Surga Hitam

Surga Hitam
Aku Egois!


__ADS_3

Keheningan malam mulai terasa kala penunjuk waktu berada di angka dua dini hari. Jalanan mulai sepi tanpa deru kendaraan yang berlalu lalang. Semua insan tengah beristirahat setelah seharian melakukan aktivitas, berkelana di alam mimpi mungkin dirasakan semua orang saat ini.


Semua itu berbeda dengan Aji, kelopak matanya sulit tertutup karena memikirkan pertemuan Intan dengan seorang pria bernama Aldi. Hatinya seperti terbakar karena cemburu ada pria yang mencoba mendekati sang istri. Rasa cemburu telah membuat Intan terluka karena Aji sempat membahas itu setelah pulang dari cafe. Ya, ucapan yang lolos dari bibir Intan sebelum tidur, berhasil mengusik hati dan pikirannya saat ini.


"Saya itu tidak sengaja ketemu Aldi, Mas! lagian dia itu bukan siapa-siapaku! dulu Aldi memang sempat mengajak saya menjalin hubungan, tapi saya tolak!"


"Mas gak usah berlebihan gitu dong! istri gak ngapa-ngapain kok di ajak debat! saya harus menjelaskan apa coba??"


"Saya tekankan sekali lagi ya!! saya tidak pernah punya mantan pacar! saya gak mau membahas masalah ini lagi!"


"Istri baru ketemu teman lama saja sudah cemburu dan ngajak debat!! terus apa kabar suami yang pernah bilang mau poligami? menyakitkan mana coba rasanya di hati?"


Semua ucapan Intan memang benar, sikap yang ditunjukkan Aji memang berlebihan. Aji tidak bisa tidur karena memikirkan sarkasme dari Intan yang menyinggung tentang poligami. Ia merasa bersalah karena hal itu. Aji mencoba membayangkan bagaimana rasanya ada di posisi Intan saat itu, mengingat hatinya langsung terbakar api cemburu hanya karena melihat Intan bertemu dengan pria lain.


"Tidak! tidak! aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati istriku!" Aji bergumam seraya menggelengkan kepalanya saat membayangkan Intan duduk berdua dengan Aldi.


Aji mengusap rambut Intan hitam yang tergerai di atas bantal. Sekali lagi ia merasa bersalah karena kesalahpahaman ini. Aji pun jadi tahu ternyata ia belum sepenuhnya bersikap dewasa. PR dalam memperbaiki sikap pun semakin banyak di usianya saat ini.


"Sayang, maafkan aku. Aku sudah membuatmu terluka lagi. Aku memang egois, lagi dan lagi aku membuatmu kecewa. " ucap Aji setelah memposisikan diri di belakang tubuh Intan. Ia mendekap tubuh Intan meski posisi tubuh itu membelakanginya.


Aji menelusupkan wajahnya di tengkuk Intan yang tertutup rambut itu. Ia menghirup aroma tubuh sang istri yang membuatnya ketagihan. Aji benar-benar merasa bersalah karena kejadian beberapa jam yang lalu.


Bibir tanpa polesan make-up itu melengkung indah begitu mendengar ucapan sang suami. Intan sendiri sebenarnya bangun sejak beberapa menit yang lalu saat Aji mulai mengusap rambutnya. Ia bangun bukan karena terganggu akan hal itu, tapi karena hasrat ingin pipis yang mulai menyerang bagian bawah tubuhnya.


Intan sendiri merasa lega setelah mendengar kalimat yang di ucapkan Aji. Setidaknya, besok pagi ia dan suaminya tidak merasakan kebekuan karena masalah sepele ini. Perlahan Intan memindahkan tangan Aji karena sesuatu itu semakin mendesak ingin keluar.


"Sayang, mau kemana?" Aji terkesiap setelah merasakan pergerakan Intan. Ia belum tidur lelap hingga bisa merasakan pergerakan Intan.


"Ke kamar mandi, Mas!" jawab Intan tanpa menatap Aji. Ia segera pergi dari ke kamar mandi karena tidak kuat menahan rasa itu.

__ADS_1


Aji bernapas lega setelah tahu kemana istrinya pergi. Ia kembali memposisikan diri di temat yang nyaman sebelum berkelana ke alam mimpi. Rasa kantuk telah menyerang mata teduh itu.


...🌹🌹🌹🌹...


Tiga hari kemudian,


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hampir lima hari Aji dan Intan menghabiskan waktu bersama keluarga pak Gatot. Setelah sholat magrib nanti, sepasang suami istri itu harus pulang dari kediaman pak Gatot, mereka akan menghabiskan waktu satu malam di salah satu hotel yang ada di Tangerang, sesuai dengan permintaan Intan beberapa hari yang lalu.


Langit jingga mulai terlihat saat sang raja sinar mulai turun ke peraduannya. Sinar jingga yang muncul di balik awan putih menambah keindahan langit Ciputat saat ini.


Aji dan Intan sibuk memasukkan koper dan beberapa barang yang mereka beli di kota ini ke dalam mobil. Semua persiapan sebelum menempuh perjalanan jauh pun sudah dilakukan Aji, tadi pagi ia sudah mengecek keadaan mobilnya, mulai dari mesin hingga angin ban.


"Mas sudah booking hotelnya?" tanya Intan setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah, pesen online dari kemarin, Sayang," jawab Aji tanpa menatap Intan. Ia sibuk membersihkan kaca mobil.


"oleh-oleh dari kami sudah di masukkan mobil 'kan Nak?" tanya bu Leni kepada Aji, "jangan lupa dikasih ke abah dan ummi ya!" bu Leni kembali mengingatkan pesannya beberapa waktu yang lalu kepada Aji.


"siap, Mah! pasti saya sampaikan," ucap Aji seraya duduk di sisi Farhan.


Kinar dan Intan duduk bersebelahan. Mereka sedang asyik menggoda Kevin yang sedang melihat kartun di entub. Kedua wanita itu kompak saat menggoda bocah kecil pemilik hidung mancung itu.


"Kevin ... sini sama kakek! jangan sama mama dan aunty!" pak Gatot melambaikan tangannya ke arah Kevin karena risih mendengar cucunya itu beberapa kali mewek karena ulah ibunya sendiri.


Kehangatan di ruang keluarga itu benar-benar di rasakan oleh Intan, karena setelah ini mereka kembali berjauhan. Rasa rindu itu harus di simpan lagi sampai waktunya telah tiba.


Rasanya, waktu semakin cepat berlalu. Adzan magrib telah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu. Semua sibuk beribadah—menjalankan kewajiban tiga rakaat. Waktu magrib semakin dekat dengan waktu kepulangan sepasang suami istri itu.


"tidak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Aji saat meraih tas berbentuk persegi yang selalu dia bawa kemana-mana.

__ADS_1


"tidak, Mas! semua sudah masuk tas!" ucap Intan setelah memakai kerudungnya.


Keduanya segera keluar dari kamar setelah bersiap seusai menunaikan kewajiban tiga rakaat. Rasa sedih tiba-tiba menyerang hati Intan tatkala melihat semua anggota keluarga pak Gatot menunggunya di ruang keluarga. Bulir bening itu mulai berjatuhan tatkala Intan pamit kepada pak Gatot dan Bu Leni.


"Pah, Mah, kami pulang dulu ya," ucap Intan sebelum menjabat tangan kedua orangtua angkatnya. Aji pun mengikuti apa yang sedang dilakukan Intan saat ini. Ia menjabat satu persatu tangan kedua mertuanya.


"Hati-hati ya, Nak ... tidak usah ngebut, kalau ngantuk istirahat dulu." Pak Gatot memberi nasihat kepada Aji agar tetap fokus di jalan, "kalian jadi nginep di hotel 'kan?" tanya Pak Gatot seraya menatap anak dan menantunya.


"iya Pah, kami nginep di hotel dekat gerbang tol," jawab Intan.


"Ehem! honeymoon nih!" seloroh Kinar seraya menaik turunkan satu alisnya saat Intan berada di hadapannya.


Intan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kinar. Entah mengapa ia malu sendiri saat ada yg membahas honeymoon di depan Aji. Semuanya keluar dari rumah untuk mengantar Intan dan Aji sebelum berangkat.


Seperti biasa, Kinar pasti sedih melihat komodo-nya pulang. Air matanya pun turun tanpa dikomando ketika Intan masuk ke dalam mobil. Rasanya, ia masih rindu dengan saudara, sahabat serta teman seperjuangannya itu.


"Hati-hati Komodo!" ujar Kinar tatkala Intan melongak keluar. Kinar melambaikan tangannya ketika mobil putih perlahan menjauh dari rumah orangtuanya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ maaf ya upnya telat, seharian othor healing di alam mimpi😂 ide mendadak hilang gitu aja😉


oh ya btw aku punya rekomendasi karya untuk kalian nih, kepoin yuk😍



🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2