
Suara petir terdengar menggelegar. Rintik hujan mulai berjatuhan, perlahan rintik itu semakin banyak dan lebat. Rasa dingin mulai terasa karena angin malam diam-diam menyelinap di balik runtuhnya hujan.
Mungkin, ini lah yang di sebut malam minggu kelabu. Sang Penguasa jagat seakan mencurahkan seluruh air yang tersimpan di awan mendung, untuk menemani ratapan pilu seorang gadis yang tergugu di ruang tamu. Gadis itu tak lain adalah Intan, ia menangis karena goresan luka dari Aji.
"Aaaaargh!" teriak Intan sambil menengadahkan kepalanya.
Gadis bertato itu menangis sejadi-jadinya, ia belum percaya jika pria yang di cintainya selama ini tega mencampakkannya begitu saja. Ya, Intan tau jika dirinya hanyalah seorang pendosa. Tapi Aji telah memberikan harapan yang besar kepadanya, dengan mengucapkan kata cinta dan bisa menerima apapun keadaannya.
"Jika akhirnya seperti ini, kenapa kemarin Gus mengatakan, jika akan memperjuangkan aku apapun keadaannya!" teriak Intan. Ia mulai melampiaskan semua kekesalannya ketika mengingat apa saja yang pernah di ucapkan Aji untuknya.
"Kenapa nasib ku seperti ini!" gumam Intan sambil memijat keningnya yang pusing.
Intan beranjak dari tempatnya saat ini, ia berlari ke dalam kamarnya dan menghempaskan diri di atas ranjang. Air matanya turun semakin deras, beriringan dengan rintik hujan di luar sana. Siapapun akan terenyuh ketika mendengar ratapan pilunya.
Hampir tiga puluh menit Intan tergugu di atas ranjangnya. Kini ia duduk di tepi ranjang sambil menatap dirinya lewat pantulan cermin di pintu almari yang ada di hadapannya.
"Jika kamu tidak bisa menerimaku, untuk apa kamu mengirim semua ini! untuk apa aku memakai ini!" Intan menarik hijab yang sejak tadi di pakainya.
Intan melempar hijabnya ke sembarang arah, ia melepas semua pakaian yang di pakainya ngedate bersama Aji, "Aku tidak butuh semua ini! aku terluka lagi karena semua ini!" Intan melempar semua pakaiannya ke sembarang arah.
Amarah yang ada di hatinya semakin membesar, tatkala memori di masa lalu kembali datang menghantuinya. Ia mencari pakaian santai seperti yang biasa ia pakai.
"Apa arti semua ini? harusnya pakaian-pakaian ini tidak ada di almariku!" Intan mengeluarkan beberapa pakaian yang di kirim Aji, ia membuangnya ke sudut ruangan.
Kamar yang biasanya rapi, kini berantakan seperti gudang yang sudah lama tak terpakai. Ia meluapkan emosinya dengan membuang semua barang yang di berikan Aji beberapa waktu yang lalu.
Setelah puas meluapkan rasa sakit hatinya, Intan berdiri di depan cermin. Ia hanya diam, sambil mengamati dirinya sendiri. Sungguh, keadaannya saat ini sangat menyedihkan.
"Kamu harus kuat! semua rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan dulu, ketika pertama kali datang ke kota ini!" Intan bermonolog dengan pandangan yang tak beralih dari cermin.
__ADS_1
Setelah cukup lama termangu di depan cermin, Intan tiba-tiba saja tertawa lepas. Ia terus tertawa dengan air mata yang kembali berjatuhan dari pelupuk matanya. Mungkin ini kah yang di sebut frustasi?
"Ternyata yang ngertiin gue hanya lo aja!" ucap Intan setelah mengambil sesuatu yang ada di bawah kolong ranjangnya.
Intan membuka kardus persegi panjang itu, lalu ia mengeluarkan isinya yang tak lain adalah Wine, sebotol minuman mahal yang ia beli dari hasil nyanyi di cafe. Intan tersenyum puas setelah melihat minuman yang bisa membuatnya melayang tanpa beban.
"Maafin gue yah, beberapa waktu yang lalu gue dah ninggalin elu!" gumam Intan seusai mengecup botol berisi wine itu.
Intan segera membuka tutup botol itu, ia meneguknya tanpa gelas. Intan terus meneguk minuman itu seperti dirinya meneguk air putih saja. Intan bahkan tak perduli lagi dengan harga minuman yang ia habiskan dalam satu tegukan. Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai terasa ringan.
"Yah, kok udah habis aja," gumam Intan ketika tak ada lagi setetes air yang memabukkan itu.
Intan meraba ranjangnya untuk mencari di mana ponselnya saat ini. Pandangannya mulai kabur karena efek alkohol yang mulai bereaksi. Intan menekan layar ponselnya, di mana ada nama Jack tertulis di sana.
"Jack, tolong antar tiga botol whisky JD ke rumah gue ya," ucap Intan setelah panggilan berakhir.
"Jack!" sapa Intan ketika ia membuka pintu kontrakannya. Di luar hujan masih turun walau tak se lebat beberapa waktu yang lalu.
"Lo buat apa beli sebanyak ini? Kinar kan gak di sini!" Jack penasaran, apalagi setelah melihat wajah sembab Intan dan penampilan Intan yang kacau.
"Gue minum sendiri lah!" jawab Intan sambil menyeringai.
"Tan, lu baik-baik aja 'kan?" Jack memastikan keadaan adik angkat sahabatnya itu.
"Gue baik-baik aja!" ucap Intan seraya menyerahkan uang untuk membayar Jack, "makasih Brow!" ucap Intan sambil menepuk pundak Jack.
"Mending sekarang lu pulang, Jack! jangan lama-lama di sini, entar lu kena na-jis!" ujar Intan dengan tawa yang menggelegar, Jack bergidik ngeri melihat Intan malam ini.
Setelah pamit pulang, Jack segera berlari menerobos hujan menuju mobilnya. Ia menatap Intan dari dalam mobilnya sampai pintu kontrakan itu tertutup rapat.
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Intan kembali lagi ke kamarnya. Gadis itu terus menenggak Whisky JD itu lagi dan lagi, ia sudah lupa dan tidak perduli dengan kesehatan tubuhnya.
"Gus Aji ... apa aku terlalu kotor, Gus!" teriak Intan.
"Kenapa Gus meninggalkan aku? bukankah Gus mau membawaku pulang," racau Intan ketika efek alkohol semakin terasa di tubuhnya.
Intan terus meracau tak jelas di sepanjang malam. Ia menangis dan tertawa sendiri karena frustasi dengan keputusan Aji. Hanya ini yang bisa Intan lakukan agar semua beban di pundaknya perlahan hilang.
"Kalau Gus Aji tidak mau menikah denganku, lalu aku menikah dengan siapa?" gumam Intan dengan air mata yang terus bercucuran.
Intan, seorang gadis yang menyedihkan. Nasib baik seakan tak berpihak kepadanya. Hidupnya benar-benar kacau sejak ia pergi dari pesantren. Ia tenggelam dalam jurang kemaksiatan yang semakin dalam. Tongkat yang selama ini di nantikan kehadirannya, kini telah patah dan tak bisa lagi di jadikan penunjuk jalan.
"Harusnya dari dulu Tuhan mencabut nyawaku, agar aku bisa bertemu dengan ibu dan ayah. Di dunia seorang diri terlalu menakutkan!" racauan Intan semakin tak karuan.
Intan terbaring di atas karpet yang ada di kamarnya. Ia meringkuk dengan tatapan mata yang kosong. Kali ini, ia benar-benar kehilangan arah hidupnya. Ia tidak tau akan kemana lagi ia melangkahkan kakinya.
"Mungkin gue yang gak sadar diri kali ya! gue seorang pendosa tapi ingin menjadi istrinya Gus Aji. Dasar g-o-b-lo-k!" Intan mengumpati dirinya sendiri.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1