Surga Hitam

Surga Hitam
Kontrol ke dokter,


__ADS_3

"Keadaan tempurung kepala Nona sudah bagus, luka jahitnya juga mulai kering, tapi Nona tidak boleh terlalu banyak aktifitas berat ya," ucap dokter setelah memeriksa kondisi Intan, "jangan lupa kontrol setiap satu bulan sekali ya Non, jangan sampai telat minum obat, meskipun Nona sudah lebih baik karena kepala Nona masih rentan, jadi saya harap Nona tetap berhati-hati," lanjut dokter tersebut setelah menulis resep obat.


"Apakah saya boleh merokok, dok?" tanya Intan setelah menatap Aji sekilas.


"No! jangan sekali-kali merokok atau minum alkohol ya, karena itu dua hal itu bisa mempengaruhi kondisi otak Nona, saya harap Nona berpikir dua kali jika ingin merokok ataupun minum alkohol." dokter itu pun akhirnya menjelaskan bagaimana alurnya jika sampai Intan merokok.


"terima kasih dok, saya permisi dulu," ucap Intan setelah selesai konsultasi dengan dokter tersebut.


Intan dan Aji segera keluar dari ruangan dokter itu, mereka berjalan menuju apotek untuk menebus obat. Setelah daftar dan membayar biaya konsultasi, Aji menghampiri petugas apotek untuk menyerahkan resep.


"Bu, obatnya bisa dikirim saja?" tanya Aji saat menyerahkan resep tersebut.


"Bisa Pak, silahkan isi identitas dan alamat di bilik sebelah sana ya pak, saya akan menghitung harga obatnya dulu," ucap petugas tersebut seraya menunjukkan bilik yang di maksud.


Aji segera mengisi form pengiriman sesuai arahan petugas tersebut dan setelah itu ia membayar tagihan obat. Setelah selesai Aji menghampiri Intan yang sedang duduk di ruang tunggu.


"ayo pulang, nanti obatnya dikirim!" ucap Aji setelah berdiri di hadapan Intan.


Intan pun beranjak dari tempatnya, ia berjalan di samping Aji keluar dari gedung rumah sakit ini. Intan mulai berani bergelayut manja di lengan suaminya itu.


"Kita mampir ke studio yuk, Gus! saya kangen Kinar," ucap Intan setelah mereka berdua berada di dalam mobil.


"Baiklah Tuan putri, kita meluncur ke sana," ucap Aji setelah memasang sabuk pengamannya.


Mobil putih itu akhirnya meninggalkan area rumah sakit, melaju di jalanan yang masih di penuhi lalu lalang kendaraan. Malam ini cuaca di Ciputat cerah tanpa mendung, bintang pun bertaburan menghiasi langit yang gelap.


Setelah berada di jalanan selama dua puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Aji sampai di halaman luas studio. Mereka segera turun dari mobil dan berjalan ke dalam studio.


"Halo Bang," sapa Intan setelah membuka pintu kaca itu, ia menyembulkan kepalanya ke dalam studio.


"Weew masuk Tan!" ucap Tommy setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Intan membuka pintu itu dan segera masuk bersama Aji, "kemana Kinar, Bang?" tanya Intan karena tak melihat batang hidung sahabatnya itu.


"Dia masih keluar, katanya mau cari sepatu sih!" ucap Tommy seraya mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang ada di atas pintu, "coba telfon dia, Tan!" ujar Tommy setelah menyadari jika adiknya itu keluar dengan waktu yang cukup lama.


Intan merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu ia mencari kontak Kinar dan segera menelfon sahabatnya itu. Obrolan terjadi beberapa menit saja.


"katanya masih di jalan, Bang," ucap Intan setelah memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas.


"oh ya udah, gue kira dia diculik," seloroh Tommy yang membuat Intan tergelak, "silahkan duduk, Ji. Cari tempat yang nyaman," ucap Tommy seraya mengalihkan pandangan ke arah Aji.


Intan mengajak Aji duduk di depan studio karena di dalam sedang banyak orang yang sedang ditato. Mereka berdua duduk di bangku depan sambil menatap lalu lalang kendaraan.


"Tan, misal kalau ada cowok yang minta ditato di area tertentu gimana? siapa yang mengerjakan?" tanya Aji setelah diam beberapa menit.


"Ya di kerjakan tato artist cowok, Gus, begitupun sebaliknya, kalau ada cewek yang minta ditato di area tertentu pasti ya tato artist nya cewek," jawab Intan seraya menatap Aji.


Aji kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap kegiatan di dalam studio lewat kaca besar di belakangnya. Ia fokus memperhatikan bagaimana cara kerja teman-teman Intan hingga Aji di kejutkan dengan tepukan tangan Intan di paha nya.


"itu bukannya Pak Farhan ya?" Intan memicingkan matanya untuk memperjelas siapa yang sedang berhenti di sisi jalan tepat di depan studio.


Aji berteriak memanggil nama Farhan seraya melambaikan tangannya. Lalu ia memberikan kode kepada Farhan agar mampir terlebih dahulu.


"Pak Aji kenapa di sini?" tanya Farhan setelah motornya berhenti di samping mobil Aji.


"Nganterin Istri, Pak. Kok bisa jalan sama dia?" tanya Aji seraya menunjuk Kinar yang sedang ngobrol dengan Intan.


"Tadi motor dia mogok dijalan Pak, kasian dia tadi dorong motor karena tidak ada bengkel yang buka. Nah, kebetulan dia lewat depan rumah, ya sudah saya anterin kesini, motornya saya taruh di rumah dulu," ucap Farhan seraya menatap Kinar.


Tommy keluar dari studio karena melihat ada seseorang yang datang. Ia melihat Kinar ada di samping Intan tapi tak menemukan motor matic adiknya itu.


"Motor lu kemana?" tanya Tommy.

__ADS_1


"Mogok, Bang! gue titipin di rumah Abang itu!" ucap Kinar seraya menunjuk Farhan.


Tommy segera menghampiri Farhan, ia ingin berterima kasih karena Farhan sudah menolong adiknya. Tommy pun mengatakan jika motornya akan diambil besok pagi sekalian di bawa ke bengkel.


"Gue tinggal ke dalam dulu, silahkan lanjutkan obrolan kalian!" ucap Tommy sebelum meninggalkan Aji dan Farhan.


Intan terus mengamati gerak-gerik Kinar, sepertinya ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Dari sorot matanya terlihat jelas jika Kinar sedang menyembunyikan sebuah rasa.


"Lu kenape sih? gue liat dari tadi lu keknya bahagia banget!" tanya Intan seraya memalingkan wajah Kinar agar menatapnya.


"eh Tan, itu temen laki lu kah? sepertinya akrab banget!" Kinar mulai penasaran dengan Farhan.


"iya dia teman dosen sekaligus temen bisnis. Emang kenape? lu tertarik sama dia?" Intan menatap Kinar dengan seringai penuh arti, "dia lagi patah hati, ditinggal calon istrinya kabur sama selingkuhannya," ucap Intan dengan suara yang sangat lirih.


Sebuah senyum penuh arti terbit dari bibir Kinar setelah mendengar ucapan Intan. Entah mengapa sejak bertemu Farhan beberapa puluh menit yang lalu, ada perasaan aneh dalam hatinya. Apalagi ketika melihat wajah cool dan juga kesopanan pria yang ada di samping Aji itu.


"lu mau gue kenalin ke Pak Farhan?" tanya Intan tiba-tiba, hal itu berhasil membuat lamunan Kinar hilang begitu saja.


"Gus!!!" teriak Intan yang membuat Aji mengalihkan pandangan ke arahnya, "Kinar emm!" ucapan Intan harus terhenti karena Kinar membekap mulutnya.


"Jangan bikin gue malu, Komodo!" ucap Kinar dengan suara yang lirih. Kinar mengeraskan rahangnya seraya menatap Intan dengan tatapan tajamnya.


Kedua pria yang ada di halaman studio itu pun saling pandang karena sikap aneh kedua gadis yang duduk di depan studio itu. Sejujurnya saja, Farhan pun penasaran kenapa Kinar membekap istri sahabatnya itu.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2