Surga Hitam

Surga Hitam
Aku tidak suka dengannya!


__ADS_3

Bruk!!


Aji harus menghentikan kegiatannya, ia segera menjauhkan wajahnya dari Intan setelah mendengar suara di luar kamar. Wajahnya terlihat masam karena ia gagal menyentuh bibir tanpa polesan lipstik itu.


"Tunggu sebentar! aku akan keluar," ucap Aji seraya menepuk bahu Intan.


Intan tidak mau ketinggalan, ia mengekor di belakang Aji karena penasaran apa kiranya yang terjadi dengan gadis penguntit itu. Jujur saja, rasanya ia ingin sekali berbuat anarkis kepada Rahma.


"Gus, apa dia pingsan?" tanya Intan setelah melihat Rahma tergeletak di lantai, pot bunga itu pun terguling hingga membuat tanah yang ada di pot itu berserakan di lantai.


Aji tertegun melihat tubuh yang tergelatak di lantai itu, ia bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa gadis itu bisa pingsan di balkon kamarnya? Ya, Aji masih mencari jawaban dari rasa penasarannya itu hingga ia melihat Intan sudah berlutut di dekat tubuh Rahma.


"bangun! hey bangunlah!" ucap Intan sambil menepuk pipi Rahma bergantian.


Intan tidak percaya jika Rahma benar-benar pingsan, ia pun sedang mencari cara untuk membuat Rahma segera bangun dari tempatnya saat ini, Intan memberikan kode kepada Aji agar tetap di tempatnya karena Intan menemukan cara untuk membuat Rahma menjerit.


"Awww!" Rahma reflek berteriak karena tiba-tiba merasakan sakit di tangannya karena cubitan keras dari Intan.


Intan tersenyum smirk saat melihat Rahma mulai membuka kelopak matanya, "mau akting jadi apa sih?" tanya Intan saat Rahma menatap ke arahnya.


Intan beranjak dari tempatnya, ia berdiri di sisi Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Rahma. Begitu pun dengan Aji, pria itu hanya menampakkan ekspresi datar ke arah Rahma, tapi sorot matanya mengisyaratkan sebuah kebencian kepada gadis cantik itu.


"Kenapa kamu di situ? kamu ingin mengintipku?" tanya Aji dengan ekspresi wajah yang tak bersahabat, apalagi ketika ia melihat Rahma bisa berdiri sendiri.


"Saya ... saya ... saya emmm ... itu ...." Rahma hanya menundukkan kepalanya, ia sudah tertangkap basah, mengelak pun tidak ada gunanya.

__ADS_1


"Sebagai salah satu pengajar di pondok, saya malu punya murid sepertimu! kamu seorang yang mempunyai ilmu, tapi kenapa perilaku mu seperti orang yang tak berilmu!" ujar Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Rahma, "kamu ini seorang santri, tidak sepantasnya kamu berbuat seperti ini! untuk apa kamu mengintip kegiatan saya dan pura-pura pingsan segala!" nada penuh kebencian terdengar jelas di indera pendengaran Rahma.


Rahma menitikkan air matanya ketika mendengar suara Aji yang di selimuti amarah itu. Tidak ada yang harus ia jelaskan lagi karena kebohongannya sudah di ketahui oleh Aji. Rencana pingsan dan mencari simpati Aji telah gagal, Rahma tidak menyangka jika Intan secerdik itu untuk membuatnya malu.


"kali ini Ummi harus tau jika salah satu santrinya ada yang melakukan tindakan memalukan!" ucapan Aji kali ini berhasil membuat Rahma menegakkan kepalanya.


"Jangan Gus! tolong jangan laporkan saya ke ummi!" Rahma menatap Aji penuh harap, genangan air mata semakin memenuhi pelupuk matanya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! aku pasti akan membicarakan semua ini dengan ummi, agar tidak ada lagi kejadian seperti ini," ucap Aji sebelum berlalu meninggalkan balkon kamar.


Rahma tergugu dengan kepala yang tertunduk. Ia menangisi nasibnya sendiri—nasib yang tak pernah berpihak kepadanya. Rencananya untuk mencari perhatian dari Aji selalu gagal, rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk mengeluarkan rasa sesak di dada.


"Saya harap setelah ini kamu menghapus obsesimu untuk memiliki suamiku! aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu rumah tanggaku!" Intan memberikan peringatan kepada Rahma dengan suaranya yang lembut tapi terdengar menyakitkan, "Ini baru awal! aku bisa melakukan lebih dari ini jika kamu terus mengganggu ketenangan ku!" ujar Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Rahma.


Intan meninggalkan Rahma begitu saja, ia menyusul Aji kembali ke kamarnya. Kini tinggallah Rahma seorang diri di balkon kamar itu. Ia masih menangis di sana sambil membayangkan bagaimana reaksi keluarga ummi Sarah nanti setelah mengetahui perilakunya yang tercela.


Rahma segera menjauh dari tempat itu, ia berlari meninggalkan balkon kamar yang menjadi saksi bagaimana ke-bo-do-han yang ia lakukan hari ini. Rahma menghentikan langkahnya di salah satu sudut ruangan yang ada di lantai dua, ia bersandar di sana dengan isak tangis yang tidak bisa di hentikan.


Cinta tak terbalas rasanya lebih menyakitkan dari patah hati. Obsesi yang besar akan muncul dari rasa sakit itu. Terkadang, dari obsesi yang besar akan muncul ide-ide di luar nalar yang bisa menghancurkan diri sendiri. Begitupun dengan Rahma, obsesinya telah membuat dirinya harus menanggung malu. Entah dari mana ia bisa memiliki ide untuk mencari perhatian Aji, bukan simpati yang ia dapat melainkan sebuah kebencian yang semakin dalam. Mungkin setelah ini Rahma hanya bisa mengagumi Aji dalam diam, ia harus mengubur dalam-dalam rasa cinta kepada pria beristri itu.


Sementara itu, keheningan terasa di kamar bernuansa putih itu. Aji duduk di sisi ranjang dengan tubuh yang membungkuk, ia sedang memikirkan hukuman apa sekiranya yang bisa membuat Rahma jera.


"Jangan terlalu di pikirkan, Gus!" ucap Intan ketika menepuk bahu Aji.


"ini tidak bisa dibiarkan, Tan! dia sudah keterlaluan," keluh Aji seraya menatap Intan yang berdiri di sisinya.

__ADS_1


Intan naik ke atas ranjang, tenaganya belum sepenuhnya pulih, ia masih sedikit lemas dan tidak seberapa kuat berdiri lama. Intan duduk bersandar di ranjang, ia menatap Aji yang sedang membelakanginya.


"Jujur saja, saya tidak mau Gus memikirkan hukuman untuk dia! saya tidak suka karena kesalahannya, pikiran Gus jadi fokus ke gadis itu," keluh Intan dengan helaian napas panjang setelahnya.


Aji mengembangkan senyumnya ketika mendengar ucapan Intan. Lagi dan lagi ia mengetahui sisi lain dari Intan, ternyata istrinya itu cukup posesif kepadanya.


"Lalu kamu maunya bagaimana?" tanya Aji, ia masih membelakangi Intan.


"Saya mau secepatnya pulang ke Tangerang saja, Gus," ucap Intan seraya merebahkan tubuhnya karena kepalanya mulai terasa ngilu.


"Baiklah, lusa kita pulang ke Tangerang." akhirnya Aji menyetujui permintaan Intan. Lagi pula ia harus segera kembali karena sudah lama meninggalkan kampus dan cafenya, ia sungkan kepada Farhan yang menghandle semua pekerjaan saat dirinya ada di Jombang.


Obrolan terus berlangsung diantara keduanya, mereka mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Aji menceritakan tentang pengalamannya selama di Mesir, bagaimana ia menjaga hati dari wanita-wanita cantik yang ada di kampusnya dulu.


"Aku tidak bisa mengingkari bahwa teman-teman kuliahku banyak yang cantik, Tan. Tapi aku tidak tertarik sedikitpun dengan meraka, malah setiap hari aku memikirkanmu, apalagi ketika kamu ...." Aji menghentikan ucapannya ketika mengalihkan pandangan ke arah Intan, ternyata istrinya itu sudah terlelap.


"Jadi, dia tidur saat aku bercerita tadi? Astagfirullah, aku seperti seorang pendongeng saja," gumam Aji seraya berdiri dari tempatnya saat ini. Ia pun ikut naik ke atas ranjang untuk beristirahat siang ini.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2