
Lima hari telah berlalu begitu saja, kini kondisi Intan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia pun sudah pulang ke kontrakan sejak kemarin sore. Tak ada lagi air mata seperti beberapa hari yang lalu. Perlahan, wajah itu kembali ceria karena dukungan dari orang-orang terdekatnya.
"Jangan berkecil hati, menjadi seorang gadis yang bukan perawan bukanlah hal yang terlalu buruk. Kamu harus semangat, agar hidupmu menjadi lebih baik." Ya, begitulah kalimat penyemangat yang di ucapkan oleh Tommy saat Intan masih terpuruk di rumah sakit.
"Jangan khawatir, Nak. Kamu pasti bisa mendapatkan suami yang bisa menerima keadaanmu." Inilah yang di ucapkan Pak Gatot sebelum Intan keluar dari rumah sakit.
Intan bahagia, karena mempunyai tiga orang yang sangat perduli dengan hidupnya. Ia tidak bisa membayangkan jika saat itu Tuhan tidak mempertemukan dirinya dengan Kinar, pasti hidupnya lebih hancur dari ini.
Langit mulai menampakkan rona jingga, sang raja sinar mulai bersiap pulang ke tempat peraduannya. Burung-burung mulai berterbangan mencari sarangnya sebelum hari menjadi gelap.
Intan duduk di teras rumah untuk menikmati karya Sang Pencipta yang sangat indah untuk di pandang. Ia duduk bersila di kursi yang ada di teras rumah sambil mengelus-elus kucing kesayangannya itu—Blacky.
"Kamu harus Jujur kepada Gus mu, dia harus tau kelakuan bejat saudaranya itu. Terserah dia mau mengambil keputusan bagaimana, asal kamu sudah membuka kejahatan salah satu keluarganya." Inilah nasihat yang di berikan Kinar tadi siang sebelum dia berangkat ke studio.
Intan menghela nafasnya kasar, akal dan hatinya sedang berperang saat ini. Ia takut jika harus membuka kembali luka lama yang mulai kering itu, ia takut Aji semakin membencinya.
"Mungkin saran Kinar ada benarnya, setidaknya bebanku tidak terlalu berat setelah ini," gumam Intan sembari menatap langit yang semakin menampakkan siluet jingga.
Intan segera bangkit dari tempat duduknya, mengangkat kucing hitamnya ke atas pundak. Ia masuk untuk mengambil ponsel yang ada di kamar, ia ingin menghubungi Aji untuk membuat janji bertemu. Namun baru saja ia melangkah, ada mobil Avanza putih yang berhenti di depan rumahnya.
Tak perlu lagi membuat janji bertemu, karena orang yang akan di temui Intan saat ini telah datang. Aji keluar dari mobilnya, ia segera menganyun langkah untuk menemui gadis yang sedang berdiri di depan pintu itu.
"Assalamualaikum ...." ucap Aji setelah berdiri di hadapan Intan.
"Waalaikumsalam ... silahkan masuk, Gus." Intan memberikan jalan kepada Aji, lalu ia mengekor di belakang pria yang sedang berjalan masuk ke dalam kontrakannya.
Aji duduk di kursi tunggal yang ada di dekat pintu, lalu ia meletakkan buah tangan yang ia bawa di atas meja, "ini makanan favoritmu, Tan." suara Aji kali ini terdengar lebih lembut, bukan suara yang di bumbui dengan amarah seperti beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"terima kasih, Gus," ucap Intan seraya menganggukkan kepalanya. Ia mencoba bersikap biasa di hadapan Aji meskipun irama jantungnya berdetak tak beraturan.
Intan beranjak dari tempat duduknya, ia pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dingin yang tersimpan di dalam kulkasnya. Tak lupa ia menyiapkan brownis pandan yang ia beli tadi pagi.
"Silahkan, Gus. Maaf hanya ada ini di kulkas saya," ucap Intan setelah meletakkan nampan yang berisi minuman dalam botol dan piring berisi brownis pandan.
"terima kasih, maaf telah merepotkanmu," ucap Aji seraya menatap Intan, "bagaimana keadaanmu sekarang? apa perutmu masih sakit?" tanya Aji setelah Intan duduk.
"sudah lebih baik, Gus. Alhamdulillah ..." ucap Intan sambil menatap Aji.
Intan kembali masuk, entah apalagi yang ia lakukan di dalam sana. Lima menit kemudian, Ia kembali lagi ke ruang tamu dengan pakaian yang lebih sopan.
Aji mengembangkan senyumnya, ketika melihat Intan memakai rok panjang yang di padukan dengan kaos oversize lengan pendek. Degup jantung Aji kembali normal, ia tidak harus menahan sebuah rasa yang bergejolak ketika melihat penampilan Intan sebelum ini, tadi ia memakai hotpans setengah paha yang di padukan dengan kaos tanpa lengan dengan model neck V, membuat dadanya terlihat menggoda.
"Kenapa Gus senyum-senyum sendiri? apa saya terlihat lucu?" tanya Intan setelah melihat Aji tersenyum ke arahnya.
Intan memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak mau berlama-lama menatap mata teduh itu. Mata yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali, meskipun setelah merasakan sakit hati karena amarah yang sempat menyelimuti mata itu.
"Saya harap kita tidak membahas masalah surga dan neraka lagi," ucap Intan dengan pandangan lurus ke depan, ia sedang tidak ingin menatap Aji saat ini.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang membuat tidak suka dengan dua hal itu?" Aji mulai memancing Intan agar ia menemukan jawaban dari teka-teki yang di berikan Pak Gatot dan kedua anaknya.
Intan menatap Aji dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan. Ia tidak suka membahas hal-hal yang mengarah ke agama, "membahas hal yang lebih menyenangkan sepertinya jauh lebih baik," ucap Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.
Aji menganggukkan kepalanya beberapa kali, Ia mulai melihat gurat keresahan di wajah Intan. Kali ini ia harus berhasil mengungkap apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Intan. Hatinya sudah siap menerima semua jawaban yang akan di ucapkan Intan nanti.
"Tan, Allah itu lebih suka melihat kaum hawa yang mau menutup aurat. Pakaian yang tertutup bisa melindungi kaum hawa dari panasnya api neraka," ucap Aji sambil menatap Intan.
__ADS_1
Intan menaikkan satu sudut bibirnya, rasanya ia ingin sekali tertawa lepas setelah mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Aji, "berarti mereka semua menutup aurat bukan karena Allah dong! tapi karena takut merasakan hukuman di neraka! Jadi, siapa sebenarnya yang harus kita takuti? Neraka atau Allah?" sarkas Intan sambil menatap Aji dengan tatapan tajamnya.
"Setahu saya, dulu Kyai Yusuf pernah menasihati semua santrinya, dengan mengatakan 'lakukan semua kebaikan karena Allah. Jangan karena imbalan pahala ataupun karena hal lain', lalu apa yang harus saya lakukan, Gus?" Intan melayangkan pertanyaan menohok untuk Aji.
Aji tersenyum setelah mendengar pertanyaan Intan. Ia senang mendengar pertanyaan itu, meskipun ia sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Aji merasa lega, karena Intan masih memegang pedoman dari sang Abah meski keadaannya tak seperti dulu.
"Kenapa Gus tidak menjawab pertanyaan saya?" tanya Intan lagi setelah melihat Aji hanya diam saja, "Saya pernah menutup aurat dan melakukan semua perintah Allah, tapi nyatanya Allah tidak sayang dengan saya. Allah membiarkan saya terjerumus dalam panasnya neraka yang ada di dunia ini," ujar Intan dengan kedua manik hitam yang menatap tajam ke arah Aji.
"Apa maksudmu, Tan? jangan berbelit lagi," Aji mencondongkan wajahnya ke arah Intan. Ia semakin penasaran dengan semua maksud kalimat yang di ucapkan oleh Intan.
Intan tertawa lepas setelah melihat respon Gus nya itu. Tawa yang terdengar pilu di telinga Aji, Air mata itu kembali menggenang di pelupuk mata Intan, bulirnya pun perlahan turun membasahi pipi mulusnya.
"Saya tidak mau terlalu membayangkan bagaimana rasanya surga dan neraka di akhirat nanti. Menurut saya, apa yang membuat saya senang di dunia ini adalah surga, sedangkan yang menyakitkan dan yang membuat hati saya panas, perih dan sakit adalah neraka. Allah telah menempatkan saya di neraka dunia dengan mengirim si ke-pa-rat Aga ke rumah Gus!" ujar Intan dengan rahang yang mengeras ketika menyebut nama Aga.
Aji terkesiap ketika mendengar nama sepupunya di sebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak, setelah menerka apa kiranya yang di lakukan Aga kepada gadis pilihannya itu.
"Mungkin sudah saatnya Gus tahu semua yang terjadi empat tahun yang lalu. Aga telah ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷