Surga Hitam

Surga Hitam
Sinar dalam kegelapan,


__ADS_3

Suasana tenang dan damai bisa di rasakan Aji ketika berada di dalam kamar bernuansa putih ini. Seperti malam ini, Aji sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap foto profil Intan yang ada di aplikasi chat berwarna hijau.


Sebenarnya, Aji ingin sekali menghubungi Intan malam ini walau hanya sekedar menanyakan bagaimana kabar gadis itu. Tapi keraguan mendadak merayap dalam hatinya.


Aji meletakkan ponselnya ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Ninis masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu atau sekedar permisi, tak lupa Ninis menutup kembali pintu kamar adiknya itu agar tidak ada siapapun yang masuk.


"Jangan protes gara-gara aku gak ngetuk pintu!" ujar Ninis ketika melihat ekspresi Aji. Ia merebahkan tubuh putrinya yang sedang terlelap di atas tempat tidur Aji.


Setelah memastikan putrinya benar-benar terlelap. Kini Ninis duduk di samping Aji. Rasanya, ia sudah tidak sabar lagi mendengar cerita tentang Tata.


"Ada apa dengan Tata?" tanya Ninis untuk mengawali obrolan malam ini.


"Aku sudah menemukan Tata, ternyata selama ini dia ada di Tangerang." Sebuah pengakuan dari Aji yang membuat Ninis terkesiap.


"Hah masa sih?" Ninis masih ragu dengan ucapan Aji.


"Iya, Ning." Aji mengubah posisinya agar lebih leluasa bercerita dengan Ninis.


Aji menceritakan bagaimana awalnya bertemu dengan Intan. Ia pun menunjukkan foto Intan dengan penampilan yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu.


"Ya Allah, astagfirullahaladzim!" ujar Ninis ketika melihat beberapa bagian tubuh Tata yang bertato, "kenapa dia bisa jadi seperti ini, Dik?" Ninis meletakkan ponsel Aji di atas kasur lalu ia menatap wajah adiknya itu dengan tatapan sendu.


Ninis syok karena melihat keadaan gadis yang sudah di anggapnya seperti adik sendiri itu menjadi berantakan. Matanya berembun ketika melihat kerapuhan yang di terlihat dari sorot matanya. Ninis bisa melihat hal itu karena saat kuliah mempelajari ilmu psikologis.


"Terus apa langkahmu setelah mengetahui keadaan Tata saat ini?" Ninis ingin tahu seberapa jauh Aji memahami keadaan Intan.


Aji menundukkan kepalanya, ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Setelah melihat bagaimana Intan berinteraksi dengan teman lawan jenis kemarin malam, perasaannya menjadi semakin ragu.

__ADS_1


"Aku bingung, Ning. Aku belum bisa menerima keadaannya yang sekarang. Tubuhnya banyak tato, suka minum, ngerokok, pakaiannya terbuka. Lalu apa yang aku harapkan dari dia, Ning?" Aji menatap Ninis dengan sorot mata yang mengisyaratkan kegundahan.


Ninis hanya diam, ia sedang memahami perasaan yang saat ini bersarang dalam hati adiknya itu. Kegelisahan dapat di lihat Ninis dengan jelas dari mimik wajah Aji.


"Aku ingin menjauh dari dia dan melupakan cinta yang sudah lama tumbuh, tapi dia seperti magnet yang membuatku susah untuk berlari, Ning." Perasaan Aji semakin tak karuan saat ini.


Ninis hanya tersenyum melihat sikap adik ya itu, tidak ada lagi tempat curhat yang membuat Aji nyaman selain dirinya. Aji dan Ninis sudah klop jika sedang berbagi cerita suka maupun duka.


"Dik, apa kamu tidak melihat gesturnya saat berbicara, apa kamu tidak melihat kerapuhan dalam sorot matanya? harusnya kamu bisa menemukan itu jika memang kamu mencintai Tata," ucap Ninis setelah diam beberapa saat.


Aji tertegun setelah mendengar ucapan Ninis. Memang benar, Aji jarang sekali memandang pancaran kedua bola mata Intan saat bicara berdua, "aku takut, Ning. Aku pria normal, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku ketika melihat Tata yang sekarang." Aji menghela napasnya yang berat, "Aku bisa melihat tubuhnya dengan jelas, dia bukan lagi gadis pemalu yang selalu menundukkan pandangannya saat bertemu lawan jenis," lanjut Aji dengan wajah yang tertekuk.


Ninis tersenyum simpul ketika mendengar alasan yang baru saja di ucapkan oleh adiknya itu. Ia membayangkan bagaimana sikap Aji ketika berdekatan dengan Tata. Sungguh, rasanya ia ingin tertawa lepas saat ini.


"Dik, kalau memang kamu cinta, pertahankan Tata! Ning yakin jika Tata masih memiliki perasaan yang sama denganmu. Dekati dia, tuntun dia kembali. Tata bukan berubah, tapi dia sedang kehilangan arah," ucap Ninis sambil menepuk bahu kokoh Aji.


"Aku serasa bermain teka-teki jika berbicara dengan Intan, Ning." Aji memijat pelipisnya karena memikirkan hal ini.


Aji menjelaskan alasan ambigu yang di sampaikan Intan kemarin malam. Aji semakin bingung karena terus menerka apa alasan Intan yang sebenarnya.


"Coba video call Intan sekarang! Ning, pengen lihat dia," ucap Ninis setelah meraih ponsel Aji.


Awalnya Aji ragu dengan permintaan Ninis itu, ia berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk mengikuti permintaan Ninis, "Nih, Ning aja yang ngomong sama dia," ucap Aji saat menyerahkan ponselnya kepada Ninis.


Ninis menampilkan senyum manisnya ketika melihat wajah Intan di layar ponsel Aji, "Assalamualaikum, Ta." Ninis menyapa Intan yang ada di seberang sana.


Terlihat jelas jika Intan sangat terkejut ketika tahu bahwa Ninis yang menelfonnya. Panggilan tersebut tak berlangsung lama karena Intan pamit untuk bekerja. Tapi Ninis bisa menyimpulkan Jika Intan hanya beralasan karena ingin menghindarinya.

__ADS_1


"Kakak lihat sendiri kan, bagaimana keadaan Tata saat ini?" ujar Aji setelah Ninis meletakkan ponselnya.


"Jujur saja, Ning kasian melihat kondisinya saat ini." Ninis menatap Aji penuh arti, "Kalau kamu memang mencintai dia, pertahankan Dik!" Ninis bangkit dari tempatnya saat ini.


"Dekati dia lagi, Dik! Tata sedang tersesat saat ini, dia butuh sinar yang bisa menerangi jalannya yang gelap!" ucap Ninis sebelum mengangkat tubuh putrinya.


"Tapi Ning ...." ucapan Aji harus terhenti karena Ninis menyelanya begitu saja.


"Sekarang jaman sudah modern, Dik. Tato bisa di hapus!" ujar Ninis, ia seakan tau apa yang akan di katakan Aji.


Setelah memberi saran untuk Aji, Ninis pamit kembali ke kamarnya karena harus istirahat. Ninis sudah membekali Aji beberapa pengetahuan tentang cinta dan kasih. Ninis menyerahkan semua keputusan kepada Aji.


Sepeninggalan kakaknya, Aji duduk di ujung ranjang sambil merenung. Lagi dan lagi ia harus memikirkan tentang Intan yang tak akan ada habisnya. Setelah mendengar nasihat dari Ninis, Aji seperti tertantang untuk membawa Intan kembali menjadi dirinya yang dulu.


Bunga-bunga cinta yang sempat layu kini kembali bermekar indah. Pupuk yang di berikan Ninis berhasil menyingkirkan hama keraguan yang hinggap dalam hati Ajisaka.


"Aku harus menjadi sinar dalam kegelapan hati Tata seperti yang di katakan Ning Ninis," gumam Aji seraya merebahkan tubuhnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Hay semua, maaf ya othor hanya bisa up satu bab saja. Insyaallah di bulan januari othor akan up 2bab perhari😀 oh ya btw kalau punya vote gak di pakai, boleh dong di sedekahkan ke karya ini😍 othor sangat berterima kasih atas semua dukungan dari kalian🙏🙏🙏


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2