Surga Hitam

Surga Hitam
Flashback 1: Hilangnya madu


__ADS_3

Flashback on (Empat tahun yang lalu)


Aga menatap kepergian Tata yang tak lain adalah Intan, ia geram karena gadis itu tak meresponnya. Aga berkacak pinggang di halaman samping Kyai Yusuf sambil memikirkan cara agar gadis itu takluk kepadanya.


Sebuah ide gila muncul di kepala Aga, seringai menakutkan terlihat jelas di wajahnya. Aga segera melangkahkan kakinya untuk melihat situasi yang ada di dalam rumah.


Aga melihat Intan sedang mencuci piring di dapur, lalu ia mengedarkan pandangan untuk mencari tempat yang tepat saat menjalankan aksinya nanti. Aga mengulas senyum penuh kemenangan setelah melihat gudang penyimpanan alat kebersihan yang sedang terbuka. Aga mengendap-endap agar tidak ketahuan Intan jika dirinya masuk ke dalam gudang itu.


"Tempat yang tepat!" gumam Aga setelah melihat gudang yang cukup bersih, ia melihat lipatan kardus yang tertumpuk di sudut gudang, lalu ia mengambil dan menyusun beberapa kardus itu di lantai. Tak lupa Aga memastikan kunci pintu itu tidak rusak.


Aga segera keluar untuk mencari cara agar bisa membawa Intan ke dalam gudang ini. Ia berdiri di depan pintu gudang untuk mengamati sosok yang sedang membelakangi nya itu. Aga semakin tertantang setelah melihat tubuh yang ada di balik pakaian syar'i itu.


"Aku harus berhasil hari ini juga!" gumam Aga dalam hatinya.


Sementara itu, Intan sendiri belum menyadari jika gerak-geriknya sedang di awasi Aga. Ia masih berkutat di dapur dengan segala alat tempur yang ada di sana. Ia bernyanyi lagu-lagu religi untuk mengusir rasa sepi yang sedang menghampirinya.


"di mana tempat sapu dan alat-alat kebersihan yang lain?" Intan terkesiap karena tiba-tiba saja Aga muncul di belakangnya.


"Astagfirullah!" seru Intan seraya membalikkan tubuhnya, "semua peralatan kebersihan ada di gudang itu," Intan menunjuk pintu gudang yang tertutup rapat.


"Tolong tunjukkan! aku belum tau sama sekali seluk beluk rumah ini," ucap Aga sambil menatap Intan penuh arti.


Hati Aga bersorak gembira ketika Intan masuk ke dalam jebakannya. Ia berjalan di belakang Intan sambil membayangkan betapa gurihnya daging empuk seorang gadis seperti Intan. Keduanya pun telah masuk ke dalam gudang itu.


Klek!


Intan segera membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara pintu yang terkunci. Ia membelalakkan mata ketika melihat Aga memainkan kunci gudang di tangannya.

__ADS_1


"Buka pintunya!" teriak Intan dengan suara yang gemetar, ia benar-benar ketakutan saat ini.


"Ssssttt!" Aga mendesis pelan seraya melangkahkan kakinya ke depan untuk mendekati Intan, "jangan berisik! di rumah ini tidak ada siapapun, jadi jangan buang suara merdumu itu. Berteriaklah nanti ketika merasakan ke-nik-matan yang aku berikan!" ujar Aga dengan seringai jahat di wajahnya.


"Tolong! tolong!!" teriak Intan seraya memundurkan langkahnya karena Aga yang semakin mendekat.


Aga tertawa lepas melihat wajah Intan yang ketakutan. Ia semakin berambisi untuk mendapatkan tubuh gadis berkerudung itu. Langkahnya semakin cepat agar bisa menangkap tubuh Intan.


"Jangan mendekat! atau aku akan melaporkanmu kepada Kyai Yusuf!" Intan mencoba mengancam Aga agar tidak melakukan hal buruk kepadanya.


Aga tak gentar meskipun mendapat ancaman dari Intan. Tanpa banyak bicara ia semakin mendekati Intan yang berusaha kabur darinya. Aga segera meraih lengan Intan kala gadis itu akan mengambil peralatan yang bisa membuat Aga celaka.


"Kamu tidak akan lolos dariku! kamu harus menjadi milikku!" ucap Aga seraya mengeratkan tangannya di lengan Intan.


Intan terus berteriak minta tolong, tapi tak ada satu pun orang yang mendengarnya. Ia terus menangis, apalagi ketika Aga menarik kerudungnya hingga rambut hitam yang panjang itu tergerai di hadapan Aga.


"Aku tidak akan melepaskanmu meskipun kamu memohon sampai suaramu habis!" ucap Aga dengan tatapan mata yang seram.


"B-i-a-d-a-b!" umpat Intan setelah merasakan tangan Aga menjelajahi pipinya.


Air mata Intan terus berjatuhan ketika Aga mencengkram kedua pipinya. Ketika melihat Aga yang lengah, Intan menendang bagian tengah tubuh Aga, hal itu membuat Aga melepaskan tangannya dari tubuh Intan. Ia meringis kesakitan karena tendangan Intan tepat mengenai dua biji salak miliknya.


"Gadis kurang Ajar!" teriak Aga ketika melihat Intan menggedor pintu gudang sambil berteriak minta tolong.


Aga tidak bisa menahan h-a-s-r-a-t dan amarahnya lagi, sudah cukup ia bermain-main dengan kucing manis yang terlihat menggoda tanpa kerudung itu. Ia segera menghampiri Intan dan menarik tubuh gadis itu hingga terjerembap ke lantai.


Kesucian seorang gadis yang baru saja lulus SMA sedang di pertaruhkan saat ini. Gadis itu tidak bisa melawan karena kekuatannya sudah habis, harapannya telah sirna. Bunga yang sedang bermekar indah kini telah layu setelah kumbang menghisap madunya.

__ADS_1


Intan menangis, menjerit dan meratapi apa yang sedang terjadi dengannya saat ini. Ia hanya bisa menangis, apalagi ketika pria ja-ha-nam itu tega menutup mulutnya dengan jilbab biru yang sudah hilang kesuciannya itu.


Kini, gadis pilihan Aji itu telah ternoda. Tidak ada yang bisa menyelamatkan harga dirinya saat ini. Intan terluka, ia bukan hanya kehilangan darah suci yang akan ia persembahkan untuk kekasih halalnya nanti, tapi ia pun mendapat beberapa luka lebam di bagian tubuhnya karena kekerasan yang di lakukan oleh Aga.


"Ternyata kamu masih perawan! baguslah! setidaknya aku bisa merasakan bagiamana bunga yang masih terjaga keindahannya," ucap Aga seraya melihat tubuh tak berdaya yang ada di hadapannya, ia segera memakai pakaiannya dan setelah itu pergi begitu saja, meninggalkan Intan yang sedang meringkuk di atas alas kardus yang berjajar di lantai.


"Aku akan melakukan hal seperti ini lagi di saat ada kesempatan. Jadi, bersiaplah menikmati hari-hari penuh warna dariku," ujar Aga ketika menghentikan langkahnya di depan pintu, "Awas kalau kamu berani mengadu ke siapapun! aku bisa lebih kejam dari ini!" Aga mengancam Intan tanpa rasa iba sedikitpun.


Intan tergugu, ia frustasi melihat keadaannya saat ini. Ia semakin menangis histeris tatkala melihat bercak merah yang ada di atas kardus. Hilang sudah kehormatan yang selama ini ia jaga dengan baik. Intan memunguti pakaian yang berceceran di lantai gudang. Ia bersandar di dinding gudang setelah memakai pakaiannya seperti semula.


"Kenapa? kenapa harus aku yang mengalami nasib seperti ini!" teriak Intan sambil memukulkan tangannya ke tembok. Tak ada lagi kata yang bisa menggambarkan keadaan Intan saat ini selain 'hancur'.


Intan berdiri dari tempatnya saat ini, ia tertatih-tatih berjalan keluar dari tempat terkutuk ini. Rasa sakit tak hanya di rasakan Intan di hatinya, tapi semua tubuhnya pun merasakan sakit yang teramat sakit—terutama di bagian sensitifnya.


"Aku harus pergi dari sini! aku tidak mau menjadi budak pria ke-pa-rat itu!" ucap Intan saat membuka pintu gudang.


_


_


Akan ada satu bab lagi tentang flashback ini🙏 Oh ya btw kalau pengen nyambung, baca eps 3 yah🤣


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2