Surga Hitam

Surga Hitam
Melahirkan?


__ADS_3

"Sayang, aku keluar sebentar ya, mau servis mobil dulu," pamit Aji setelah selesai memakai pakaian casualnya. Ia menghampiri Intan yang sedang duduk di sofa.


"kalau sudah selesai langsung pulang ya, Mas!" jawab Intan seraya menatap Aji.


Akhirnya, setelah ngobrol bersama sang istri, Aji pun keluar dari kamar. Ia harus segera berangkat ke bengkel agar tidak terlalu lama antri. Aji sendiri khawatir meninggalkan Intan dirumah karena takut Intan melahirkan sewaktu-waktu.


Sepeninggalan suaminya, Intan masih berdiam diri di dalam kamar. Sejak kejadian tiga hari yang lalu, Intan takut keluar dari kamar, selama tiga hari ini ia menghabiskan waktunya di kamar dan di lantai dua saja.


Dua hari yang lalu Firda dibawa ke rumah sakit Surabaya atas rekomendasi psikiater yang dinas di Rumah sakit umum Jombang. Kondisi ibu empat anak itu mulai mengkhawatirkan karena depresi. Keempat anak Sholeh untuk sementara tinggal bersama kyai Yusuf dan ummi Sarah selama kedua orang tuanya masih di Surabaya. Ninis pun akhirnya memutuskan menginap beberapa hari di sini, ia tidak tega membiarkan ummi nya merawat keponakannya seorang diri.


Intan beranjak dari tempat duduknya karena merasa bosan sejak pagi berada di kamar, ia membuka pintu kamar yang terhubung ke balkon. Rasa hangat sang mentari mulai menyapanya kala tubuh berisi itu berdiri di sisi pagar pembatas.


Pandangan Intan menyapu pemandangan yang ada di hadapannya. Ia bisa melihat bangunan pondok putri yang terlihat sepi tak berpenghuni, hanya ada beberapa pengurus saja yang terlihat duduk santai sambil membaca kitab di depan kamar.


Intan mencengkram pagar besi itu karena tiba-tiba saja perutnya kontraksi. Ia memejamkan mata untuk merasakan rasa sakit di perutnya. Intan mulai mengatur nafas seperti yang diajarkan dokter ketika kontrol beberapa hari yang lalu.


"Masa iya aku mau melahirkan hari ini?" gumam Intan seraya menegakkan tubuhnya. Rasa mules itu hilang begitu saja.


Intan bergegas masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di sofa seperti sebelumnya. Sekali lagi perutnya merasakan kontraksi, Intan melenguh karena pinggulnya mulai merasakan sakit.


"Kamu sudah tidak sabar melihat dunia ini ya, Nak! baiklah kalau begitu, mari kita berjuang bersama," gumam Intan seraya mengusap perutnya. Intan meringis kesakitan karena perutnya terus kontraksi.


Rasa sakit kembali dirasakan oleh Intan, apalagi di bagian pinggulnya, rasanya seperti patah semua. Ia segera meraih ponsel yang ada di ujung sofa untuk menghubungi suaminya. Beberapa kali ia mencoba menelfon suaminya, tapi tidak bisa terhubung.


"Duh! pakai susah signal segala!" gerutu Intan seraya meletakkan ponselnya di atas sofa.

__ADS_1


Rasa sakit itu perlahan hilang, Intan pun bisa bernapas lega. Ia memutuskan keluar dari kamar untuk mencari mertuanya. Langkah Intan harus terhenti ketika kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama. Ia merasakan kontraksi untuk yang ketiga kalinya.


"Ummi ... Ning Ninis!" teriak Intan seraya menuruni satu persatu anak tangga dengan hati-hati. Tangannya berpegang erat pada pagar pembatas di sisi kanan.


Suasana lantai satu sunyi sepi tak berpenghuni, Intan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari mertuanya tapi tak ada siapapun di rumah besar itu.


"ummi ... mbok Sumi ... Ning ...." teriak Intan sambil berjalan ke ruang keluarga. Ia pun duduk di sana sambil mengatur napas.


Intan menengadahkan kepala, matanya tertutup rapat sambil merasakan nyeri di pinggulnya. Ia sendiri bingung harus bagaimana saat ini karena rumah besar ini tak berpenghuni.


"Ummi .... Ning Ninis ...." teriak Intan lagi saat merasakan kontraksi lagi. Ia mencengkram dasternya hingga lungset.


Selang beberapa menit, kyai Yusuf muncul di pintu penghubung ruang tamu dengan ruang keluarga. Beliau sedang menemui tamu saat mendengar teriakan Intan.


"Ada apa, Nak?" tanya kyai Yusuf ketika melihat Intan di ruang keluarga sedang meringis kesakitan.


"Waduh!" kyai Yusuf menepuk dahinya, beliau keluar lewat pintu samping untuk mencari keberadaan istrinya yang tak tahu dimana.


Selang beberapa menit, kyai Yusuf akhirnya kembali bersama ummi Sarah dan Ninis. Kedua wanita tersebut terlihat khawatir ketika melihat Intan mengeluh sakit.


"Nis, cepat telfon Aji atau suruh Aslam menjemput dia di bengkel!" perintah ummi Sarah kepada Ninis.


Panik, itu lah yang dirasakan ummi Sarah saat ini meski beliau sudah pernah melahirkan lima kali. Namun, melihat menantunya kesakitan, rasanya beliau pun ikut merasakan kontraksi.


"sejak kapan kontraksinya, Nak?" tanya ummi Sarah seraya mengusap perut buncit menantunya.

__ADS_1


"Mungkin setengah jam yang lalu, Mi," jawab Intan dengan suara yang lirih.


Dua puluh menit kemudian, Aji baru saja tiba di halaman samping setelah berhasil ditelfon oleh Ninis. Sama halnya dengan sang ibu, Aji pun merasa panik setelah mendapat kabar bahwa istrinya akan melahirkan.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang saja!" ujar Aji setelah sampai di ruang keluarga.


Tanpa banyak bicara lagi, Aji berlalu menuju kamar untuk mengambil tas besar yang sudah disiapkan oleh Intan, tak lupa ia mengambil jaket dan jilbab untuk dipakai sang istri berangkat ke rumah sakit.


"Ayo, Sayang ... pakai jaket dan jilbabnya dulu," ucap Aji seraya membantu Intan berdiri dari sofa.


"Nis, kamu ikutlah dengan adikmu, biarkan anakmu di rumah bersama ummi," ucap Ummi Sarah saat menghampiri Ninis yang baru keluar dari kamarnya.


"ummi saja yang ikut, biar Ninis yang jaga anak-anak di rumah," ucap Ninis. Ia tidak tega jika meninggalkan ummi Sarah dengan bocah-bocah kecil yang ada di rumah.


"Nanti sore saja ummi kesana, sekarang kamu saja yang ikut adikmu! pasti kamu bisa membantu adikmu mengurus administrasinya." ummi Sarah memberikan pengertian kepada Ninis, beliau pun meyakinkan putri keempatnya itu bahwa beliau sanggup menjaga anak-anak di rumah.


Setelah sepuluh menit berunding, akhirnya mereka bertiga berangkat ke rumah sakit. Aji mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena ia melewati jalan yang aspalnya banyak lubang jebakan.


"Ji, agak cepat sedikit dong! jangan seperti siput!" Ninis mendengus kesal karena Aji terlalu pelan saat mengemudi.


๐ŸŒทTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โ™ฅ๏ธ๐Ÿ˜๐ŸŒท sory yee othor selow up dulu, lagi rewang di mantenan saudara๐Ÿ˜


โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–


Sambil nunggu aku update ... nih aku kasih rekomendasi karya keren dari salah satu temenku๐Ÿ˜kuy kepoin๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

__ADS_1



๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2