
Hari demi hari telah berganti, kesibukan sepasang suami istri itu kian bertambah. Mereka sibuk mengemas barang-barang yang akan dibawa pindah ke Jombang. Barang-barang berat dikirim Aji melalu jasa pengiriman saja. Aji sendiri sedang sibuk menyiapkan untuk berkas-berkas pendafataran PNS di Jawa Timur.
Semua urusan cafe diserahkan kepada Farhan, karena Aji tidak bisa lagi untuk menghandle urusan tersebut akibat terpisah jarak yang sangat jauh. Aji sudah mengatakan jika ingin melepas cafe tersebut kepada Farhan, tapi suaminya Kinar itu tidak mau. Cafe tetaplah milik berdua meskipun Aji memantau dari jauh.
Aji pun sudah mempersiapkan surat pengunduran dirinya di kampus Negeri tempatnya mengamalkan ilmu selama ini. Ia juga sudah pamit ke pesantren, tempat dimana ia biasa mengajar tafsir kitab seusai magrib. Jadi, semua urusan Aji telah selesai, tinggal menunggu waktu ia pulang ke Jombang.
Intan sendiri sudah menyiapkan hatinya, karena setelah ini ia harus menjadi kuat karena akan hidup di dekat para ipar. Mungkin ketidak cocokan akan terjadi diantara mereka, apalagi disana masih ada Rahma yang belum menikah sampai sekarang.
Rahma sudah pernah dijodohkan ummi Sarah sebanyak empat kali, tapi semuanya gagal. Ada yang mengundurkan diri di saat menjelang pernikahan dan selebihnya mundur sebelum lamaran. Semua itu berhasil membuat Rahma frustasi, ia marah dengan dirinya sendiri karena tak kunjung mendapatkan jodohnya. Bahkan Rahma sampai mengatakan kepada ummi Sarah untuk tidak menikah saja karena terlalu sering patah hati.
Ya, wanita bernama Rahma itu lah yang membuat Intan ketar-ketir saat tinggal di Jombang nanti. Apalagi saat ini Ninis tidak tinggal di rumah ummi Sarah lagi, putri keempat kyai Yusuf itu ikut suaminya tinggal di Mojokerto—lumayan dekat dengan Jombang.
"Mas! kalau nanti Rahma caper lagi gimana?" tanya Intan seraya menatap Aji yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Kenapa mikirin gadis itu lagi sih, Yang!" jawab Aji tanpa menatap istrinya yang sedang terlentang di sisinya.
"Ya saya takut aja! kan dia belum menikah!" keluh Intan dengan bibir yang mengerucut. Tangannya sibuk menyusuri paha Aji yang tertutup sarung berwarna hitam.
"gak usah nakal!" Aji memperingatkan Intan yang terus-terusan mengusik sinyal-sinyal yang ada dalam tubuhnya.
Intan terkekeh setelah mendengar keluhan Aji, bukannya berhenti, ia semakin gencar untuk menggoda suaminya itu. Intan semakin tergelak kala melihat Aji berdecak kesal.
"Tunggu pembalasanku ya!" ancam Aji dengan pandangan yang tak lepas dari laptopnya.
"Saya enggak takut tuh!" tantang Intan seraya mengubah posisinya. Ia merebahkan diri di posisi seperti biasa ia tidur, membiarkan Aji sibuk dengan laptopnya.
Intan menutup kelopak matanya, tapi pikirannya masih berkeliaran kemana-mana. Hatinya resah karena memikirkan sesuatu yang belum pasti terjadi. Entah mengapa pikirannya selalu negatif jika teringat sosok gadis bernama Rahma itu.
"Mas!!" Intan terkejut ketika merasakan ada tangan yang menelusup di dasternya.
__ADS_1
"jangan teriak! ini sudah malam!" ujar Aji tanpa menghentikan aktifitasnya, "sekarang waktunya menghukum istri yang suka mancing-mancing ular buntung!" ucap Aji sebelum melakukan tugasnya malam ini.
Menjalani pernikahan selama tiga tahun membuat pasangan suami istri itu mahir dalam pembuatan adonan Saka junior. Mereka bisa melakukan berbagai macam gaya seperti yang tertulis di buku Kkkkk. Mereka bekerja sama untuk memberikan kebutuhan batin satu sama lain tanpa rasa bosan dan mengeluh.
Setelah beberapa puluh menit, akhirnya olahraga malam telah selesai dilakukan. Peluh keringat membasahi wajah masing-masing karena kerasnya olahraga yang mereka lakukan.
"Kamu memang istri solehot, Sayang!" gumam Aji dengan nafas yang tersengal. Ia membantu Intan turun dari tubuhnya.
...🌹🌹🌹🌹...
Sang fajar telah datang di ujung timur, membuat semua orang mulai mengawali aktifitasnya setelah bersenang-senang di alam mimpi. Di kala pagi seperti ini, komplek tempat tinggal Aji terlihat ramai, baik bapak-bapak atau ibu-ibu, semua berada di luar rumah. Mereka bercengkrama di pagi hari sebelum bekerja.
Seperti biasa, Intan selalu datang ke Kang sayur yang biasa berhenti di depan rumah tetangganya. Ia segera mengayun langkah sebelum geng ibu julid datang terlebih dahulu.
"Bang, bayam ada gak nih?" tanya Intan setelah sampai di tempat Kang sayur berhenti.
"Ada dong!" ucap Kang sayur tersebut seraya membungkukkan tubuhnya untuk mencari bayam.
"Selamat pagi Neng Intan!" sapa bu RT yang baru saja sampai di samping Intan.
"pagi Bu RT!" jawab Intan dengan di iringi senyum yang sangat manis.
Pagi ini adalah pagi yang berbeda bagi Intan, karena ia tidak mendengar celotehan bu RT seperti biasanya. Ia merasa lega karena tidak mendengar omongan pedas dari ketua geng julid tersebut.
"eh Neng! dengar-dengar mau pindah ya dari sini?" tanya Bu RT setelah memilih sayuran.
"Eh ternyata salah! ternyata celotehan pedas sebentar lagi di mulai nih!" gerutu Intan dalam hatinya.
"Iya Bu, saya menetap di Jombang. Suami pindah ngajar di sana," ucap Intan seraya menerima kantong belanjaan dari kang sayur.
__ADS_1
"oh, begitu ya Neng! aku kira Neng Intan gak tahan denger celotehan kami!" ujar Bu RT tanpa menatap Intan.
Intan tertegun mendengar ujaran bu RT, pertanyaan itu tepat pada sasarannya. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kedua Intan, "Nah, itu Bu RT tau! Tiga tahun lebih loh saya mendengar nyinyiran Bu RT dan kawan-kawan!' ucap Intan dengan senyum smirk. Ia lega akhirnya bisa bersuara sebelum pindah dari komplek ini.
"Makasih ya, Bang!" ucap Intan setelah menerima uang kembalian dari kang sayur.
Intan berlalu begitu saja, meninggalkan bu RT yang masih termangu setelah mendengar ucapannya. Bu RT tidak berani bersuara karena anggota geng nya belum berkumpul.
Intan terus mengembangkan senyumnya ketika mengayun langkah menuju rumah. Ia terlihat bahagia pagi ini karena berhasil membuat Bu RT bungkam.
"Tumben pulang belanja wajahnya sumringah?" tanya Aji setelah mengamati wajah Intan.
"Bosen Mas cemberut terus!" ucap Intan seraya mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di samping Aji.
Aji menjadi heran karena sikap aneh sang istri. Ia mencoba menerka apa kiranya yang membuat istrinya bisa menerbitkan senyuman semanis itu di saat pulang belanja, "Kamu dapat arisan kah?" celetuk Aji setelah mengamati wajah sang istri.
Intan mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan sang suami. Bibirnya pun menjadi mengerucut dengan mata yang terbelalak ke arah Aji. Intan berdiri dari tempat duduknya tanpa melepaskan pandangannya dari Aji.
"iya saya dapat arisan, Mas! arisan odol buat gosok gigi setahun!" jawab Intan asal sebelum masuk ke dalam rumah.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷