
Acara inti telah selesai dilaksanakan. Kini tiba waktunya menikmati hidangan yang sudah disediakan keluarga besar Pak Gatot. Semua beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat prasmanan.
"Gus, mau makan apa? mau saya ambilkan?" tanya Intan seraya menatap Aji.
"kita ambil bersama-sama saja ya," ucap Aji sebelum bangkit dari tempat duduknya. Ia meraih tangan Intan dan membantunya untuk berdiri dari tempatnya.
Dua sejoli yang sedang berbahagia itu mengambil makanan sesuai selera masing-masing. Setelah selesai mereka kembali ke tempat semula. Mereka membaur diantar dua keluarga yang sedang berkumpul jadi satu di ruang tamu itu.
Sementara itu, Farhan masih berada di tempat prasmanan. Ia bingung mencari di mana tempat penyimpanan sendok. Ia di ruangan itu seorang diri sambil mondar-mandir mencari sendok.
"Neng!" ucap Farhan tatkala pandangannya menangkap seorang wanita yang sedang berjalan ke arah belakang. Farhan segera menghampiri wanita yang sedang membelakanginya itu.
Farhan tertegun setelah wanita itu membalikkan tubuhnya, ternyata wanita berjilbab itu adalah Kinar. Pandangan keduanya bersirobok, menyelami betapa dalamnya telaga bening masing-masing.
"Ada apa ya Bang?" tanya Kinar setelah mengalihkan pandangan ke arah lain, tiba-tiba saja ia gugup saat berhadapan dengan Farhan.
"saya cari sendok tapi tidak ketemu," ucap Farhan dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik yang ada di hadapannya.
"Mari ikut saya ke dapur, saya carikan!" ucap Kinar sebelum melangkahkan kakinya ke dapur.
Farhan mengekor di belakang Kinar menuju arah belakang rumah ini. Farhan mengamati satu persatu hiasan dinding di sepanjang jalan menuju dapur. Farhan tertegun ketika melihat ada foto almarhum kakeknya bersama seorang pria gondrong yang terpasang di dinding sebelum memasuki dapur.
"Neng, ini foto siapa?" karena penasaran akhirnya Farhan memberanikan diri bertanya kepada Kinar.
"Oh, itu foto Papah saya sama almarhum kakek Amin," ucap Kinar setelah kembali ke tempat Farhan berdiri saat ini.
Farhan mulai tertarik dengan ucapan Kinar, ia penasaran bagaimana almarhum kakeknya bisa mengenal orangtua Kinar. Ia harus mencari tahu agar bisa mengetahui secara jelas.
"Lalu apa hubungannya Papahmu dengan kakek itu?" tanya Farhan sambil melihat Kinar yang sedang duduk kursi yang ada di ruang makan.
__ADS_1
Farhan pun ikut duduk di ruang makan itu, ia duduk di kursi yang ada di samping Kinar seraya menikmati makanan yang sejak tadi ia bawa dari depan ke belakang.
"Seingat saya dulu kakek Amin dan Papah itu bertemu di stasiun kereta. Waktu itu kalau tidak salah kakek Amin kena musibah ketika mau pulang menemui keluarganya, kakek Amin kejambret di stasiun," ucap Kinar sambil mengingat kejadian saat dirinya masih SD dulu.
"Lalu bagaimana?" Farhan semakin penasaran dengan cerita Kinar.
"Terus kakek Amin ketemu Papa di stasiun, kan Papah dulu itu preman, hehe ...." Kinar mengembangkan senyumnya hingga deretan gigi putih itu terlihat.
"kakek Amin sempat tinggal dirumah ini beberapa bulan, sebelum beliau kembali ke kota asalnya. Dulu Papah jual kalung Mamah buat ongkosnya kakek Amin pulang, karena dulu kan kami masih susah, jadi ya gitu harus jual kalung, terus uangnya dikasihkan ke Kakek," ucap Kinar dengan tatapan yang menerawang jauh.
Farhan tertegun mendengar cerita yang sebenarnya, ia tidak menyangka jika kakeknya harus berjuang hidup sebelum kembali ke kotanya. Farhan hanya menghela napasnya ketika mengingat mendiang kakeknya itu.
"memangnya Abang kenal sama kakek Amin?" tanya Kinar setelah melihat ekspresi Farhan yang berubah.
"Kakek Amin itu kakek saya. Beliau itu ayahnya Papa saya," ucap Farhan yang membuat Kinar membelalakkan matanya, "kalau boleh tahu siapa nama Papahmu?" tanya Farhan.
"Papah saya namanya Gatot Suratno, Bang," ucap Kinar seraya menatap Farhan. Ia masih tidak percaya jika Kakek Amin adalah kakeknya Farhan.
"Ehem!!"
Suara deheman berhasil membuat keduanya terkejut. Kinar membelalakkan matanya ketika melihat Tommy bersandar di kulkas dua pintu itu dengan tangan yang bersedekap.
"Bang!" gumam Kinar ketika melihat tatapan tidak suka dari sorot mata kakaknya itu.
Farhan bangkit dari tempat duduknya, ia mencoba bersikap biasa saja meskipun pria yang tak jauh darinya itu menampilkan wajah yang masam.
"kenapa kalian ada di sini berdua saja? acaranya kan di depan!" ucap Tommy dengan tatapan dingin, hal itu membuat tubuh Kinar meremang karena tatapan menakutkan itu.
"Buruan ke depan! acaranya belum selesai!" ujar Tommy dengan pandangan yang tak lepas dari Kinar.
__ADS_1
Farhan menganggukkan kepalanya kepada Tommy sebelum pergi dari ruang makan itu. Begitu pun dengan Kinar, gadis itu pun mengekor di belakang Farhan karena ia takut berada di dekat Tommy saat ini. Mungkin, setelah acara ini selesai, Tommy akan mengintrogasinya.
"Maaf ya Bang, kakak saya memang begitu, dia posesif banget kalau saya ngobrol dengan seorang pria yang belum Bang Tommy kenal sepenuhnya," ucap Kinar sebelum mereka sampai di ruang tamu.
Farhan menaikkan satu ujung bibirnya setelah mendengar penjelasan Kinar. Ia tidak menyangka di balik tubuh bertato itu ternyata tidak se liar yang ia bayangkan.
"apa pacarmu tidak takut jika ngobrol dengan abangmu itu?" tanya Farhan setelah mereka duduk di ruang keluarga karena di ruang tamu di penuhi kedua keluarga besar itu.
Kinar menghela napasnya yang berat ketika mendengar pertanyaan Farhan itu, jiwa jomblonya seakan menjerit karena malu untuk menjawab pertanyaan itu, "boro-boro pacar! saya ketahuan PDKT sama cowok aja dia marah! saya jomblo akutnya Ciputat!" ujar Kinar dengan wajah yang tertekuk karena teringat nasibnya.
Farhan mengulum senyumnya ketika melihat ekspresi Kinar. Ia sendiri tidak menyangka jika Tommy sangat posesif kepada adiknya sendiri, padahal Kinar bukanlah anak kecil lagi.
"itu sebuah tanda jika Abangmu sayang kepadamu, dia tidak mau adiknya sampai salah pilih pasangan," ucap Farhan setelah mengamati wajah Kinar dari samping.
Obrolan mereka harus terhenti karena keluarga kyai Yusuf pamit pulang. Farhan pun harus ikut pulang bersama rombongan itu menuju kontrakan Aji. Tak lupa ia mengembangkan senyumnya ke arah Kinar sebelum berlalu pergi.
"Cie, cie, cie ...." Intan menggoda Kinar setelah ia sendiri menyaksikan Kinar dan Farhan saling melempar senyum.
Intan tidak ikut pulang bersama Aji, ia harus tetap di sini untuk membantu membereskan rumah. Sebagai anak ia harus tau diri, meski Pak Gatot dan Bu Leni menyuruhnya ikut pulang bersama suaminya itu. Intan mencari keberadaan Bu Leni karena ia harus berterima kasih kepada ibu angkatnya itu.
"Mah, terima kasih atas semua ini. Maaf Intan sudah merepotkan Mamah," ucap Intan setelah menemukan bu Leni, ia menghambur ke tubuh wanita yang pernah membencinya itu.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷