
Dua tahun kemudian ....
Intan tersenyum manis ketika melihat baju dinas malam pemberian dari Aji. Koleksi lingerinya bertambah satu lagi. Intan bahagia karena pagi ini mendapat kejutan dari sang suami yang sudah berangkat bekerja.
Pakailah ini di malam ulang tahun pernikahan kita yang kelima nanti. Aku ingin kamu memakai ini saat memberikan hadiah untukku.
Intan terkekeh ketika membaca surat yang ditinggalkan Aji di dalam box kado tersebut. Ia sendiri heran, semakin kesini Aji semakin m-e-s-u-m saja dengannya. Tapi Intan sendiri tidak keberatan akan hal itu, ia malah semakin bersemangat untuk mencari hal-hal baru yang bisa membuat Aji kagum dan semakin mencintai dirinya.
Satu minggu lagi adalah ulang tahun pernikahan Intan dan Aji yang kelima. Cinta yang besar membuat keduanya sampai di tahun kelima. Kata para sesepuh tahun kelima adalah tahun pertama dimana ujian akan datang menerpa rumah tangga. Entah, Tuhan memberikan ujian apa untuk pernikahan anak bungsu kyai Yusuf tersebut.
Satu tahun yang lalu Aji di terima menjadi guru PNS. Proses yang panjang telah dilaluinya dan berkat doa semua orang akhirnya Aji diterima menjadi pegawai negeri sipil, ia dinas di salah satu MA Negeri di Mojokerto. Setelah mengajar di MA, ia lanjut mengajar di perguruan tinggi yang dinaungi suaminya Ninis.
Intan segera membereskan kado dari suaminya itu, ia harus segera ganti baju karena akan pergi ke kota untuk mencari obat ummi Sarah. Beliau baru pulang dari rumah sakit kemarin malam setelah menginap selama beberapa hari karena tekanan darahnya naik.
"Dik, sudah belum?" teriak Isna—istri Aslam yang ada di luar kamar Intan.
Intan segera meraih tas slempangnya sebelum keluar dari kamar, "sudah Ning, mari!" ajak Intan setelah menutup kamarnya kembali.
Semakin kesini, sikap Isna kepada Intan mulai berubah. Ia tidak sejulid dulu ketika awal Intan menjadi anggota baru di keluarga ini. Dulu ia hanya ikut-ikutan dengan Firda—istri pertama gus Sholeh.
"Dik, nanti mampir ke toko sepatu Lady ya, aku mau beli sepatu untuk Ikhsan!" ucap Isna saat menuruni satu persatu anak tangga bersama dengan Intan.
"Iya Ning, saya ngikut saja lah," jawab Intan tanpa protes sedikitpun.
__ADS_1
Mereka pergi naik mobil Aslam, di antar oleh sopir pribadi abah Yusuf. Isna hanya mengajak putra ketiganya untuk ikut bersamanya dan Intan. Sedangkan anaknya yang lain ditinggal di rumah bersama Aslam.
Intan terlihat akrab dengan putra ketiga Isna. Ia selalu bermain dengan bocah berusia tiga tahun itu. Bocah yang sangat aktif tapi menggemaskan bagi Intan. Setiap hari ia membantu Isna menjaga putra ketiganya yang bernama Ikhsan.
Kehadiran Ikhsan berhasil membuat hari-hari Intan menjadi penuh warna. Ia tak lagi kesepian dan stres karena memikirkan dirinya yang tak kunjung hamil meski sudah mencoba alternatif yang di sarankan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, sampai saat ini belum ada tanda-tanda ia hamil. Entah berapa tespek yang ia habiskan selama lima tahun ini.
Intan sempat terpuruk satu tahun yang lalu ketika mendengar kabar bahwa Kinar hamil dan berhasil melahirkan dengan selamat putra pertamanya. Intan sangat sedih kala itu karena hanya dia yang belum mempunyai anak. Aji pun beberapa kali mengajak Intan pergi ke Tangerang untuk mengunjungi Pak Gatot dan keluarganya. Cafe yang dikelola Farhan pun semakin berkembang pesat meskipun Aji hanya bisa memantau dari jauh. Sampai saat ini Farhan sendiri tidak mau jika Aji melepaskan cafe itu untuknya, Farhan ingin cafe tersebut tetap milik bersama.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Ummi Sarah membuka kelopak mata tatkala mendengar suara cucunya yang berceloteh. Beliau mengembangkan senyumnya ketika melihat putri keempat gus Sholeh yang ada di pangkuan Firda—istri gus Sholeh.
"Abahmu kemana, Nak?" tanya ummi Sarah ketika tak menemukan abah Yusuf di kamar.
"Oalah ya sudah kalau begitu!" ucap ummi Sarah setelah duduk bersandar di ranjang.
Ummi Sarah hanya diam, dari raut wajahnya terlihat jelas jika istri kyai Yusuf itu mempunyai beban pikiran. Hal itu membuat Firda penasaran karena tidak biasanya ummi Sarah seperti saat ini.
"Ada apa, Mi?" tanya Firda seraya meraih telapak tangan ibu mertuanya.
"Tidak ada apa-apa, Nak!" jawab ummi Sarah dengan suara yang lirih.
"ummi tidak usah bohong sama Firda, ummi pasti banyak pikiran 'kan?" tanya Firda tanpa melepas pandangannya dari ummi Sarah.
__ADS_1
Helaian napas panjang terdengar di sana. Tebakan Firda memanglah benar. Beberapa hari ini ummi Sarah terus memikirkan Aji. Beliau sampai tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan putra bungsunya yang tak kunjung memiliki momongan.
Ummi Sarah sedih ketika melihat usaha yang dilakukan Aji dan Intan tak kunjung membuahkan hasil. Berbagai cara sudah mereka lalui tapi Allah belum memberikan kepercayaan untuk pasangan suami istri tersebut.
"ummi kepikiran adikmu, Nak! sudah lima tahun Aji menikah, tapi dia tak kunjung mempunyai anak," ucap ummi Sarah dengan suara yang lirih.
Firda ikut sedih setelah mendengar keluh kesah ummi Sarah. Ia pun sebenarnya kasian dengan Aji, sama seperti ummi Sarah. Tapi mau bagaimana lagi, semua kehidupan sudah ada yang mengatur.
Obrolan pun mulai berlangsung di kamar tersebut. Firda mencoba menghibur ummi Sarah agar tidak terlalu memikirkan tentang Aji. Semakin lama obrolan mereka semakin serius, semua itu bisa dilihat dari raut wajah masing-masing. Ummi Sarah beberapa kali menganggukkan kepalanya ketika mendengar pendapat yang dikatakan Firda.
Hampir satu jam lamanya Firda menemani ummi Sarah di kamarnya, ia segera beranjak dari sisi ranjang ummi Sarah tatkala mendengar suara pintu diketuk dari luar. Firda segera membukakan pintu tersebut, ia mengembangkan senyumnya ketika melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Silahkan masuk!" ucap Firda seraya memberikan jalan untuk seorang wanita yang sedang tersenyum manis, "Tolong temani Ummi sebentar, Ya! aku mau membawa Dillah ke kamar dulu," ucap Firda sebelum berlalu dari kamar ummi Sarah.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷