
Sang raja sinar nampaknya enggan untuk menampakkan diri, 'ia' lebih memilih bersembunyi di balik awan mendung yang merata di langit yang redup itu. Perlahan air hujan mulai membasahi semua yang ada di kota jombang, hawa dingin mulai terasa di kota itu, membuat siapa saja ingin bergelung di balik selimut meskipun penunjuk waktu masih berada di angka sebelas siang.
"Kamu wanita hebat, Tan! Aji tidak salah telah mempertahankan mu," gumam Ninis dalam hatinya. Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya tatkala melihat Intan yang terlelap di sisinya.
Ninis benar-benar sedih karena nasib buruk yang menimpa Intan. Berkali-kali ia mengumpat karena murka dengan Aga. Tapi Ninis tak bisa berbuat apapun selain berdoa kepada Sang Pencipta, karena ia terlanjur berjanji kepada Intan untuk menyimpan rahasia gadis itu.
Ya, Intan mempercayakan kisah hidupnya kepada Ninis. Ia menumpahkan segalanya ke tempat yang menurutnya nyaman itu. Ia menunjukkan bagian tubuhnya yang di penuhi tato, hingga tato yang bertuliskan nama 'Saka' pun telah ia perlihatkan kepada Ninis.
"Lalu bagaimana jika Ummi tahu semua tato itu ya?" Ninis bermonolog, pandangannya masih tertuju pada Intan yang masih tertidur pulas itu.
Ninis turun dari ranjangnya, ia meraih tubuh putrinya yang sedang asyik bermain di samping Intan. Ia membawa putrinya untuk menemui Aji di kamarnya. Ninis harus berunding dengan Aji karena masalah ini menyangkut masa depan adiknya itu.
Tanpa mengetuk pintu, Ninis masuk begitu saja ke kamar Aji, hal itu membuat si pemilik kamar terkejut bukan main ketika melihat kehadiran Ninis yang tiba-tiba, "kebiasaan!" Aji mendengus kesal saat melihat kakaknya itu hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Dik, aku sudah tau semuanya!" ucap Ninis seraya menurunkan putrinya di atas ranjang Aji. Ia pun ikut duduk di sana.
Aji menyatukan kedua alisnya, ia menatap Ninis dengan penuh tanda tanya karena belum tahu kemana arah pembicaraan kakaknya itu, "apa sih, Ning?" tanya Aji seraya menarik selimutnya.
"Ini tentang Intan dan Aga!" ucap Ninis yang membuat Aji menajamkan kedua bola matanya ke arah Ninis.
"apa Intan sendiri yang memberitahu Ning?" tanya Aji setelah duduk bersandar di ranjangnya.
"Iya," jawab Ninis singkat. "lalu bagaimana ini kalau Ummi tahu Intan punya banyak tato?" Ninis terlihat resah.
Aji hanya diam saja, ia sendiri bingung memikirkan hal itu. Cepat atau lambat Ummi Sarah pasti tau semua tato yang ada di tangan ataupun kaki Intan. Tak ada satu pun Ide yang bersarang di kepala Aji, hal itu membuat kepalanya menjadi pening.
"itulah yang sedang aku pikirkan, Ning! kalau Abah kan sudah tau semuanya, maka dari itu aku berani melangkah. Tapi sekarang yang jadi masalah itu Ummi, Ning." Aji memijat keningnya karena belum menemukan apapun untuk mendapatkan restu Ummi-nya.
__ADS_1
Ninis pun ikut memikirkan hal ini, ia mencari cara agar Ummi Sarah tetap merestui hubungan adiknya itu tanpa harus membuka rahasia besar Intan. Mereka berdua terdiam sampai terdengar suara ketukan pintu kamar Aji.
"Ji ... bangun! Ji ... sudah mau dzuhur, Ji!"
Ninis dan Aji saling memandang tatkala mendengar suara Ummi Sarah di depan kamar, Aji bergegas turun, ia membukakan pintu untuk Ummi-nya itu. Sementara itu, Ninis mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar Ummi Sarah tidak curiga.
"loh! ngapain di sini, Nis?" tanya Ummi Sarah setelah pintu terbuka lebar.
"Ninis mau Pinjam charger, Mi." Ninis beralasan agar Ummi nya tidak curiga.
"Nis, bangunin Tata dulu. Sebentar lagi sudah waktunya sholat dhuzur!" Perintah Ummi Sarah kepada Ninis. Tanpa banyak bicara, Ninis segera keluar untuk melaksanakan perintah Ummi-nya itu.
Tak lama setelah Ninis keluar, Ummi Sarah pun ikut keluar dari kamar Aji. Beliau duduk di ruang makan dengan kepala yang tertunduk. Ummi Sarah sedang di landa rasa gelisah karena informasi yang di sampaikan Rahma tadi pagi.
Jujur saja, Ummi Sarah saat ini merasa takut—takut salah mengambil keputusan untuk masa depan putra bungsunya itu. Saat ini beliau bingung harus bagaimana membuktikan langsung semua cerita dari Rahma tadi.
Tepat saat adzan dhuhur berkumandang, Ninis dan Intan keluar dari kamar. Mereka berdua menghampiri Ummi Sarah yang sedang termenung di ruang makan seorang diri. Perasaan tidak enak mulai merayap di hati Ninis tatkala melihat ekspresi tak biasa di wajah Ummi-nya itu.
"Mi, Abah masih di pondok putra kah? kok Ninis belum lihat Abah sejak pagi," tanya Ninis ketika sampai di ruang makan, ia duduk di sebelah Intan.
"Iya Nis, lagi ada masalah di Pondok," jawab Ummi Sarah dengan suara yang lirih.
Ummi Sarah mengalihkan pandangannya ke arah Intan. Ummi Sarah mencoba untuk meyakinkan hatinya bahwa gadis yang ada di hadapannya itu adalah gadis yang sama seperti dulu.
"Tan, ayo sholat berjamaah sama Ummi, sudah lama Ummi ingin melakukan ini sama kamu," ucap Ummi Sarah dengan di iringi senyum manis setelahnya.
Intan tertegun mendengar permintaan Ummi sarah itu, sekilas ia menatap Ninis yang ada di sampingnya. Keresahan terlihat jelas di wajah Ninis saat ini.
__ADS_1
"Boleh Mi, monggo Mi ...." Mau tidak mau, Intan pada akhirnya menyetujui permintaan Ummi Sarah. Ia segera beranjak dari tempat duduknya setelah Ummi Sarah melangkah ke tempat sholat yang bersebelahan dengan dapur.
Intan memberikan sebuah kode kepada Ninis agar ibu satu anak itu tidak mengkhawatirkan dirinya. Intan segera menyusul Ummi Sarah yang sudah sampai di tempat suci itu.
"Ta, kamu wudhu duluan ya, Ummi mau pipis dulu," ucap Ummi Sarah tatkala mereka berdua berada di tempat wudhu yang bersebelahan dengan kamar mandi.
Intan menghela napasnya setelah melihat Ummi Sarah masuk ke dalam kamar mandi, ia segera membuka kancing yang ada di pergelangan tangannya untuk mengambil wudhu sebelum Ummi Sarah keluar dari kamar mandi.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Ummi Sarah membekap mulutnya sendiri ketika melihat pemandangan yang tak jauh darinya. Ummi Sarah melihat jelas tato yang ada di pergelangan tangan dan kaki Intan. Beliau melihat semua itu di balik pintu kamar mandi yang sengaja tidak di tutup rapat itu.
"Ya Allah, ternyata yang di katakan Rahma itu benar. Intan memang memiliki banyak tato di tubuhnya," gumam Ummi Sarah dalam hatinya.
Ummi Sarah sampai menitikkan air matanya ketika melihat keadaan Intan yang sebenanrnya, beliau sangat kecewa melihat perubahan santrinya itu. Apalagi ketika beliau teringat jika tadi pagi berencana ingin menikahkan Aji dengan Intan.
"Ini tidak boleh terjadi! aku tidak mau jika putraku sampai memilih surga yang salah, aku harus menghentikan semua ini sebelum terlambat!" gumam Ummi Sarah dalam hatinya sebelum keluar dari kamar mandi.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1