
"Dasar emak-emak julid!" gerutu Intan setelah keluar dari warung, ia membawa belanjaan satu kresek penuh, entah apa saja yang ia beli di warung sayur itu.
Aji mengernyitkan keningnya ketika melihat wajah murung istrinya. Tidak biasanya ia melihat Intan seperti itu, pasti terjadi sesuatu yang tidak beres di dalam sana.
"Sudah?" tanya Aji ketika Intan sudah berada di hadapannya.
Intan hanya menganggukkan kepalanya, ia enggan untuk menceritakan perihal apa yang membuatnya kesal pagi ini. Mereka berdua pun kembali berjalan kaki menyusuri komplek yang masih sepi.
"Coba lihat rumah itu!" ucap Aji seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah rumah berlantai dua yang akan mereka lewati.
"Memangnya kenapa, Gus?" tanya Intan setelah mengamati rumah yang di maksud Aji.
"Pemilik rumah itu namanya Ibu Ani, hampir setiap pagi beliau mengirim sarapan ke rumah, jadi aku jarang masak kalau pagi," ucap Aji seraya menatap Intan, "Bu Ani dan keluarganya sangat baik kepadaku," lanjut Aji sembari menatap pintu gerbang Bu Ani yang masih tertutup rapat.
Intan hanya diam setelah mendengar suaminya bercerita, pikirannya tengah berkelana untuk mencari tahu alasan di balik kebaikan orang yang baru saja di ceritakan oleh Aji, "apa Bu Ani punya anak gadis?" tanya Intan setelah menemukan praduga yang lebih masuk akal.
"Punya, anak gadis Bu Ani jadi guru di SMA Negeri. Memangnya kenapa?" tanya Aji.
Sepasang suami istri itu akhirnya tiba di kontrakan, Aji segera membuka pintu sedangkan Intan masih berdiam diri di teras kontrakan.
"Emmm ... sepertinya Bu Ani punya maksud terselubung di balik kebaikannya," gumam Intan sebelum masuk ke dalam kontrakan.
"terselubung bagaimana? jangan suudzon, Sayang!" ucap Aji seraya menutup pintu kontrakannya
"Pasti bu Ani pengen ngejodohin anaknya sama Gus maka dari itu beliau baik banget! benar 'kan?" tanya Intan dengan wajah yang tertekuk.
Aji tertegun setelah mendengar pertanyaan Intan. Bagaimana bisa istrinya berpikir seperti itu sedangkan sejauh ini tak sedikitpun Aji berpikir ke arah sana.
"Hush! gak baik ngomong seperti itu!" ujar Aji seraya mengikuti Intan yang berjalan ke dapur.
Intan tak menanggapi lagi obrolan tentang Bu Ani, karena semua itu bisa semakin merusak moodnya. Bisik-bisik yang ia dengar dari ibu-ibu komplek saja sudah membuatnya dongkol apalagi setelah tau ada yang memperhatikan suaminya.
"Aku mau mandi dulu ya, hari ini aku harus berangkat lebih pagi, di kampus ada acara," ucap Aji setelah membantu Intan di dapur. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sarapan.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, Intan sudah selesai menata sarapannya di ruang tengah, ia menggelar karpet untuk sarapan bersama Aji. Pagi ini ia membuat masakan yang dulu sangat di sukai Aji ketika dirinya masih ngawulo di pondok Al-Khadijah.
"Wah ... aroma ikan asinnya sangat menggoda!" gumam Aji setelah keluar dari kamar, ia berdiri menatap Intan yang sedang mengambilkan sarapan untuknya.
Aji segera duduk di samping Intan, ia sudah tidak sabar lagi untuk menikmati menu yang sudah lama ia rindukan di Tangerang. Keduanya sangat menikmati sarapan bersama dengan menu sederhana yang membuat Aji nambah nasi untuk yang kedua kalinya.
Sarapan bersama telah usai, Intan mengantarkan keberangkatan Aji sampai di teras rumah. Tak lupa ia mengecup punggung tangan Aji sebelum suaminya itu berangkat ke Kampus.
"Hari ini jadwal kamu kontrol 'kan?" tanya Aji setelah mengecup kening Intan.
"Iya, saya bisa kok berangkat sendiri, nanti saya naik Ojol saja," ucap Intan.
"Jangan! aku akan mengantarmu! kontrol nanti sore saja ya," ucap Aji seraya membuka pintu mobilnya, "hari ini jangan kemana-mana, kalau bosan mending panggil Kinar kesini saja," pesan Aji kepada Intan.
Intan hanya mengembangkan senyumnya tanda ia mengerti apa yang di ucapkan oleh Aji. Ia menatap mobil suaminya yang semakin hilang dari pandangannya. Baru saja Intan melangkahkan kaki masuk ke dalam kontrakan, langkahnya harus terhenti karena ada seseorang yang datang.
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita berkerudung ungu yang berdiri di teras.
"Waalaikumsalam," jawab Intan seraya menatap wanita yang berdiri di hadapannya, "maaf mau cari siapa ya?" tanya Intan kepada wanita berwajah cantik yang sedang menatapnya.
"Terima kasih, tapi suami saya sudah berangkat ke kampus," ucap Intan seraya menerima kotak makanan tersebut, "maaf kau boleh tau ini dari siapa?" tanya Intan kepada wanita yang termangu di hadapannya.
Wanita itu gelagapan setelah mendengar jawaban Intan, "ini dari Mama saya, kalau Mas Aji biasa memanggil Mama saya Bu Ani," ucap wanita itu sebelum pamit kepada Intan.
Dugaan Intan ternyata benar, Bu Ani mempunyai maksud terselubung di balik kebaikannya. Hal itu berhasil membuat Intan terbakar api cemburu apalagi setelah melihat putri Bu Ani yang sangat cantik itu.
"Huh! di komplek ini semuanya menyebalkan!" gerutu Intan ketika menutup pintu kontrakannya.
Baru pertama tinggal di komplek ini saja berhasil membuatnya kesal bukan main. Mulai dari ocehan ibu-ibu yang ada di warung hingga gadis pengantar sarapan yang datang ke kontrakan suaminya.
Intan menghempaskan diri di atas ranjang empuk itu. Ia menatap langit-langit kamar seraya mengingat apa saja yang ia dengar di warung sayur tadi pagi.
"Katanya Pak Aji anaknya seorang Kiyai, kok istrinya seperti itu,"
__ADS_1
"Mungkin Pak Aji menemukan istrinya di tempat dugem, terus dinikahin kek di sinetron itu!"
"Seharusnya kan lebih tertutup kan kalau jadi istrinya ustadz seperti Pak Aji,"
"Sayang sekali Pak Aji memilih gadis seperti itu padahal Pak Aji cocoknya sama Rani tuh,"
Intan benar-benar kesal ketika mengingat ocehan ibu-ibu komplek yang tidak punya malu itu, bisa-bisanya mereka bisik-bisik di saat Intan masih ada di sana."
"Pancen lambe-lambe nganggur! jek isuk wes rasan-rasan!" gerutu Intan seraya meremas sprei putih itu.
Setelah moodnya membaik, Intan kembali melakukan aktivitasnya. Ia mulai merapikan kamar itu seperti sebelumnya. Tak lupa ia menata pakaian yang belum sempat ia tata sejak tadi malam.
"akhirnya selesai juga," gumam Intan setelah menutup pintu almari.
Karena di landa rasa bosan yang teramat sangat, Intan mencoba keluar dari kontrakan. Ia duduk di teras sambil mengamati orang-orang yang berlalu lalang di jalan. Intan menghela napasnya setelah melihat ada rombongan Bu RT yang lewat di depan kontrakan Aji.
"Neng, mau ikut kami Neng?" tanya Bu RT saat melihat Intan duduk seorang diri di teras rumah.
Intan mengembangkan senyumnya ke arah ibu-ibu komplek yang memakai seragam berwarna putih itu, "Maaf Bu, setelah ini saya ada acara. Memang Bu RT mau kemana?" sebagai warga baru, Intan harus berbasa-basi dengan tetangganya.
"Kami mau arisan, Neng. Kapan-kapan ikut arisan yuk biar kenal sama ibu-ibu yang lain," ucap Bu RT sebelum berlalu dari hadapan Intan.
Setelah Ibu-ibu komplek itu berlalu pergi, Intan kembali masuk ke kontrakan. Ia tidak mau sampai rombongan bu RT itu tahu jika dirinya berbohong.
"Ih nyebelin banget sih temen Bu RT yang oversize tadi! tatapannya gak enak banget ke gue!" gerutu Intan saat berjalan ke kamarnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷