Surga Hitam

Surga Hitam
Menjemput Aga,


__ADS_3

Suara adzan subuh telah berkumandang tepat setelah Aji keluar dari gerbang tol Jombang. Ia melakukan perjalanan malam setelah pulang dari rumah Intan. Ia mengambil cuti beberapa hari dari kampus untuk pulang ke Jombang—memberikan pelajaran kepada Aga, si pria bejat yang menghancurkan Intan.


Aji tak perduli meskipun tubuhnya lelah, ia tetap menempuh perjalanan panjang dari Ciputat menuju Jombang demi meluapkan amarah yang bergemuruh di da-da. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sepupunya yang saat ini masih berada di pesantren itu.


Aji menyandarkan kepalanya di kursi ketika mobilnya berhenti di perempatan lampu merah. Ia mengingat kembali apa saja yang di ucapkan Intan sebelum ia pulang dari kontrakan itu.


"Jangan melakukan apapun yang bisa mengotori tangan Gus, saya takut Gus terkena masalah."


"Gus tidak perlu menghukum Aga, biarkan alam yang menghukumnya nanti. Saya tidak mau tangan Gus berlumur dosa hanya karena membela wanita kotor seperti saya."


Aji meremas setir mobilnya ketika bayangan wajah Aga terlintas di matanya. Aji sudah tidak sabar mematahkan tangan yang sudah lama menyimpan dosa itu.


"Maaf, Tan! kali ini aku harus melakukan sesuatu," gumam Aji seraya menarik hand rem saat lampu hijau telah menyala.


Kota Jombang masih gelap karena sang surya masih bersembunyi di balik selimut tebal. Jalanannya pun masih sepi dari hiruk-priuk kendaraan, hal itu membuat Aji melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Mobil Avanza putih itu akhirnya sampai di halaman samping rumah Kyai Yusuf. Aji keluar dari mobilnya dan segera menganyun langkah menuju rumah. Ia merasakan kantuk berat setelah semalam suntuk berada di jalan tol.


"Loh!" Ninis menghentikan langkahnya tepat di saat Aji membuka pintu samping, "tumben pulang di hari-hari seperti ini?" Ninis sedikit terkejut karena kedatangan Aji yang mendadak itu.


"Assalamualaikum," ucap Aji setelah Ninis tak melanjutkan ucapannya.


"Waalaikumsalam," ucap Ninis, "sampai lupa aku jika kamu belum masuk rumah," lanjut Ninis.


Keadaan rumah sangatlah sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ummi Sarah dan Kyai Yusuf di rumah itu. Aji menatap Ninis dengan penuh tanda tanya.


"Ummi sama Abah ke Kediri, hari ini pulang kok," ucap Ninis sebelum Aji mengucapkan pertanyaannya.


"Oh, aku mau tidur dulu kak, tolong bangunkan aku jam sembilan pagi," ucap Aji sebelum berlalu pergi.


Ninis menatap Aji yang sedang berjalan menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Ia melihat ada sebuah amarah dan keresahan dalam sorot mata Aji. Namun, Ninis belum bisa bertanya setelah melihat Aji yang kelelahan.


"Dia pasti ada masalah! tidak mungkin dia pulang mendadak kalau tidak ada masalah yang penting," gumam Ninis seraya melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat teh hijau.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Aji menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Matanya tidak bisa di ajak kompromi lagi. Ia harus mengisi energi yang banyak sebelum bertemu Aga nanti. Dunia mimpi yang Indah telah menanti kedatangannya, perlahan Aji menutup kelopak matanya setelah merasakan udara segar yang mulai masuk ke kamarnya.


***


"Dik! bangun!" Ninis menepuk kaki Aji agar adiknya itu segera bangun, karena saat ini penunjuk waktu sudah berada di angka sembilan pagi.


Setelah beberapa kali merasakan kakinya terguncang, perlahan—Aji mulai membuka kelopak matanya. Ia mengerjap pelan karena jiwanya belum sepenuhnya kembali dari alam mimpi.


"Memang kamu mau kemana?" tanya Ninis setelah melihat Aji duduk bersandar di ranjangnya. Kali ini Ninis benar-benar penasaran, apalagi setelah melihat ekspresi Aji yang berbeda.


"Aku nanti mau keluar sebentar, Ning," jawab Aji seraya turun dari ranjangnya. Ia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.


Ninis mendengus kesal karena Aji tak kunjung menjawab rasa penasarannya. Ia segera keluar dari kamar itu untuk menemui putrinya yang sedang bermain bersama Rahma.


"Kira-kira apa yang sedang di sembunyikan oleh Aji ya?" Ninis bergumam saat berjalan menuju halaman samping.


Aji tak butuh waktu lama untuk membersihkan diri di kamar mandi. Setelah bersiap sepuluh menit, kini Aji sudah siap berangkat menjalankan misinya. Tak lupa ia sarapan terlebih dahulu untuk mengisi bahan bakarnya nanti.


Sarapan telah usai, Aji segera keluar dari rumah. Ia berjalan menuju pondok putra, di mana Aga berada saat ini. Ia melewati Ninis dan Rahma yang sedang duduk di gazebo.


"Ke pondok putra, Ning," ucap Aji setelah sekilas menatap Ninis.


Aji terus melangkah, membawa segenggam amarah untuk sepupunya sendiri. Amarahnya semakin memuncak tatkala Aji telah sampai di depan kamar Aga.


"Ga!" ucap Aji setelah membuka pintu kamar itu tanpa permisi dan salam.


Aga yang sedang memakai celana pun terkejut bukan main ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Ia heran melihat pembawaan Aji kali ini, "ada apa, Ji?" tanya Aga setelah selesai mengancingkan celananya.


"Ayo ikut aku sebentar ke rumah Abah yang ada di Mojokerto, ada hal yang sangat penting di sana! bersiaplah! aku tunggu sekarang," ucap Aji seraya menatap Aga dengan sorot mata penuh amarah.


Aga segera bersiap sesuai apa yang di perintahkan Aji. Ia meraih tas kecil yang biasa ia bawa kemana-mana. Tak ada rasa curiga sedikitpun yang hinggap di pikiran Aga, ia hanya mengikuti langkah sepupunya itu.


Akhirnya, kedua pria itu berjalan keluar dari pondok putra. Mereka berjalan menyusuri kebun belakang rumah kyai Yusuf agar segera sampai di halaman utama.

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" tanya Ninis setelah kedua pria itu lewat hadapannya.


"Aku mau ke Mojokerto, Ning. Sebentar kok!" ucap Aji tanpa menatap Ninis.


"Ada apa, Ga?" Ninis mengalihkan pandangannya ke arah Aga.


"Saya tidak tau, Ning. Saya hanya mengikuti ajakan Aji saja."


Perasaan Ninis semakin tak enak. Banyak pikiran buruk yang bersarang di kepalanya apalagi ketika melihat ekspresi yang di tunjukkan Aji saat ini. Jantungnya berdebar kencang ketika membayangkan hal-hal yang tidak di inginkan terjadi kepada kedua adiknya.


"Kami berangkat dulu, Ning." Aji akhirnya pamit kepada Ninis karena ia sudah tidak sabar lagi untuk melampiaskan semua amarah yang berapi-api dalam dirinya.


Akhirnya, kedua pria itu masuk ke dalam mobil Avanza putih. Aji yang mengemudikan mobilnya ke Mojokerto, di mana ada rumah kosong milik Kyai Yusuf yang belum terpakai, rencana rumah itu akan di renovasi Ninis setelah suaminya pulang dari luar negeri.


"kalau boleh tau, apa yang kita lakukan nanti setelah sampai di Mojokerto, Ji?" tanya Aga seraya mengalihkan pandangannya ke arah Aji.


"Kita akan menyusun strategi untuk menemukan Tata yang sudah lama hilang!" ujar Aji dengan seringai jahat di wajahnya, "aku butuh bantuanmu!" lanjut Aji.


"Hah! Tata?" Aga terkejut ketika mendengar nama itu di sebut oleh Aji.


Aji hanya tersenyum smirk ketika melihat ekspresi Aga saat dirinya menyebut nama 'Tata'. Inilah yang dia inginkan, melihat langsung ekspresi Aga saat dirinya menyebut nama wanita yang saat ini sedang ia perjuangkan.


"Asal kamu tahu, Tata adalah gadis yang sudah lama aku incar untuk menjadi istriku nanti, jauh sebelum aku berangkat ke Mesir," ucap Aji seraya menatap Aga yang mulai resah.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ maap ye baru up lagi, tadi udah ngetik, eh ketiduran🙏😂


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2