
Suasana sepi bisa dirasakan oleh Intan tatkala kakinya sampai di area pondok pesantren putri. Semua santriwati sedang berada di sekolah, hanya tinggal beberapa pengurus senior yang ada di sana dan salah satunya adalah Rahma.
Intan mengayun langkah menuju ruangan yang ada di ujung—tempat yang biasa dipakai para pengurus berkumpul setiap hari. Biasanya di jam-jam seperti ini para pengurus sedang menilai hasil tulisan para santriwati yang dikumpulkan setiap hari jumat malam.
"Assalamualaikum ...." ucap Intan saat berada diambang pintu.
"Waalaikumsalam ...." jawab salah satu pengurus pondok yang bernama Bibah, "silahkan masuk, Ning," Bibah berdiri dari tempatnya.
"kemana yang lain? tumben sendirian?" tanya Intan setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tak ada orang lain di ruangan tersebut.
"yang lain sedang memeriksa kamar, Ning," ucap Bibah seraya duduk di samping Intan, "ada apa, Ning?" tanya Bibah tanpa basa-basi lagi.
Intan akhirnya menyampaikan pesan ummi Sarah kepada Bibah karena ia harus segera kembali untuk membuat kue seperti tutorial yang ada di entub. Tidak sampai sepuluh menit, akhirnya Intan keluar dari ruangan tersebut.
Semilir angin di tengah hangatnya sinar mentari dan Suasana yang sepi menambah syahdunya suasana di pesantren yang dulu pernah ia tempati. Namun, langkah Intan harus terhenti karena terkejut ketika melewati kamar yang selama ini ia keramatkan. Ia semakin terkejut ketika tangannya di tarik paksa oleh sang pemilik kamar.
"apa-apaan sih!" ujar Intan saat berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rahma.
Brak!!
Rahma menutup pintu kamarnya dengan keras setelah berhasil menyeret Intan ke dalam kamar. Wajahnya terlihat merah padam karena menahan emosi yang bersarang dalam hati.
"Jangan kurang ajar, ya! jaga batasanmu!" Intan mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Rahma. Amarah Intan mendadak bangkit dari jiwanya setelah mendapat perlakuan tidak sopan dari Rahma.
"kamu kan yang menyuruh Aga agar menikahiku!" Rahma menuduh Intan tanpa bukti apapun. Sejak kemarin malam ia frustasi karena tidak bisa menolak lamaran dari Aga. Ia terus menangis karena tidak memiliki perasaan apapun dengan Aga.
__ADS_1
Intan bersekedap seraya dengan mata yang membulat sempurna. Kali ini sepertinya Intan harus meladeni wanita gila yang ada di hadapannya, ia harus memberikan peringatan keras kepada gadis tak tahu malu seperti Rahma.
"untuk apa aku menyuruh Aga melakukan semua itu?" tanya Intan tanpa iringan senyum sedikitpun.
Rahma berdecak setelah mendengar jawaban dari Intan. Ia semakin emosi ketika melihat ekspresi wajah yang ditampilkan Intan saat ini, "kamu takut kan Gus Aji menikahiku! maka dari itu kamu menyuruh Aga untuk menikahiku!" lagi dan lagi Rahma menuduh Intan.
"Heh wanita tak tau diri!! harusnya kamu itu tahu malu! sikap yang kamu tunjukkan saat ini benar-benar menjijikkan! kamu ini seorang santri, mestinya kamu malu jika ingin merebut suami orang!" hardik Intan dengan nada penuh penekanan.
"Aku tidak merebut suamimu! aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku selama ini!" kilah Rahma sambil berkacak pinggang di hadapan Intan, "harusnya kamu yang malu karena menghalangi Gus Aji untuk melakukan sunnah dari Rosullulloh!" ucap Rahma tanpa rasa takut sedikitpun.
"Cih! jangan membawa nama Rosullulloh dan agama untuk menutupi kebusukanmu! kamu tak ada bedanya dengan perebut suami orang!" Sarkas Intan dengan satu sudut bibir yang terangkat.
"kamu itu tahu ilmu agama! kamu mondok disini tuh bukan setahun atau dua tahun saja! selama ini apa yang kau pelajari disini heh? memalukan!" hardik Intan dengan bahasa yang lebih kasar.
"Ingat!! jangan pernah membawa nama agama dan Rasul untuk mewujudkan ambisimu! atau jangan-jangan kamu ingin mendapat julukan pelakor syar'i ya?" ujar Intan dengan iringan senyum smirk yang membuat emosi Rahma semakin terbakar.
Intan mempersiapkan diri untuk menangkis tangan Rahma, dan benar saja beberapa detik kemudian, Rahma hampir mendaratkan tangannya di wajah Intan. Namun, tangan itu berhasil ditangkap Intan, cengkraman yang kuat akhirnya harus dirasakan oleh Rahma.
"jangan main fisik denganku! kamu itu tidak ada apa-apanya! jika kamu memang berani menghadapiku, ayo kita tarung di tempat lain! aku siap menghadapimu kapanpun!" tantang Intan dengan wajah yang me merah karena menahan emosi yang semakin berkorbar.
Rahma hanya diam, ia terus memberontak karena merasakan sakit di pergelangan tangannya. Intan mencengkramnya dengan kuat dan sepenuh tenaga, "lepaskan!" ujar Rahma.
Intan menghempaskan tangan itu. Ia menatap Rahma dengan tatapan mengintimidasi, rasa bencinya kepada gadis itu rasanya semakin mendarah daging. Ia berharap Aga segera membawa pergi wanita depresi ini.
"Dasar mantan berandal! gadis jalanan penuh maksiat!" sarkas Rahma ketika Intan menyentuh handle pintu.
__ADS_1
Intan menarik napasnya panjang setelah mendengar ujaran yang keluar dari mulut Rahma, ia membalikkan tubuhnya agar bisa menatap gadis cantik yang terlihat menyedihkan itu.
"Ya, memang benar! aku adalah mantan berandal dan anak jalanan! tapi aku bukanlah wanita murahan yang menyukai pria beristri! wajahku memang tak secantik dirimu, tapi nasibku jauh lebih baik darimu!" ujar Intan dengan senyum penuh kemenangan.
"Asal kamu tahu! meskipun aku berandal dan anak jalanan, nyatanya Mas Aji lebih memilihku daripada kamu, wahai pelakor syar'i!!" ujar Intan sebelum meninggalkan Rahma.
Rahma tertegun setelah mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh Intan. Tubuhnya ambruk di lantai setelah Intan pergi dari kamarnya. Ia tergugu seorang diri sambil meratapi nasib yang kurang beruntung seperti yang dikatakan Intan. Ia pun tidak bisa mendapatkan pria idamannya selama ini.
Sementara itu, Intan terus melangkah keluar dari area pondok putri ini. Emosi di dalam hatinya kembali bergemuruh setelah bertemu dengan Rahma. Andai ia bertemu Rahma di tempat lain, pastilah jiwa anarkisnya akan kembali seperti dulu.
Intan tak habis pikir, kenapa ada wanita seperti Rahma yang tinggal di pesantren. Harusnya Rahma segera pergi dari sini agar rumah tangganya menjadi lebih tenang.
"Astaghfirullahaladzim ...." Intan terus beristigfar saat mengayun langkah menuju ndalem. Beberapa kali ia menggelengkan kepala ketika teringat sikap yang di tunjukkan Rahma. Ia sampai mengusap perutnya beberapa kali meskipun belum hamil.
"Amit-amit jabang bayi ojo sampek anak turunku onok seng koyok Rahma! gilo aku!" gumam Intan ketika sampai di depan pintu samping rumah.
("Amit- amit jabang bayi, jangan sampai keturunanku ada yang seperti Rahma! jijik aku!")
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ btw makasih yaa yang udah ngasih vote, gift, like dan komentar🌹🌹
Nih aku ada rekomendasi lagi, karya keren dari salah satu temenku😍mampir yuk!!
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷