
Bulir air mata perlahan membasahi pipi seorang pria yang sedang terpaku di tempat duduknya saat ini. Ia tak sadar jika mata teduhnya mulai berembun setelah mendengar cerita masa lalu gadis pujaan hatinya. Aji sampai lupa jika waktu sholat magrib telah habis karena perasaan yang membuncah di dada.
"Katakan padaku jika semua ini bohong, Tan!" Aji menatap Intan dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.
Intan terhenyak dari tempat duduknya, ia berdiri di depan Aji dengan mata yang memerah karena emosi yang menguasai dirinya, luka lama itu telah terbuka kembali.
"Tidak! semua yang terjadi adalah nyata, Gus!" teriak Intan dengan suara yang bergetar.
"Asal Gus tau, saya berubah menjadi seperti ini karena saya merasa kotor! semua ini adalah bentuk protes saya kepada Allah! kenapa takdir-Nya begitu kejam kepada saya, Gus? katakan sesuatu Gus!" teriak Intan sambil menatap Aji dengan intens.
"Saya iri dengan kaum hawa yang di lindungi Allah! kenapa harus saya yang menerima semua ini. Saya sudah taat! saya sudah menutup aurat tapi nyatanya Allah membiarkan saya jatuh di neraka dunia!" Intan meluapkan semua emosi yang di pendamnya selama ini di hadapan Aji.
"Untuk apa saya memakai kerudung bila akhirnya tetap ternoda! katakan, Gus! Surga mana yang saya dapatkan?" teriak Intan di hadapan Aji.
"Saya sudah pernah bilang 'kan! Tata telah hilang bersama luka yang sangat menyakitkan! Untuk apa saya menutupi aurat kalau semuanya sudah hancur!" Air mata Intan keluar dengan derasnya, tubuhnya pun luruh ke lantai karena kakinya tak kuat lagi menopang semua beban yang ia pikul seorang diri.
"Saya sudah hancur, Gus! hancur tanpa sisa!" Kali ini suara Intan lebih lirih, Ia tergugu dengan kepala yang tertunduk.
Aji tak tahan lagi menahan rasa harunya. Ia berdiri dari tempat duduknya, dengan segera ia meraih tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya. Aji tak perduli lagi dengan larangan Ummi Sarah agar tidak bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya. Saat ini yang ada hanyalah rasa bersalah yang sangat besar karena tidak bisa melindungi gadis pujaannya.
"Maafkan aku! maaf ...." Aji memeluk erat tubuh yang sedang bergetar hebat itu, ia terenyuh karena tangisan Intan yang terdengar pilu.
Keduanya duduk di lantai untuk mengeluarkan semua luka yang di simpan Intan selama ini. Air mata tak bisa di bendung lagi, keduanya hanyut dalam derasnya arus kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Allah tidak pernah jahat kepada umatnya, Tan! Allah maha penyayang! pasti akan ada kebahagiaan yang menantimu," ucap Aji dengan suara yang lirih, Ia hanya ingin Intan menjadi lebih tenang.
Intan semakin tergugu setelah mendengar ucapan Aji. Ia menumpahkan semuanya di hadapan Aji, beban berat itu perlahan mulai berkurang dari hatinya.
"Kalau Allah sayang dengan saya, kenapa Allah menuliskan takdir seperti ini kepada saya, Gus? tanya Intan dengan kepala yang menengadah untuk menatap wajah tampan itu dari dekat, "saya sudah menutup aurat seperti perintah-NYA, tapi apa yang saya dapatkan, Gus?" tanya Intan dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Aku tidak bisa menjawabnya, Tan. Semua itu adalah rahasia Tuhan. Aku hanya bisa menjadi sinar untuk menerangi jalanmu yang gelap," ucap Aji seraya menghapus air mata Intan yang terus menetes, "tolong maafkan aku," ucap Aji dengan sorot mata penuh harap.
Intan kembali menenggelamkan wajahnya di dada itu, ia terisak karena menyesali semua takdir yang sudah terjadi di hidupnya. Tubuhnya terlanjur di penuhi ukiran tinta dengan gambar yang indah, ia merasa kotor dan hancur.
"Aku menyesal telah menganggap mu berzina, aku benar-benar minta minta maaf," ucap Aji seraya mengeratkan dekapannya.
Aji merutuki dirinya sendiri karena tidak ada di saat Intan terpuruk. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jerit tangis Intan saat itu. Bulir air mata Aji semakin mengucur deras tatkala membayangkan bagaimana Intan saat di terkam oleh Aga.
Cukup lama mereka berdua saling berpelukan, menumpahkan semua rasa perih yang ada. Perlahan, Aji mengurai tubuh Intan dari dekapannya. Ia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi mulus itu, di tatapnya wajah manis yang menyimpan banyak luka, Aji benar-benar prihatin melihat penderitaan yang tersembunyi di balik senyum yang biasa Intan tampilkan.
"Lalu, kenapa kamu berada di Ciputat? bukankah tujuanmu ke Jakarta?" tanya Aji sambil menatap Intan penasaran.
"Saat itu saya ketinggalan bus di Ciputat. Bus yang saya tumpangi mogok, lalu semua penumpang turun. Saat itu saya ke warung untuk mengisi perut dan ternyata setelah saya kembali bus nya sudah berangkat," ucap Intan seraya memundurkan tubuhnya. Ia bersandar di kursi yang ada di ruang tamu.
Setelah itu Intan kembali menceritakan bagaimana pertemuannya dengan keluarga Pak Gatot. Kala itu, setelah Intan ketinggalan bus di daerah Ciputat, ia sempat terlantar di pinggir jalan. Intan yang masih polos tentu saja ketakutan berada di kota orang seorang diri, apalagi saat itu langit sudah gelap.
Saat itu, Intan sempat istirahat di depan ruko yang sudah lama tak terpakai. Semua itu bisa terlihat jelas dari pintu harmoni yang rusak dan usang. Intan tidur di teras ruko itu tanpa alas apapun, kantong kresek yang berisi uang dan beberapa pakaiannya itu akhirnya di pakai sebagai bantal di kepalanya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana kamu bisa bertemu Pak Gatot dan keluarganya?" tanya Aji sambil menatap Intan yang sedang menunjukkan wajah yang sedih.
"Awalnya saya ketemu Kinar, dia yang menolong saya saat saya di kejar-kejar anak punk. Mereka akan mempe-r-ko-sa saya." Intan menundukkan kepalanya ketika ketika mengingat kejadian pedih itu.
"Saya sangat bersyukur karena saat itu di tabrak Kinar dengan motornya, meskipun saya sempat tidak bisa jalan, Gus. Kaki saya retak karena di tabrak Kinar yang sedang mabuk saat itu," ucap Intan seraya memalingkan wajahnya ke arah Aji.
Aji memberikan isyarat agar Intan mendekat ke arahnya, ia benar-benar tak sanggup lagi untuk mendengarkan kisah kelam yang di alami Intan dulu. Sekali lagi Aji meraih tubuh Intan ke dalam dekapannya. Aji sudah tidak perduli meskipun malaikat mencatat semua perbuatannya saat ini. Ia hanya ingin mendekap tubuh rapuh yang sedang bergetar di dadanya itu.
"Keluarkan semua luka yang sudah lama kamu pendam! jangan di simpan lagi! aku hanya ingin kamu hidup bahagia setelah ini. Jadilah Intan yang bersinar, bukan Tata yang terlalu banyak luka." ucap Aji sambil mengusap rambut Intan dengan lembut.
Aji membiarkan Intan merasakan kehangatan atas semua rasa yang ia berikan. Mungkin saat ini, Intan sangat membutuhkan da-danya untuk bersandar. Hanya ini yang bisa Aji lakukan untuk memberikan tempat ternyaman untuk Intan.
"Aku akan pulang ke Jombang. Aku harap kamu mau ikut aku, agar kamu bisa melihat bagaimana Aku mematahkan tangan yang sudah membuatmu terluka," ucap Aji yang membuat Intan menengadahkan kepalanya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·