
~Pernahkah kamu merasakan desiran angin yang terasa menyedihkan hingga membuat air matamu berjatuhan tanpa sebab?~
Ya, mungkin pertanyaan itulah yang dialami Intan saat ini. Ia duduk seorang diri di balkon kamar seraya menatap langit biru dengan gradasi jingga yang terlihat sangat indah. Angin berhembus mesra mengiringi sang surya kembali ke tempatnya.
Helaian rambut Intan menari-nari mengikuti irama angin yang tak pasti kemana arahnya. Intan duduk berselonjor di lantai dengan kepala yang menengadah, ia menatap hamparan luas yang ada di atas sana. Air matanya pun terus mengalir tanpa sebab yang jelas.
Intan sendiri tidak tahu kenapa dia bisa sesedih itu hingga tak kuasa menahan air mata. Tidak ada masalah serius yang terjadi saat ini tapi perasaan itu semakin sedih kala hembusan angin semakin merasuk ke dalam relung hatinya.
Masalah yang sempat terjadi tadi pagi tak membuat Intan merasa sedih. Justru ia bahagia bisa meluapkan amarah yang ada di hati kepada orang yang tepat. Tak ada masalah yang pasti untuk tangisannya saat ini.
Diam-diam angin membawa kerinduan kepada sosok yang tak ada lagi di dunia ini. Getaran rindu tak tertahan kala bayang-bayang kedua orang tua Intan yang telah tiada hadir di pelupuk mata. Tangisnya pun semakin pecah kala mengingat kedua sosok tersebut.
"Ayah ... ibu ... Intan rindu," gumam Intan di sela-sela isakannya. Ia menundukkan kepala sampai menyentuh lutut yang tertekuk ke atas. Ia semakin tergugu ketika mengingat kenangan-kenangan indah bersama mereka.
Aji masih berada di pondok putra untuk mengisi pelajaran kitab sebelum waktu magrib tiba. Ia harus menggantikan Sholeh yang sedang pulang ke rumah keduanya. Jadwal Aji sendiri ada di waktu malam, lebih tepatnya setelah sholat isyak.
Rasa nyaman membuat Intan enggan untuk masuk ke dalam kamar. Suara tarqim mulai terdengar merdu dari pengeras suara yang ada di masjid, pertanda waktu magrib akan segera tiba.
Aji mengerutkan keningnya setelah masuk ke dalam kamar. Ia tak menemukan batang hidung sang istri di dalam kamar, ia hanya diam seraya mengamati isi kamar. Aji melangkah ke arah balkon ketika melihat pintu penghubung tersebut terbuka lebar, sudah bisa di pastikan jika istrinya ada di luar sana.
"Sayang ...." ucap Aji setelah keluar dari pintu. Aji tertegun setelah melihat istrinya berlinang air mata. Ia pun langsung duduk di hadapan sang istri.
"ada apa, Sayang?" Aji mencoba mengusap air mata yang ada di pipi Intan. Ia sangat khawatir melihat istrinya menangis seperti ini, "katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Aji seraya menangkup wajah Intan.
__ADS_1
Intan hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia berusaha menetralkan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Aji, "aku tidak tahu alasan apa yang membuatku menangis, Mas! aku hanya merasakan hembusan angin yang terasa menyedihkan, iramanya membuatku teringat kepada Ayah dan ibu," ucap Intan seraya menatap Aji dengan mata yang sembab.
Aji tertegun setelah mendengar pengakuan sang istri. Hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan apa yang baru saja diucapkan oleh Intan. Itu pun harus melewati proses yang panjang dan penuh dengan tirakat.
"sejak kapan dia bisa merasakan pesan dari alam?" batin Aji seraya mengusap rambut sang istri.
Aji tak melepaskan pandangannya dari sang istri yang masih sesegukan. Ia mengusap lengan Intan tanpa suara, tatapan matanya tak lepas dari wajah sembab yang ada di hadapannya.
"besok pagi kita ke makam Ayah, oke?" ucap Aji setelah melihat istrinya tenang. Aji pun mengembangkan senyumnya ketika melihat Intan menganggukkan kepala.
"Ayo masuk!" ucap Aji saat membantu Intan berdiri dari tempat duduknya.
Aji segera menutup pintu yang terhubung ke balkon. Lalu ia mengambil pecinya lagi dan bersiap untuk pergi ke mushola—menunaikan ibadah tiga rakaat. Sebelum pergi, tak lupa Aji mendaratkan kecupan di kening Intan. Ia harus sholat berjamaah di mushola pondok karena istrinya sedang berhalangan, biasanya ia sholat di rumah dengan Intan.
Detik demi detik terus berlalu, jarum jam kini berada di angka sembilan malam. Aji mengayun langkah menuju kamar setelah pulang dari pesantren putra. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
"Udah istirahat sono!" ucap Intan setelah menatap sekilas penunjuk waktu yang ada di kamar.
"iya, gue mau prepare nih, mau bikin adonan anak kedua!" ujar Kinar dengan diiringi gelak tawa yang terdengar nyaring.
"Semoga berhasil, Komodo!!" ucap Intan seraya melambaikan tangannya ke arah layar ponsel dan beberapa detik kemudian, panggilan video itu telah berakhir.
Intan meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu ia merebahkan diri di atas pangkuan Aji, entah mengapa malam ini, ia ingin sekali bermanja-manja di atas pangkuan sang suami.
__ADS_1
"gak usah mancing-mancing kalau masih lampu merah!" Aji memberi peringatan tatkala jari jemari Intan mulai menyentuh area-area tertentu.
Intan tergelak setelah mendengar peringatan dari sang suami. Lalu ia menatap wajah tampan itu dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Sayang! dua hari lagi kan sekolah udah liburan! kita mengunjungi papah yuk!" ucap Aji setelah teringat rencana yang sudah ia rancang tadi siang.
Intan segera bangkit dari pangkuan Aji, binar bahagia terlihat jelas di wajah manisnya ketika mendengar rencana itu. Tentu saja ia tidak akan menolak rencana tersebut, lagipula ia sudah rindu dengan keluarga yang ada di Tangerang.
"Mas serius 'kan? gak ngeprank?" Intan meyakinkan ucapan sang suami.
"iya, aku serius! besok kamu paking gih, biar kita bisa langsung berangkat!" ucap Aji seraya membenarkan posisi bantal sebelum kepalanya mendarat di sana.
"Yes!! yes!! yes!! akhirnya mudik juga!" Intan terlihat sangat bahagia malam ini.
Intan pun masuk ke dalam dekapan Aji, beberapa kali ia mengecup bibir Aji tanpa adanya tarian lidah seperti biasanya. Ia menelusupkan kepala di dada Aji sebelum berkelana ke alam mimpi.
"Terima kasih ya, Mas! aku semakin love you!" ucap Intan dengan diiringi tawa renyah setelahnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
__ADS_1
Hallo semuanya, aku ada rekomendasi nih, karya keren dari temen akoh😎kepoin yokk!!