Surga Hitam

Surga Hitam
Gigitan Buaya?


__ADS_3

Detik demi detik terus berlalu, meninggalkan sejuta perasaan yang pernah singgah di hati. Waktu sangatlah kejam karena tidak mau menunggu semua insan yang terlarut dalam perasaan. Sedih dan bahagia, semua itu terus bergulir mengikuti kemana waktu akan membawanya.


Semua itu sama seperti bahtera rumah tangga Intan dan Aji. Mereka seakan dipermainkan oleh takdir, setelah perjalan panjang yang membahagiakan, mereka berdua harus dihadapkan dengan guncangan dari orang dalam. Masalah kecil yang berubah menjadi besar karena peletikan api yang disulut oleh sang ipar. Bagaimana bisa seorang istri merelakan suaminya untuk menikah lagi?


Tentu saja jawabannya adalah tidak. Intan pun menolak keras rencana konyol yang disusun oleh ipar dan mertuanya. Katanya cinta itu harus mengikhlaskan, tapi nyatanya cinta itu egois. Intan tidak mau berbagi dengan siapapun, ia hanya ingin memiliki Aji seorang diri tanpa mau berbagi dengan wanita mana pun.


Setelah melewati hari-hari penuh air mata, akhirnya Intan kembali ceria. Masalah yang sempat menghantam rumah tangganya, perlahan hilang dibawa angin entah kemana. Kesadaran mertua dan munculnya seorang pria penebus dosa telah membuat kobaran api yang membakar sang bidadari lenyap seketika. Kini, rumah tangga itu kembali berdiri kokoh dengan pondasi cinta yang semakin kuat.


Segala persiapan telah dilakukan Intan sejak pagi. Ia sangat antusias karena besok pagi akan berangkat ke Tangerang. Rindu kepada keluarga angkatnya akan segera terobati. Satu koper besar pun sudah sudah siap di dekat pintu kamar.


"akhirnya selesai juga," gumam Intan setelah mengemas beberapa oleh-oleh untuk keluarga yang ada di Tangerang.


Senja telah datang di langit barat. Kicauan burung terdengar saling bersahutan—terbang bersama kawan menuju sarang. Perlahan langit yang berhiaskan warna jingga telah berubah menjadi gelap. Suara adzan magrib pun mulai terdengar di segala penjuru, waktunya menunaikan ibadah tiga rakaat.


Intan telah selesai bersiap, ia sudah memakai mukenahnya, tinggal menunggu kedatangan sang suami yang masih berada di ruang keluarga. Tak lama setelah itu, akhirnya Aji masuk ke dalam kamar untuk mengambil peci.


"loh sudah pakai mukenah? berarti lampu merahnya sudah selesai 'kan Sayang?" tanya Aji setah melihat Intan duduk di tepi ranjang.


"Sudah dong, sejak tadi siang sudah suci, Mas!" jawab Intan seraya menatap Aji.


Senyum penuh makna terlukis di wajah tampan itu. Pikirannya mulai berkelana jauh untuk membayangkan sesuatu yang mestinya ia dapatkan beberapa hari ini.


"astagfirullah ...." gumam Aji setelah sadar dari lamunannya.


Intan terkekeh geli setelah mengamati gerak-gerik sang suami. Intan pun sudah paham kemana arah pikiran suaminya itu, semuanya tak jauh dari tempat tersembunyi yang ada di balik kain berenda.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, keduanya turun menuju lantai satu untuk menunaikan kewajiban tiga rakaat. Mereka mengayun langkah menuju tempat beribadah yang ada di dekat ruang makan. Tak lama setelah itu, suara Aji yang merdu mulai menggema di sana. Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an terdengar fasih dan merasuk ke dalam qalbu.


Beberapa menit kemudian, tiga rakaat pun akhirnya telah selesai dilaksanakan. Intan menyambut uluran tangan sang suami lalu dikecupnya punggung tangan itu dengan khidmat. Sebuah kecupan pun akhirnya mendarat di kening Intan.


Seperti biasa, setelah sholat magrib ... semua kembali ke aktivitas masing-masing. Intan menuju pesantren putra sedangkan Aji menuju pesantren putra. Keduanya memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan.


"Assalamualaikum ...." ucap Intan setelah masuk ke dalam ruangan. Semua santri sudah berkumpul di sana termasuk beberapa pengurus yang mau memperdalam Tilawatil Quran.


Suara merdu Intan mulai terdengar. Irama baru mulai terdengar di sana. Kali ini nadanya lebih tinggi dari biasanya, semua santri yang ada di dalam ruangan tersebut benar-benar kagum dengan menantu ummi Sarah tersebut. Tapi ada seorang wanita yang tidak suka jika Intan di puji oleh para santriwati. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Rahma.


Rahma berdecak ketika melihat Intan mengajarkan teknik baru dengan suara yang lebih merdu. Rahma masih kesal dengan Intan karena ia tidak pernah bisa mengalahkan wanita yang dicintai oleh pria yang selama ini ia sebut dalam doa.


Kurang beberapa hari lagi, Rahma akan pulang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan Aga beserta keluarga besarnya. Lamaran dadakan itu tidak bisa dibatalkan lagi karena orangtuanya pun sangat setuju jika dirinya segera dilamar oleh keponakan ummi Sarah.


...🌹🌹🌹🌹...


Bunyi alarm yang terus berdering berhasil membuat kelopak mata Intan seketika terbuka. Separuh jiwanya masih berada di alam mimpi yang indah, ia meraba nakas untuk mengambil ponselnya, mata belo itu seketika terbelalak karena melihat waktu yang ada di sana.


"Mas ... Mas ... Mas! buruan bangun Mas!" ucap Intan setelah menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh polos yang suami.


"Kita terlambat loh ini! sebentar lagi udah subuh!" ucap Intan seraya turun dari ranjang. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.


Mereka harus berangkat ke Tangerang tepat setelah sholat subuh. Tapi pada kenyataannya mereka malah terlambat bangun karena semalam begadang untuk melampiaskan semua rasa yang sempat tertahan. Entah berapa kali Aji menumpahkan bibit unggulnya di dalam gua garba milik istrinya itu.


Intan tak memperdulikan Aji yang masih tidur pulas. Ia segera keluar dari kamar untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Guyuran air dingin telah membuat jiwa Intan kembali sempurna, rasa kantuk pun lenyap sudah dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Intan kembali ke kamar. Ia berkacak pinggang tatkala melihat suaminya masih berkelana di alam mimpi. Intan pun berusaha untuk membangunkan Aji dari tidur nyenyaknya.


"Mas!! bangun dong!!" ujar Intan seraya menepuk pipi Aji.


Aji mengerjapkan mata karena Intan terus menepuk pipinya. Rasa kantuk seakan tak bisa hilang dari mata teduh itu. Aji kembali menutup kelopak matanya setelah Intan berhenti menepuk pipinya. Namun, tak lama setelah itu Aji terkejut bukan main ketika merasakan sakit di lengannya.


"Sayang!! sakit!!" teriak Aji ketika Intan tak kunjung melepaskan gigitannya.


"Ampun!! oke aku bangun sekarang!" ujar Aji seraya berusaha untuk menjauhkan lengannya dari Intan.


Tanpa banyak bicara dan drama apapun lagi, Aji segera turun dari ranjang. Ia mengambil sarungnya sebelum keluar dari kamar menuju kamar mandi. Ia ngeri sendiri melihat istrinya yang mendadak berubah seperti seekor buaya yang sedang menyerang mangsanya.


"Rasain tuh! pasti sakit kan gigitanku!" ujar Intan setelah Aji keluar dari kamar.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Yuhuuu ... aku punya rekomendasi cerita bagus nih😍yok mampir yok♥️



🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2