Surga Hitam

Surga Hitam
Gagal Romantis!


__ADS_3

"Sekarang kamu istirahat dulu, kamu pasti masih lemas 'kan?" ummi Sarah menepuk pundak Intan, kekhawatiran terlihat jelas dari raut wajah wanita paruh baya itu.


"Ayo, Ning!" Intan menatap Ninis sebelum beranjak dari sofa yang ada di ruang keluarga.


"loh! mau kemana Tan kok ngajak Ning?" Ninis mengernyitkan keningnya karena belum paham maksud Intan.


"Ayo ke kamar Ning! saya mau istirahat, Ning," ucap Intan dengan polosnya,


Ninis dan ummi Sarah tergelak ketika mendengar ucapan Intan. Mereka berdua sampai membekap mulut masing-masing karena tidak bisa menahan tawanya, wajah polos yang di tunjukkan Intan saat ini sangat tidak cocok dengan tato-tato yang ada di tubuhnya.


"Kamu itu sudah sah jadi istrinya Aji, jadi istirahatlah di kamar Aji. Kalian halal meskipun satu kamar," ucap Ninis setelah puas menertawakan Intan.


Intan menjadi kikuk di hadapan Ninis dan ummi Sarah. Ia hanya tersenyum sambil menampilkan deretan giginya untuk menutupi rasa malunya.


"Buruan ke kamar gih! sudah tau 'kan di mana kamarnya Aji?" Ninis semakin menggoda adik iparnya itu.


Intan segera pamit dari hadapan mereka berdua, ia harus segera kabur dari sana sebelum Ninis menggodanya lebih parah dari ini. Intan menganyun langkah menuju lantai dua, lebih tepatnya menuju kamar yang pernah ia masuki dulu sebelum kabur dari pesantren.


Intan menghela napasnya sebelum membuka pintu yang tertutup rapat itu. Intan sebenarnya belum siap jika harus tidur satu kamar dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Bismillah!" ucap Intan sebelum menarik handle pintu kamar itu.


Intan menyembulkan kepalanya terlebih dahulu, ia mengamati isi kamar tersebut. Kedua manik hitamnya menangkap sosok yang sedang berdiri di depan almari—menata beberapa pakaian yang baru saja di keluarkan dari tas besar.


"Gus ...." ucap Intan setelah berdiri di ambang pintu. Ia mengembangkan senyumnya ke arah pria yang baru saja membalikkan tubuhnya.


Aji tersenyum tipis ketika melihat kehadiran Intan di kamarnya. Ia menghampiri Intan dan mengajaknya untuk masuk, "ayo masuk!" ucap Aji seraya menggenggam tangan Intan, tak lupa ia menutup pintu kamarnya lagi.


"Biar saya bantu, Gus," ucap Intan setelah melihat sisa pakaian yang masih ada di dalam tas.


"Tidak usah, Tan!" tolak Aji, ia memberikan Intan sebuah kode agar ikut duduk di sisi ranjang bersamanya.

__ADS_1


Suasana kamar itu mendadak hening, Keduanya bingung harus berbuat apa karena ini adalah yang pertama kali nya mereka berduaan dalam status yang berbeda.


"Gus, sudah makan?" tanya Intan ketika menatap wajah tampan suaminya itu.


"Aku belum lapar, Tan." Aji mengubah posisi duduknya menghadap Intan, "kamu mau makan sekarang?" tanya Aji dengan pandangan yang tak lepas dari wajah manis di hadapannya.


Intan hanya menggelengkan kepalanya, ia menjadi salah tingkah ketika melihat tatapan Aji yang berhasil membuat hatinya meleleh bagai keju mozzarella. Intan tak sanggup untuk membalas tatapan itu, ia memutar bola matanya ke segala arah untuk menyingkirkan rasa gugup yang semakin mendera.


Intan menaikkan satu alisnya ketika melihat sesuatu yang mencurigakan di dekat jendela. Ia yakin jika yang ia lihat saat ini adalah kepala manusia—tapi untuk apa seseorang bersembunyi di balik pot itu.


"Ada apa?" tanya Aji seraya membalikkan tubuhnya untuk mengikuti arah pandangan Intan.


Intan reflek menangkup wajah Aji agar tetap memandang ke arahnya, "tidak ada apa-apa, Gus!" ujar Intan setelah Aji kembali ke posisinya, "tadi saya lihat burung merpati di pagar pembatas itu." Intan sengaja berbohong.


"Hmmm ... itu adalah kain hitam! berarti itu adalah kepala yang tertutup kerudung hitam. Kira-kira siapa yang ada di sana? siapa yang berani menguntit Gus Aji?" Intan bermonolog dalam hatinya, ia penasaran siapa sebenarnya orang yang ada di luar sana.


Terlintas sebuah ide konyol dalam kepalanya ketika Intan berhasil mengetahui siapa yang sedang mengintip di jendela itu. Ingin sekali Intan menangkap basah gadis bernama Rahma itu. Ya, Intan sangat yakin jika itu adalah Rahma. Kali ini ia harus melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran gadis tak berakhlak itu.


"Ada apa sih, Tan? sepertinya ada sesuatu di luar sana yang membuatmu tidak tenang," ucap Aji seraya berdiri dari ranjangnya, ia penasaran perihal apa yang membuat istrinya itu tidak fokus dengannya.


Pandangan keduanya saling bersirobok, Aji mulai menyusuri wajah manis yang ada di hadapannya. Ia mengusap pipi Intan dengan lembut hingga membuat Intan memejamkan mata karena terbuai dalam suasana yang menghanyutkan ini.


Intan membuka kelopak matanya ketika Aji melepas jarum pentul yang mengaitkan kerudungnya. Akhirnya, kerudung itu terlepas dari kepala Intan. Rambutnya yang hitam berkilau tergerai di atas bahunya.


"Ayo Tan semangat Tan! jangan hentikan kegiatan suamimu agar wanita bernama Rahma itu melihat sendiri jika Aji hanya menginginkanmu!" guman Intan dalam hatinya, ia sedang memberikan semangat pada dirinya untuk bisa membuat Rahma berhenti mengagumi suaminya.


Aji merebahkan kepalanya di atas paha Intan. Ia menatap wajah yang tertunduk itu. Senyum yang sangat manis terbit dari bibir keduanya karena bahagia akhirnya bisa saling memiliki. Intan membelai kepala Aji dengan penuh kasih sayang hingga membuat Aji menutup kelopak matanya, ia sedang merasakan irama jantungnya yang tak beraturan karena hal yang sedang di lakukan Intan saat ini. Belaian tangan itu membuat jiwanya terasa tenang dan damai.


"Sebesar apa rasa cinta Gus kepada saya?" tanya Intan yang membuat Aji membuka kelopak matanya, ia menatap wajah yang sedang mengembangkan senyum manisnya itu.


Aji mengubah posisinya, ia duduk tepat di samping Intan, "apa kamu meragukan cintaku?" tanya Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.

__ADS_1


Intan berdiri dari tempatnya, ia berjalan menuju jendela kamar Aji, ia berdiri di sana dengan pandangan lurus ke depan. Sesekali ia melirik ke tempat persembunyian Rahma.


"Saya tidak pernah meragukan Gus, saya hanya ingin tau saja," ucap Intan dengan suara yang lirih, ia membelakangi Aji saat ini.


Aji menganyun langkah menuju tempat Intan saat ini. Ia berdiri di balik tubuh Intan, ia memberanikan diri untuk meletakkan kedua tangannya di pinggang istrinya itu.


"Rasa cintaku kepadamu terlalu besar, Tan, hingga aku tidak bisa untuk mengukur seberapa luas atau seberapa dalam rasa itu. Sudah aku katakan 'kan jika aku adalah milikmu seutuhnya," ucap Aji seraya membenamkan wajahnya di pundak Intan.


Kaki Intan rasanya tak bertenaga setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aji, tubuhnya meremang karena merasakan getaran-getaran yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Lalu bagaimana jika ada gadis lain yang ingin mendekati Gus?" tanya Intan setelah membalikkan tubuhnya menghadap Aji.


"maksudmu Rahma?" Aji mengernyitkan keningnya.


"Iya, saya benar-benar tidak nyaman dengan gadis itu," keluh Intan seraya menatap Aji.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam rumah tangga kita nanti, entah itu Rahma, Rahmi, Rahmo, Rahman atau Rah-Rah yang lain," ucap Aji saat menangkup kedua pipi Intan, "aku cukup mempunyai satu istri untuk menemaniku berlayar dalam derasnya arus pernikahan," ucap Aji seraya melepaskan kedua tangannya dari pipi Intan.


Senyum penuh kemenangan terlihat jelas di wajah Intan. Ia berharap Rahma mendengar sendiri kalimat yang baru saja diucapkan oleh Aji. Ia menatap mata teduh yang ada di hadapannya itu dengan raut wajah bahagia.


Aji meraih tubuh Intan ke dalam dekapannya lalu ia menghujani puncak rambut itu dengan kecupan penuh kasih. Ia semakin mengeratkan dekapannya ketika merasakan kedua tangan Intan ada di atas pinggulnya. Berawal dari puncak rambut, kini kecupan itu mendarat di kening yang tertutup poni itu, sepersekian detik kemudian—kecupan itu mulai menyusuri hidung mancung Intan dan ....


Bruk!!


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2