Surga Hitam

Surga Hitam
Penanaman Bibit!


__ADS_3

Ceklek!


Pintu berwarna cokelat itu terbuka lebar setelah Aji menempelkan kartu di sisi pintu. Sepasang suami istri itu segera masuk ke dalam kamar bernuansa putih dengan ornamen-ornamen serasi yang menghiasi. Ranjang king size bersprei putih siap menanti Intan dan Aji.


Binar bahagia terlihat jelas di wajah Intan, ia meletakkan tasnya di lantai setelah melihat ranjang yang terlihat sangat nyaman. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia menghempaskan diri di sana.


"Mas, istirahat dulu yuk!" ajak Intan seraya menatap Aji yang sedang membuka kopernya, "besok saja buka kopernya!" lanjut Intan.


"Aku mau ganti baju dulu, gerah pakai celana!" gumam Aji tanpa menatap Intan.


Aji mengayun langkah menuju kamar mandi karena tiba-tiba saja perutnya terasa mules, mungkin sesuatu berwarna kuning akan keluar dari lubang pembuangan. Intan meraih guling yang ada di sisinya, sungguh ... rasa nyaman perlahan mulai merasuk ke dalam tubuhnya.


"lah ... ternyata tidur!" gumam Aji setelah keluar dari kamar mandi. Aji duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah tenang sang istri. Fantasi yang sempat berkeliaran dalam pikirannya pun lenyap begitu saja.


Aji menggaruk kepalanya, bayang-bayang indah sirna begitu saja. Mau tidak mau, ia pun harus mengikuti jejak sang istri—berpetualang dalam mimpi bersama bidadari.


Rasa lelah membuat Aji begitu cepat terlelap, apalagi ditambah dengan kenyamanan hotel yang mereka sewa ini. Aji tidur di sisi Intan tanpa sebuah pelukan ataupun kecupan.


***


Malam terus berlalu mengikuti penunjuk waktu yang tak pernah berhenti. Detik demi detik pun terus berputar mengelilingi deretan angka berbentuk lingkaran. Intan membuka kelopak matanya ketika mendengar suara alarm, entah suara itu ada di mana, yang pasti bunyi alarm ini menandakan waktu sepertiga malam—waktu melepas rindu dengan Sang Pencipta.


Kedua manik hitam itu menatap langit-langit kamar yang terlihat indah—berbeda dengan kamarnya ataupun kamar yang ia tempati di rumah pak Gatot. Manik hitam itu terus menyapu interior kamar yang terlihat mewah, hal itu membuat Intan bangkit dari tempatnya, ia duduk dengan pandangan yang beralih ke sisinya.


"Astagfirullah ...." gumam Intan ketika menatap wajah tenang sang suami, lalu ia menatap dirinya sendiri, mata belo itupun semakin terbelalak kala melihat pakaian lengkap yang terbalut pada tubuhnya.


"Jadi semalam aku ketiduran!" gumam Intan seraya menyentuh kerudungnya.


Setelah beberapa menit termenung di atas ranjang, akhirnya Intan turun dari ranjang. Ia berjalan ke tempat kopernya berada, lalu membukanya untuk mencari sesuatu yang ada di dalam sana.


Intan segera masuk kamar mandi dengan membawa kain transparan berwarna merah nyala. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia bersiap di dalam kamar mandi—membersihkan diri sebelum membangunkan suaminya.

__ADS_1


Aroma parfum sensual mulai tercium tatkala Intan keluar dari kamar mandi. Rambut hitam yang lurus itu tergerai indah di atas pundaknya. Warna lipstik sensual pun menghiasi bibirnya.


"Mas ... Mas ... Mas ...." Intan menepuk lengan Aji beberapa kali. Ia terus berusaha agar suaminya itu segera membuka kelopak matanya.


Aji tersenyum tipis ketika melihat pemandangan indah yang ada di sisinya. Tanpa menunggu lama, Aji segera duduk agar bisa melihat dengan jelas keindahan miliknya.


"Maaf tadi malam saya ketiduran, Mas!" ucap Intan seraya menatap Aji dengan tatapan penuh makna.


"Berarti pagi ini kamu harus siap dihukum, Sayang!" ucap Aji seraya mengulurkan tangannya untuk membelai rambut yang tergerai indah itu.


"Saya siap dihukum, Mas! tapi lebih baik Mas ke kamar mandi dulu gih!" ucap Intan sebelum berdiri dari tempatnya.


Waktu menjelang subuh adalah waktu yang baik untuk membuat adonan Saka Junior. Menurut para ahli dan sesepuh yang berpengalaman, kemurnian mayonaise biasanya ada di waktu seperti saat ini. Jadi, inilah waktu yang tepat untuk mulai menjalankan misi.


Sepasang suami istri itu akhirnya menghabiskan waktu di atas ranjang king size bernuansa putih. Suara lenguhan manja menggema di kamar hotel tersebut. Keduanya bebas bersuara tanpa khawatir di dengar oleh siapapun, permainan terus berlanjut hingga waktu subuh tiba.


"Setelah sholat subuh nanti, aku akan menghukum mu lagi," ujar Aji setelah menanam bibit unggulnya di dalam gua garba sang istri. Nafasnya memburu karena permainan yang baru saja berakhir.


"Aku pasrah ...." jawab Intan dengan mata yang terpejam. Ia sedang menikmati sisa-sisa gelombang yang menyerangnya beberapa kali.


Rasa tidak nyaman yang terasa dalam perut Intan berhasil membuatnya kembali dari alam mimpi. Pandangannya langsung tertuju ke arah jam digital yang ada di nakas. Intan menghela napasnya setelah melihat waktu yang tertulis di sana.


"Pantesan lapar! rupanya sekarang udah jam sebelas siang," gumam Intan seraya meregangkan otot-otot di tubuhnya.


Lelah, mungkin itu lah yang dirasakan Intan saat ini. Perutnya pun keroncongan karena sejak tadi pagi belum ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya. Hanya ada mayonaise yang berkali-kali ia dapatkan dari sang suami.


"Mas ... bangun yuk!!" gumam Intan seraya menepuk pipi Aji, "laper nih!" ucapnya lagi. Ia terus berusaha agar suaminya itu segera bangun.


"Mas! saya lapar!!!" ucap Intan lagi saat melihat Aji membuka kelopak matanya.


"Setelah ini kita makan di bawah. Kamu mandi dulu gih!" ucap Aji seraya menarik guling yang ada di sisinya.

__ADS_1


Intan segera turun dari ranjang tanpa banyak bicara lagi. Ia mengayun langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa peluh yang sempat membanjiri tubuhnya.


Detik demi detik telah berlalu. Setelah bersiap selama satu jam, akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari kamar hotel. Mereka mencari restoran yang ada di dalam hotel ini untuk sarapan sekaligus makan siang. Kedua tubuh itu membutuhkan asupan untuk mengembalikan energi yang hilang.


"Mas mau yang mana?" tanya Intan setelah masuk ke dalam resto. Mereka berdua berdiri di depan meja panjang, tempat dimana beberapa menu tersedia disana. Mereka mengambil piring sebelum mencari menu yang sesuai dengan selera mereka.


Intan memilih duduk di pojok dekat jendela besar. Ia meninggalkan Aji yang sedang mengambil minuman di depan. Pemandangan kota terlihat jelas dari kaca besar yang ada di sisi Intan.


"Ayo kita makan, Sayang!" ucap Aji setelah duduk di kursi yang ada di sebrang Intan. Mereka duduk berhadapan.


Denting sendok dan garpu saling bersahutan—menjadi melodi yang mengiringi makan siang sepasang suami istri itu. Keduanya tak mengeluarkan suara apapun hingga makanan yang ada di piring habis tanpa sisa.


"Setelah ini kamu mau kemana, Sayang?" tanya Aji setelah mengusap bibirnya dengan tissu.


"Kita kembali ke kamar saja, Mas! kita istirahat aja, kan nanti malam kita menempuh perjalanan panjang," jawab Intan seraya mengeluarkan ponsel dari tas nya.


Intan berselancar untuk melihat media sosial miliknya. Satu persatu insta story yang ada di aplikasi berwarna hijau telah dilihat Intan dan beberapa detik kemudian ia mengerutkan keningnya setelah melihat story yang di pasang oleh Isna.


"Mas, hari ini Aga sama Rahma nikah siri ya?" tanya Intan seraya menatap Aji.


"Mas tidak tahu! memang kamu dapat info dari mana?" tanya Aji.


"ini lihat di status Ning Isna." Intan mengulurkan ponselnya kepada Aji, "mungkin mereka lamaran sekaligus nikah siri kali, Mas!" lanjutnya.


Aji hanya diam seraya menatap foto yang ada di layar ponsel Intan. Ia bernapas lega karena kedua orang yang dibenci istrinya itu akhirnya bersatu. Setelah ini tidak akan ada lagi yang menganggu rumah tangganya.


"Jodoh itu lucu ya, Sayang! Rahma berkali-kali gagal nikah dan akhirnya menikah dengan Aga, pria yang berada dekat dengannya selama ini," gumam Aji seraya meletakkan ponsel istrinya di atas meja.


_


_

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️😍 othor sangat berterima kasih jika ada yg bersedia memberikan like, komen, gift ataupun vote untuk karya ini🙏😘


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2