Surga Hitam

Surga Hitam
Bekerja sama,


__ADS_3

Dua hari telah berlalu begitu saja, meninggalkan kenangan-kenangan yang melekat di jiwa. Satu persatu barang-barang yang akan dibawa ke Tangerang sudah masuk ke dalam mobil Aji. Pagi ini sepasang suami-istri itu akan melakukan perjalanan panjang ke Tangerang.


"Hati-hati di jalan, Nak!" ucap abah Yusuf sambil menepuk bahu putranya.


"Iya, Bah!" ucap Aji dengan di iringi senyum tipis.


"Mi, Aji balik dulu. Doakan Aji selamat sampai tujuan ya, Mi!" ucap Aji setelah menjabat tangan ummi Sarah.


"Tentu, Nak! Ummi selalu mendoakan keselamatan kalian," jawab ummi Sarah seraya mengalihkan pandangannya kepada Intan.


Aji dan Intan pamit kepada semua keluarga yang berdiri di halaman samping rumah. Mereka semua memberikan doa terbaik untuk sepasang suami istri itu.


Intan melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarai suaminya mulai berjalan keluar dari halaman rumah. Intan memberikan senyum termanis untuk semua anggota keluarga barunya.


"Sayang, kalau kita berangkat ke Bali besok malam gimana?" tanya Aji dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.


"Mas tidak capek kah?" tanya Intan seraya menatap Aji.


"Iya juga ya." Aji menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar jawaban istrinya, "ya sudah kalau begitu akhir pekan saja bagaimana?" usul Aji setelah menatap Intan sekilas.


Intan hanya diam, ia sedang memikirkan ide suaminya, "kita berangkat jumat sore saja, Mas. Nanti sampai di sana kan malam, kita bisa istirahat. terus sabtu pagi kita bisa jalan-jalan, gimana?" tanya Intan seraya mengubah posisinya menghadap ke arah Aji.


"boleh juga! kalau begitu nanti aku konfirmasi ke Pak Farhan dulu," ucap Aji tanpa menatap Intan.


Setelah beberapa puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Aji mulai memasuki gerbang tol Jombang-Jakarta. Perjalanan panjang akhirnya dimulai setelah mobil putih itu check in di loket tol. Semakin lama kecepatan mobil yang dikendarai semakin cepat. Jalan tol yang sepi membuat Aji menambah kecepatan tanpa ragu.


Detik demi detik terus berlalu. Langit yang cerah mulai terlihat redup, rona jingga terlukis indah di cakrawala barat, tanda sang raja sinar mulai kembali ke peraduannya.


Tepat saat magrib, Aji dan Intan sampai di halaman kontrakan. Mereka segera turun dari mobil tanpa membongkar barang-barang yang ada di mobil karena takut ketinggalan waktu magrib.

__ADS_1


"Mandi bareng saja ya, biar cepat!" ucap Aji seraya melepas jaketnya.


"cuma mandi 'kan? gak nakal?" Intan memicingkan matanya karena ragu akan ucapan sang suami.


"Iya Sayang!" ucap Aji sebelum keluar dari kamarnya.


Intan akhirnya menyusul sang suami yang terlebih dahulu berada di kamar mandi. Ia menerobos masuk begitu saja di saat Aji mulai mengguyur tubuhnya. Rasa lelah perlahan hilang di bawa air yang mengalir deras.


"Gak usah keramas Sayang! nanti kita terlambat sholat!" Aji menahan tangan Intan ketika tangan itu meraih botol sampo.


"udah terlanjur basah, Mas!" ucap Intan seraya menggerakkan tangannya yang ada di genggaman Aji, "cuma sebentar kok!" ucap Intan seraya menuang sampo yang ada di dalam botol.


Aji segera meraih handuknya karena kegiatannya sudah selesai. Ia tak mau berlama-lama melihat tubuh Intan yang membuat sinyal-sinyal ditubuhnya mode on, "aku keluar dulu!" ucap Aji sebelum menarik handel pintu kamar mandi.


"Tolong Mas bersihkan dulu tempat sholatnya, ya! pasti berdebu banget!" ucap Intan tanpa menatap suaminya, ia sibuk memijat kepalanya yang dipenuhi gelembung busa.


Kegiatan di kamar mandi telah selesai. Kini waktunya menjalankan kewajiban tiga rakaat berjamaah. Lantunan ayat yang dibacakan Aji terdengar merdu dan menusuk qalbu, membuat tubuh meremang karena teringat akan dosa-dosa yang memenuhi jiwa.


Kecupan penuh kasih mendarat di kening Intan setelah tubuhnya kembali tegak. Intan menutup kelopak matanya untuk merasakan energi cinta yang merasuk ke dalam jiwa.


"Ya Allah terima kasih karena Engkau telah mengirim seorang bidadari ke dalam hidup hamba," gumam Aji dalam hatinya sebelum melepaskan bibirnya dari kening Intan.


"mau istirahat atau makan dulu?" tanya Aji saat melihat Intan melepas mukenahnya.


"kita istirahat saja, Mas. Saya belum lapar," ucap Intan seraya beranjak dari tempatnya.


Seperti biasa, keduanya bekerja sama untuk membersihkan kamar yang sudah lama mereka tinggalkan. Debu-debu mulai berterbangan ketika kipas angin mulai dinyalakan di kamar itu. Mereka harus membersihkan kamar sebelum mengatur suhu pendingin ruangan.


"Aku mau ambil koper kita di mobil, kamu lanjutkan ya bersih-bersihnya!" ucap Aji sebelum berlalu dari kamar.

__ADS_1


"oke, Mas!" Intan mengacungkan jempolnya ke arah Aji.


Mereka berdua membagi tugas, Intan mengurus kamar sedangkan Aji menata barang-barang bawaan dari Jombang. Sebenarnya tubuh keduanya sudah lelah tapi mau bagaimana lagi, keadaan rumah pun sangat kotor hingga membuat mereka risih.


Penunjuk waktu terus berputar, tak terasa jarum jam itu sudah berada di angka sembilan malam. Aji menghempaskan diri di atas ranjangnya karena tidak tahan lagi menahan rasa kantuk yang menyerang mata.


"Ya! udah tidur!" seru Intan setelah masuk ke dalam kamar. Ia baru selesai mengepel seisi rumah karena tidak tahan melihat tempat tinggalnya kotor dan berdebu.


Rasa lelah mulai menyerang tubuh Intan. Ia memutuskan untuk menyusul Aji berkelana di pulau kapuk, bahkan ia membiarkan lampu-lampu di rumahnya menyala terang.


Saling mengerti adalah salah satu kunci memiliki keluarga yang harmonis. Menekan ego adalah sebuah cara mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Membantu pekerjaan istri bukan berarti takut atau disebut suami-suami takut istri.


Apa yang dilakukan Aji selama ini adalah sebagian kecil bentuk perwujudan rasa cintanya kepada Intan. Ia tidak mau jika istrinya itu terlalu mandiri karena Aji tidak ingin menjadi seorang suami yang kehilangan sikap manja dari seorang istri. Ia selalu ingat kata-kata bijak yang sering ia baca di media sosial.


Seorang istri tidak membutuhkan suaminya di saat ia bisa melakukan semuanya sendiri. Jadi, jangan biarkan istrimu kehilangan sikap manjanya.


Memanjakan istri bukan berarti membiarkannya bersikap semena-mena kepada suami. Ada kalanya seorang suami harus menunjukkan sikap tegas disaat sang istri mulai bersikap di luar batas.


Pernikahan bukanlah ajang untuk mendapatkan gelar siapa yang kalah dan siapa yang menang, tapi pernikahan adalah sebuah ikatan suci untuk menyatukan dua rasa dan dua jiwa yang berbeda. Rasa yang menjadi satu adalah pondasi utama dalam sebuah pernikahan—rasa itu tak lain adalah cinta.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2