
Lantunan doa terus terucap dari bibir seorang pria yang sedang duduk di depan ruang operasi. Ia duduk seorang diri di bangku panjang itu, lengannya di lilit perban untuk menutupi luka yang baru saja selesai di jahit.
Kepala Aji tertunduk, jari-jarinya saling bertautan. Ia resah karena sudah satu jam Intan berada di ruang operasi. Dari hasil pemeriksaan dokter yang di lakukan tadi saat mereka tiba, Intan mengalami gagar otak ringan dan keretakan tempurung bagian kepalanya. Dokter pun memutuskan untuk melakukan tindakan operasi karena tulang Intan yang retak ada yang masuk kedalam, dokter pun harus menyusun lagi struktur tulang tersebut.
"Ji ...." Aji segera menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara kakak sulungnya, Gus Sholeh. Ia menatap Gus Sholeh yang baru saja duduk di sampingnya.
"Besok pagi kamu harus datang ke POLSEK, kamu harus membuat laporan kepolisian," ucap Gus Sholeh.
"Tidak bisakah kasus ini di tutup, Mas? jujur saja aku enggan untuk berurusan dengan Polisi, Mas. Aku ingin fokus merawat Intan." Aji menatap Gus Sholeh dengan penuh harap.
"Ya sudah besok Mas usahakan masalah ini selesai. Mobilmu masih ada di sana, ada beberapa alat mobil yang hilang," ucap Gus Sholeh seraya membuka tas kulitnya, "ini ponselmu dan Tata 'kan?" Gus Sholeh menyerahkan dua ponsel kepada Aji.
Gus Sholeh mengalihkan pandangannya ketika mendengar derap langkah seseorang, ternyata itu Gus Aslam, putra kedua Kyai Yusuf yang sedang mendorong kursi roda Ummi Sarah.
"Ummi sudah sehat?" tanya Gus Sholeh ketika Ummi Sarah berada di antara dirinya dan Aji sedangkan Gus Aslam berdiri di belakang Ummi Sarah.
"Sudah. Ummi sehat kok, cuma kaki Ummi aja yang sakit," ucap Ummi seraya menatap Aji yang hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
Rasanya, Ummi Sarah ingin menangis saja ketika melihat wajah putranya. Beberapa luka lebam terlihat jelas di wajah putih Aji—dan yang paling menyesakkan adalah ketika Ummi Sarah melihat kesedihan yang terpancar dari sorot mata Aji.
"Kenapa Intan bisa terluka parah, Nak?" tanya Ummi Sarah seraya menatap Aji.
"Seharusnya Aji yang ada di posisi Intan saat ini," sesal Aji yang membuat kedua kakaknya mengalihkan pandangan ke arahnya, "Intan mendekap tubuh Aji dari belakang ketika salah satu penjahat itu akan menghantam kepala Aji dengan kayu," ucap Aji dengan kepala yang tertunduk, suaranya pun bergetar karena perasaan yang membuncah ketika mengingat kejadian yang menimpa Intan.
Ummi Sarah membekap mulutnya setelah mendengar cerita yang di sampaikan oleh Aji. Beliau semakin merasa bersalah kepada Intan, karena sempat memandang sebelah mata gadis bertato itu.
__ADS_1
"Ya Allah ...." gumam Ummi Sarah dengan isak tangis yang terdengar pilu.
Kedua kakak Aji hanya bisa menghela napas setelah mendengar cerita itu. Mereka pun ikut sedih membayangkan bagaimana keadaan Intan saat ini. Semua orang termenung dalam pikiran masing-masing.
Beberapa puluh menit kemudian, lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi telah padam. Ruang operasi akhirnya terbuka lebar, dua orang perawat mendorong brankar Intan keluar dari ruang operasi.
Aji berdiri dari tempatnya, ia menyusui kedua perawat itu menuju ruang ICU. Namun, langkah Aji harus terhenti tepat di depan ruang ICU.
"Maaf Pak, Anda tidak bisa masuk. Pasien belum melewati masa kritisnya. Anda bisa memantau keadaan pasien dari kaca yang ada di sana," ucap perawat jaga ruang ICU.
Aji akhirnya menuju tempat yang di tunjuk oleh perawat tersebut. Ia berdiri di sana sambil menatap tubuh Intan yang terlihat lemah, kepalanya terbalut perban, beberapa peralatan medis pun terpasang di tubuh tak berdaya itu
"Nak, bagaimana keadaan Intan?" tanya Ummi Sarah setelah berada di belakang Aji.
Ummi Sarah memberikan kode kepada Gus Aslam agar membantu beliau berdiri. Ummi Sarah ingin melihat langsung bagaimana kondisi Intan saat ini dan akhirnya Ummi Sarah bisa berdiri dengan bantuan Gus Aslam dan Gus Sholeh.
"Ya Allah ... maafkan saya Ya Allah!" Ummi Sarah histeris ketika melihat Intan yang terbaring lemah di dalam ruang ICU.
"Mi, jangan histeris Mi! ini tengah malam Mi," ucap Gus Aslam sambil merengkuh tubuh Ummi Sarah.
"Mas! Ajak Ummi pulang, biar Ummi istirahat di rumah saja! Aku mau di sini sendiri," ucap Aji seraya menatap Gus Sholeh dengan tatapan penuh arti.
Ketiga pria tampan itu pun membujuk Ummi Sarah agar mau pulang. Ummi Sarah masih tergugu di dekapan Gus Aslam karena benar-benar menyesal dengan semua sikapnya hari ini.
"Kalau Intan sudah sadar, Ummi bisa datang lagi ke sini," ucap Aji sambil menatap Ummi Sarah dengan mata yang sudah berembun.
__ADS_1
Setelah beberapa menit membujuk Ummi-nya, akhirnya Gus Sholeh dan Gus Aslam berhasil membawa Ummi Sarah pulang. Suasana rumah sakit pun semakin terasa sunyi sepi karena penunjuk waktu berada tepat di angka dua belas malam.
Aji menghempaskan diri di kursi panjang yang ada di ruang tunggu ICU. Ia merebahkan diri di kursi panjang itu karena tubuhnya mulai terasa nyeri. Luka jahitan di lengannya pun terasa perih dan panas.
Aji merogoh saku celananya tatkala merasakan getaran di dalam saku tersebut. Aji melihat nama Tommy tertulis di layar ponsel Intan dan akhirnya Aji memutuskan untuk menjawab telfon tersebut.
"Tan! Intan!" terdengar nada kekhawatiran disana.
"Bang, ini Aji. Saat Ini Intan masih ada di ruang ICU!" ucap Aji dengan suara yang lirih.
Aji pun memberitahu Tommy tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Aji memberi kabar kepada Tommy bagaimana keadaan Intan saat ini, tentu saja apa yang di sampaikan Aji berhasil membuat Tommy geram.
"Intan di rawat di RSUD Jombang, Bang," ucap Aji sebelum panggilan berakhir.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1