Surga Hitam

Surga Hitam
Melaksanakan Nadzar,


__ADS_3

"Nak, di depan ada tamu mencari kamu!" ucap ummi Sarah ketika menghampiri Aji dan Intan yang sedang duduk di halaman belakang.


Aji dan Intan segera beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar kabar dari ummi Sarah. Mereka berdua mengayun langkah menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Intan menunggu suaminya di ruang keluarga karena ia tidak mengenal siapa tamu suaminya.


Beberapa menit kemudian, Aji kembali masuk ke dalam ruang keluarga. Ia memberi tahu bahwa pegawai barbershop yang sudah ia pesan kemarin telah datang untuk mencukur rambut Ghaly, bayi menggemaskan ini sudah berumur lebih dari tiga puluh enam hari.


"Ayo kita ke halaman samping! di sekitar gazebo pasti lebih sejuk," ucap Aji sebelum keluar dari rumah melalui pintu samping bersama Intan.


Pengajian selama tujuh hari di rumah Sholeh sudah selesai dilaksanakan sejak dua hari yang lalu. Semuanya sudah kembali beraktifitas normal seperti biasanya dan karena keadaan semua orang masih berduka, akhirnya syukuran selapan dino untuk Ghaly di undur tepat setelah tujuh hari meninggalnya Firda.


"geli ya, Nak?" Aji bergumam tatkala Ghaly menggeliatkan tubuhnya di atas pangkuan Aji saat pegawai barbershop tersebut mulai mencukur rambutnya.


Intan terkekeh melihat putranya terus bergerak hingga membuat pegawai barbershop tersebut sulit untuk mencukur rambut Ghaly yang tebal itu. Beberapa menit kemudian, seluruh rambutnya Ghaly telah hilang. Bayi berusia satu bulan lebih lima belas hari itu terlihat lebih menggemaskan dengan kepala gundul tanpa sehelai rambut.


"Sayang ... ganti bajunya Ghaly dulu gih! siapa tahu ada rambut kecil yang menempel di lehernya, kasihan nanti dia bisa gatal," ujar Aji seraya menyerahkan Ghaly kepada Intan.


Intan segera masuk untuk melakukan seperti yang diperintahkan oleh Aji. Ia harus memastikan jika di tubuh putranya tidak ada rambut kecil yang bisa mengusik ketenangan putranya.


"kenapa kamu semakin terlihat lucu sih, Nak! Ibu jadi gemas melihat kamu gundul seperti ini!" gumam Intan saat membaringkan Ghaly di atas ranjang.


Ghaly mulai bisa diajak bercanda. Ia bisa merespon jika Intan mengajaknya bicara walau hanya dengan tersenyum dan celotehan suara yang tidak jelas. Tangannya bergerak saat Intan terus berbicara—entah apa saja yang diucapkan oleh ibu satu anak itu.


"uh uh uh ... anak Ibu ganteng sekali sih!" ujar Intan setelah mengganti pakaian Ghaly dengan setelan kaos tanpa lengan berwarna kuning. Tak lupa ia mengusap wajah Ghaly dengan bedak bayi.

__ADS_1


Intan tergelak sendiri melihat putranya saat ini. Ia teringat dengan donat salju yang biasa ia beli di kantin pondok putri. Sungguh, rasanya Intan ingin sekali menggigit pipi Ghaly yang semakin mengembang itu.


"Oke, sekarang kita ke bawah ya! Ayah sama Mbah uti pasti suka melihat penampilan Ghaly saat ini!" ujar Aji saat mengangkat tubuh Ghaly.


Langkah demi langkah telah dilalui Intan dari lantai dua menuju lantai satu. Ia semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar suara berisik di halaman samping. Suara ummi Sarah, Aslam, Isna dan Ninis terdengar nyaring dari dalam rumah. Entah apa yang sedang mereka tertawakan. Intan benar-benar dibuat penasaran.


"Astagfirullahhaladzim!" Intan terkejut bukan main setelah melihat sosok yang sedang duduk di gazebo itu. Ia berdiri tepat di samping Ninis dan ummi Sarah.


"Ya Allah, Mas!!" seru Intan lagi ketika melihat suaminya tersenyum hingga deretan gigi putih itu terlihat.


Ya, Objek yang menjadi bahan ejekan keluarga kyai Yusuf adalah Aji. Bagaimana bisa ibu dan kakaknya tidak tertawa lepas setelah melihat penampilan Aji saat ini. Untuk pertama kalinya Aji gundul seperti serial kartun dari negeri sebrang yang biasa mengucap ... 'sedapnye ayam goreng!'.


Intan sampai tak berkedip saat menatap suaminya. Ia seperti melihat Ghaly dalam versi dewasa. Kedua pria yang sangat dicintainya itu tampil kompak dengan kepala yang gundul.


"ummi ... Aji dulu pernah mempunyai nadzar, jika anak Aji nanti lahir laki-laki maka Aji akan potong gundul." Aji menjelaskan tujuannya mencukur rambut, "dan sekarang Aji sudah memenuhi nadzarnya, Mi!" ucap Aji seraya menatap ummi Sarah.


Sekuat tenaga ummi Sarah menahan tawanya karena melihat ekspresi serius yang ditunjukkan oleh Aji. Beliau mengusap kepala tanpa rambut itu dengan seulas senyum penuh kasih.


"Memang seharusnya begitu, Nak! jika punya nadzar harus dipenuhi," ucap ummi Sarah tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.


Nadzar sama halnya seperti janji yang harus ditepati. Sama halnya seperti Aji yang pernah bernadzar jauh sebelum putranya lahir. Ia harus melaksanakan sesuai apa yang diucapkan dulu karena dalam Al-Qur'an pun sudah dijelaskan bagaimana hukum nadzar.


“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.” (QS. Al Hajj: 29)

__ADS_1


Aji menatap wajah sang istri yang masih syok atas perubahan penampilannya saat ini. Aji beranjak dari tempat duduk untuk mengambil Ghaly. Semua orang kembali tergelak ketika Aji menggendong Ghaly. Wajah keduanya terlihat sama dalam versi yang berbeda.


"Mi, Ghaly sama Aji kok sama ya?" tanya Ninis seraya menatap ummi Sarah.


"Iya, Nis! mereka kok bisa mirip begitu ya," gumam ummi Sarah.


Mereka berbincang sampai matahari mulai naik. Hawa panas pun mulai terasa di gazebo tersebut. Alhasil semua kembali ke tempat masing-masing. Aji mengajak Intan istirahat di kamar setelah membersihkan diri di kamar mandi dari sisa rambut kecil yang menempel di beberapa titik tubuhnya


***


Senyum yang sangat indah terbit dari bibir sepasang suami istri yang sedang duduk bersanding di atas ranjang. Tatapan keduanya fokus pada satu objek—bayi menggemaskan yang sedang tertidur pulas di pangkuan sang ibu.


Aji mengusap rambut hitam sang istri dengan penuh kasih. Sesekali ia mengecup puncak rambut Intan. Aji sangat bahagia karena pada akhirnya apa yang diinginkan selama ini sudah dikabulkan oleh Sang Khalik. Ucapan syukur tak henti terucap dari bibir Aji setelah mendapat anugerah tak terhingga dari Sang Pemilik Jagat. Entah dari mana awalnya, kini tatapan keduanya saling bersirobok. Senyum keduanya semakin terlihat indah kala sorot mata itu memancarkan cinta.


"Aku bersyukur memiliki istri sepertimu. Maafkan aku karena aku sempat melihat memandangmu sebelah mata hanya karena tato di tubuhmu. Penyesalan terbesarku adalah ketika aku pergi meninggalkanmu saat itu—saat kamu mengungkap hal yang melukai hatiku. Bukan karena aku tidak mencintaimu, aku hanya belum siap memiliki seorang wanita yang tidak suci lagi. Kini ... aku menerima takdir Allah yang menempatkanku di Surga Hitam, yaitu kamu ...." batin Aji dengan tangan yang tak henti mengusap pipi mulus sang istri.


"Aku tidak pernah menyangka jika Allah begitu baik padaku. Allah mengirim pangeran tampan sepertimu di saat aku terpuruk karena luka. Harapan yang dulu menggebu, harus hancur ketika peristiwa menyakitkan yang menimpaku dulu. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga apa yang seharusnya menjadi milikmu. Aku tidak pernah menyangka jika Allah kembali mempertemukan kita dalam keadaan yang kurang baik. Aku sangat kotor hingga saat itu aku malu jika duduk bersanding denganmu yang suci. Kini, aku telah menjadi wanitamu meski aku bukan wanita suci yang pantas kamu dapatkan, aku hanya surga hitam—tempatmu mendapat kasih sayang." Batin Intan sebelum mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir sang suami.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini semoga suka ♥️😍🌹


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2