk Aji.


"kamu sudah memberi kabar Papah 'kan kalau kita mau kesana?" tanya Aji setelah mobil yang ia kendarai melesat jauh dari gerbang tol.


"udah dong! dari kemarin papah sudah saya telfon," jawab Intan seraya menatap Aji.


Suasana kembali sepi, keduanya hanya diam dengan pandangan fokus ke depan. Lagu-lagu pop manca negara terdengar di dalam mobil tersebut untuk mengusir rasa sepi yang sempat hadir di antara keduanya.


Matahari terus bergerak ke arah barat. Beberapa jam lagi siluet jingga terukir di cakrawala barat untuk menemani sang surya pulang ke peraduannya. Jalanan yang padat mulai dilalui Aji setelah keluar dari gerbang tol. Kini, mobil yang dikendarai Aji telah sampai di kota Tangerang. Butuh waktu satu jam mereka akan sampai di tempat tinggal Pak Gatot.


Senyum Intan terus mengembang tatkala mobil yang dikendarai suaminya itu memasuki kota Ciputat. Kota penuh kenangan yang mempertemukan dirinya dengan Aji setelah lama terpisah.


Kenangan-kenangan indah terus berkeliaran di kepala Intan. Jalanan yang dulu menjadi tempatnya mengadu nasib, kini terlihat jauh lebih terawat setelah berganti kepala daerah. Pedagang kaki lima pun berjajar rapi tanpa melebar ke sisi jalan.


"Banyak perubahan ya, Mas!" gumam Intan dengan pandangan yang tak beralih dari ruko-ruko yang berjajar rapi disepanjang jalan ciputat.


"iya, sekarang lebih rapi," Aji pun ikut mengamati apa yang ada di sekitarnya.


Mobil Avanza putih itu terus membelah jalanan Ciputat yang padat. Tepat pukul tujuh malam, akhirnya mobil tersebut berhenti di halaman rumah Pak Gatot. Intan segera turun dari mobil karena tidak sabar ingin bertemu dengan Pak Gatot dan keluarganya.


"Assalamualaikum ...." ucap Intan setelah pintu rumah tersebut terbuka sebelum dirinya sampai disana.


"Waalaikumsalam ...." jawab pak Gatot dengan diiringi senyum tipis.


Intan segera menghambur ke pelukan Pak Gatot, ia melepas rindu kepada ayah angkatnya itu, "papah sehat?" tanya Intan setelah mengurai tubuhnya, mata belo itu mulai berembun karena rasa haru mulai meluap dari hatinya.


"Papah sehat seperti yang kamu lihat, Nak!" ucap Pak Gatot. Lalu beliau mengalihkan pandangan ke arah menantunya.


Aji mulai melangkah, ia menjabat tangan Pak Gatot dan tak lupa ia pun mengecup punggung tangan tersebut. Aji dan Intan akhirnya mengekor di belakang Pak Gatot untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mamah kemana, Pah?" tanya Intan setelah tak menemukan batang hidung Bu Leni.


"Mamah mu ada di dapur, Mamah dan Kinar sibuk berkutat di dapur tuh," jawab Pak Gatot setelah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, "istirahat dulu, Nak!" ujar Pak Gatot seraya menatap Aji.


Intan tak menghiraukan ucapan pak Gatot, ia melangkah masuk untuk mencari Bu Leni dan Kinar. Rasa rindu telah mengalahkan rasa lelahnya. Ia mempercepat langkahnya setelah mendengar suara Bu Leni dan Kinar.


"Mamah!!" teriak Intan setelah sampai di dapur. Suaranya berhasil membuat Kinar dan bu Leni terkejut bukan main.


"Heh lu tuh ya! dateng-dateng gak salam malah ngagetin! dasar Komodo!" cecar Kinar seraya berkacak pinggang.


"gue tadi udah salam di depan, kalau gak percaya tanya Papah sono!" jawab Intan.


"udah ... udah ... kalian jangan bertengkar!" Bu Leni melerai kedua putrinya, "bagaimana kabarmu, Tan?" tanya Bu Leni seraya mengalihkan pandangan ke arah Intan.


"Seperti yang mamah lihat, Intan sehat lahir batin, Mah," jawab Intan dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Mereka bertiga berbincang-bincang di dapur sambil menyiapkan makanan di atas piring. Suara Kinar dan Intan terdengar nyaring di sana, kedua wanita itu masih tetap sama seperti dulu jika sudah bertemu.


"tadi diajak bang Tommy sama Papahnya keluar, gue gak tau mereka kemana, eh mungkin bang Farhan nganter bang Tommy ke bengkel kali ambil mobil," ucap Kinar tanpa menatap Intan. Ia sibuk mengiris timun dan kol untuk dijadikan lalapan.


"istrinya bang Tommy kemana?" tanya Intan lagi.


"oh Kak Rena masih kerja, dia lembur katanya," jawab Kinar, "eh, lagian lu itu mau sensus atau gimana?" tanya Kinar seraya menatap Intan sekilas.


Intan berdecak kesal setelah mendengar jawaban Kinar. Rasanya ingin sekali Intan menggigit lengan Kinar seperti dirinya menggigit Aji tadi pagi. Menjadi seorang ibu tidak lah membuat Kinar menjadi lembut, ia lebih ketus dari sebelumnya.


"Tan, ajaklah suamimu istirahat dulu. Mamah sudah menyiapkan kamar untukmu," ucap bu Leni setelah selesai membuat kopi hitam di teko.


"makasih ya Ma," ucap Intan seraya memeluk tubuh Bu Leni dari samping.

__ADS_1


"hmmm peluk teros!! kek teletubbies habis pisah ranjang!" seloroh Kinar sambil menahan tawanya.


Intan berlalu begitu saja dari dapur, meninggalkan Kinar dan bu Leni yang berkutat di dapur. Sepertinya mereka malam ini menyiapkan makan malam untuk keluarga besar. Intan mengayun langkah ke ruang tamu, ia ingin menunggu kedatangan Kevin, ia gemas sekali dengan putra pertama Kinar itu.


"gimana Pah, studio masih lancar?" tanya Intan setelah duduk di samping Aji. Ia bersandar di sofa empuk itu.


"Ya Alhamdulillah, Tan. Abang mu sekarang buka studio lagi, jadi dia sekarang lumayan sibuk karena harus mengelola dua studio," ujar Pak Gatot.


"gak kebayang gimana rasanya jadi bang Tommy," gumam Intan seraya membayangkan bagaimana sibuknya Tommy saat ini.


Ketiga orang yang ada di ruang tamu mengalihkan pandangan ke arah pintu tatkala mendengar suara teriakan Kevin. Intan pun langsung berdiri begitu melihat Kevin dan Farhan di ambang pintu.


"Kepiiiin!!! onty kangen!" teriak Intan seraya merentangkan kedua tangannya ketika melihat bocah menggemaskan yang belum genap dua tahun tersebut.


"Heh!! namanya Kevin bukan Kepin!" tiba-tiba suara Kinar terdengar di ruang tamu, rupanya ibu satu anak itu baru saja datang dengan membawa kopi dan minuman yang lain.


Intan tak menghiraukan protes dari Kinar. Ia mengambil tubuh Kevin dan gendongan Farhan. Awalnya Kevin meronta-ronta karena belum kenal dengan Intan, tapi tak lama setelah itu, Intan berhasil membuat bocah kecil itu lengket kepadanya.


Ruang tamu Pak Gatot di penuhi gelak tawa anak dan menantunya. Apalagi setelah kedatangan Tommy yang baru saja kembali dari menjemput sang istri bekerja, suasana pun semakin ramai dan penuh tawa. Rasa lelah yang sempat melanda sepasang suami istri itu akhirnya hilang begitu saja setelah mendapat sambutan hangat dari keluarga pak Gatot.


"Ayo kita makan malam dulu, mumpung makanannya masih hangat," tutur bu Leni setelah melihat penunjuk waktu yang ada di ruang tamu.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Hay ... aku ada rekomendasi cerita bagus nih😍 kepoin yuk

__ADS_1



🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2