Surga Hitam

Surga Hitam
Menanti kejutan,


__ADS_3

Hari yang di tunggu Intan akhirnya datang. Sebuah kotak kado berwarna hitam telah ia siapkan untuk suami tercinta dan rencananya kado itu akan ia berikan nanti malam—tepat di saat malam Anniversary pernikahan yang kelima.


Pagi ini Intan berencana pergi ke salon setelah Aji berangkat mengajar. Intan akan melakukan perawatan tubuh agar Aji semakin bahagia dengan pemberiannya nanti malam.


"Nanti perginya di antar supir saja. Jangan naik motor sendirian! biar aku saja yang naik motor ke sekolah!"


Begitulah jawaban yang diucapkan Aji saat Intan berpamitan kepadanya. Ia tak mau istrinya wara-wiri di jalan seorang diri. Ya, memang kekhawatirannya sedikit berlebihan tapi mau bagaimana lagi, memang itulah yang terbaik untuk Intan.


Intan mematut diri di depan cermin, ia sedang bersiap pergi ke salon. Hari ini semua pekerjaannya sudah selesai dilakukan. Tepat pukul setengah sepuluh pagi, Intan keluar dari kamar. Ia menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan menuju kamar ummi Sarah.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Intan membuka pintu kamar tersebut. Ia segera masuk untuk pamit sebelum pergi. Intan mengembangkan senyumnya ketika melihat ummi Sarah sedang membaca kitab.


"Mi ...." ucap Intan dengan suara yang kalem.


"Masuklah, Nak!" ummi Sarah memberikan isyarat agar Intan duduk di sampingnya.


Intan mengayun langkah menuju tempat ummi Sarah, ia duduk di samping mertuanya itu dengan iringan senyum yang sangat manis.


"Mi, Intan mau pamit keluar. Tadi Intan sudah izin Mas Aji kok, Mi," ucap Intan seraya menatap ummi Sarah.


"Kamu pergi diantar sopir 'kan?" tanya ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.


"iya Mi, Intan diantar pak Denan," ucap Intan sambil menganggukkan kepalanya.


"ya sudah, kau begitu hati-hati di jalan!" ummi Sarah menepuk bahu Intan seraya mengembangkan senyumnya.


Intan beranjak dari samping ummi Sarah setelah mendapat izin. Tak lupa ia mengecup punggung tangan ibu mertuanya itu sebelum berlalu dari kamar. Intan meninggalkan sebuah senyuman yang sangat manis untuk ummi Sarah sebelum menutup pintu kamar.


Ummi Sarah menghela napasnya panjang setelah Intan keluar dari kamar. Beliau menyandarkan diri di sofa dengan kepala yang menengadah. Hatinya gelisah karena tak kunjung mendapat kepastian dari Aji. Beberapa hari ini putranya itu terus menghindar jika sedang berdua saja dengan beliau, apalagi ketika kemarin Rahma menanyakan kabar tentang poligami, hal itu semakin membuat ummi Sarah menjadi bingung.

__ADS_1


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" gumam ummi Sarah dengan suara yang lirih.


...🌹🌹🌹🌹...


Langit terlihat gelap karena bulan dan bintang enggan menampakkan diri. Awan gelap tengah menguasai langit malam, suara adzan isyak pun telah selesai berkumandang, waktunya menunaikan kewajiban empat rakaat.


Aktifitas di pesantren kembali dimulai setelah selesai sholat isyak, begitu pun dengan pesantren putra—saat ini semua santri dengan mengikuti pelajaran kitab Jurumiyah yang di ajarkan oleh Aji tiga kali dalam satu minggu.


"Hari ini cukup satu bab saja yang kita tafsirkan! dipertemuan berikutnya jangan lupa ingatkan saya untuk membahas pertanyaan dari Aziz!" ucap Aji seraya menutup kitabnya, "pertemuan kali ini mari kita akhirnya dengan membaca surah al-ikhlas sebanyak tiga kali," lanjut Aji sambil menatap para santri yang ada di hadapannya.


Suara para santri yang membaca surah Al-ikhlas terdengar nyaring. Aji menutup kelopak matanya tatkala mendengar surah yang dibacakan oleh santrinya, tiba-tiba saja hatinya bergetar tanpa sebuah alasan yang jelas.


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh ...." ucap Aji setelah semua santri selesai membaca surah Al-Ikhlas, ia pun bangkit dari tempatnya.


Satu persatu para santri tersebut mencium punggung tangan Aji. Mereka membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada ustad muda yang menjadi idola para santri itu.


Raut wajah Aji terlihat bahagia karena sebentar lagi ia akan mendapat kejutan dari sang istri. Senyumnya yang sangat manis terus mengiringi langkahnya menuju ndalem. Beberapa menit kemudian, Aji telah sampai di halaman rumah, ia masuk lewat pintu samping. Namun, langkahnya harus terhenti ketika melihat ummi Sarah berdiri di dekat sofa yang ada di ruang keluarga.


"Ji, ikut Ummi sebentar!" ucap ummi Sarah sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ruang tamu.


Akhirnya, mau tidak mau Aji mengikuti langkah sang ibu. Ia harus menunda rasa bahagia yang sempat singgah di hati dan menggantinya dengan rasa penasaran tentang sesuatu yang akan di bahas.


Aji duduk di samping ummi Sarah, ia bergeming tanpa menatap wajah ummi Sarah. Tatapannya lurus ke depan—menyiapkan hati untuk menerima segala kalimat yang akan ia dengar sebentar lagi.


"Apa kamu sudah memikirkan permintaan ummi tempo hari?" tanya ummi Sarah dengan suara yang lirih.


"bukankah jawabannya sudah jelas, Mi?" Aji bertanya balik seraya menatap ummi Sarah.


"kenapa sih, Nak? dimana salahnya, jika kamu mengikuti saran Ummi?" kening ummi Sarah berkerut karena menahan sesuatu yang ada di dalam hati.

__ADS_1


"tidak ada yang salah, Mi! yang salah hanya Aji saja, karena tidak bisa untuk mengikuti permintaan ummi," ujar Aji dengan sorot mata tidak suka, suaranya pun sedikit naik.


Hati ummi Sarah seperti tersayat pisau ketika melihat penolakan dari Aji, apalagi ketika melihat ekspresi wajahnya, membuat ummi Sarah semakin terluka. Selama ini Aji tidak pernah berani menatap ummi Sarah dengan sorot mata yang diselimuti amarah, baru kali ini Aji berani bersikap seperti ini kepada sang ibu.


"Ji, kenapa kamu jadi seperti ini, Nak? sejak kapan kamu berani menatap ummi dengan sorot mata yang dipenuhi amarah?" tanya ummi Sarah dengan mata yang berembun.


Aji mengalihkan pandangannya ke arah lain. Helaian napas berat terdengar di sana. Aji memejamkan mata karena merasa bersalah telah bersikap tidak sopan kepada ummi Sarah.


"Aji minta maaf atas sikap yang Aji tunjukkan kepada Ummi! maaf Aji tidak bisa melaksanakan keinginan Ummi kali ini!" ucap Aji seraya meraih tangan ummi Sarah.


Setelah minta maaf, Aji pamit pergi dari ruang tamu. Ia tidak mau berlama-lama bersitegang dengan ibunya sendiri karena masalah ini. Lagi pula Aji sendiri sudah ada janji bersama Intan malam ini.


Aji melewati ruang keluarga sebelum sampai di anak tangga pertama. Ia harus menapaki satu persatu anak tangga agar sampai di kamar—dimana ada bidadari surga yang sedang menunggu kedatangannya.


"Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat sesuatu yang ada di dalam kamar!" gumam Aji setelah sampai di depan pintu kamar.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Maaf ya kak, akhir-akhir ini aku upnya cuma satu bab aja,🙏aku lagi ngerawat mertua sakit😭jadi gak bisa up dua bab🙏yang tau story Wa ku pasti tau tiap hari aku ngartis dimana😣 kalau keadaan udah stabil aku pasti up dua bab lagi kok😘mohon doanya ya🙏


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2