
Bintang telah hadir bersama angin malam untuk mengisi malam yang gelap. Suara adzan isyak telah berkumandang sejak beberapa puluh menit yang lalu, kewajiban empat rakaat pun telah selesai dilaksanakan.
Intan mematut dirinya di depan cermin seraya bersenandung. Ia tengah bersiap sebelum mengisi kelas tilawah di pesantren. Sudah satu tahun ini ia ikut aktif di pesantren bersama Isna. Hal itu membuatnya lebih sering bertemu dengan Rahma.
"Istriku malam ini terlihat cantik sekali ya!" ucap Aji setelah mengamati kegiatan sang istri.
Intan hanya tersenyum setelah mendengar gombalan dari Aji. Ia tak menjawab ucapan Aji karena sedang fokus memakai jilbab. Sudah menjadi kebiasaan Aji, mengganggu Intan yang sedang bersiap ke pesantren.
"bagaimana dengan kadoku tadi pagi? kamu suka?" tanya Aji setelah berdiri di belakang tubuh Intan. Ia tak melepaskan pandangan dari wajah manis yang terlihat di cermin yang ada di hadapannya.
"warnanya bagus, kalem tapi menantang," jawab Intan tanpa menatap suaminya, "tapi sepertinya bukan saya deh Mas yang suka, tapi Mas 'kan?" kali ini Intan menatap wajah yang sedang bersembunyi di lekuk lehernya.
"Tepat sekali! kamu memang istri yang cerdas!" ucap Aji dengan suara yang sensual.
Intan menggerakkan tubuhnya agar Aji segera menjauh karena ia harus segera berangkat ke pesantren, "Gus, saya berangkat ke pesantren dulu, nggih!" pamit Intan dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Aji hanya terkekeh setelah mendengar ucapan sang istri. Tak lupa ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Intan sebelum keluar dari kamar, "good luck, istriku!" ucap Aji sebelum Intan menutup kembali pintu kamar.
Intan segera mengayun langkah menuju pesantren, ia berjalan seorang diri menuju pesantren. Setiap hari ia bertemu dengan Rahma, mereka tak banyak berkomunikasi seperti Intan berkomunikasi dengan santri yang lain. Entah mengapa rasanya ia risih jika berdekatan dengan gadis itu.
"Assalamualaikum ...." ucap Intan setelah masuk ke dalam ruangan. Ia mengembangkan senyumnya ketika menatap para santri yang sudah duduk rapi di atas karpet.
Pelajaran tilawah telah dimulai. Intan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang merdu. Semakin lama suara Intan semakin tinggi, membuat siapa saja merinding saat mendengarnya.
"Pantas saja, Gus Aji memilihnya sebagai istri, ternyata dia sangat sempurna!" gumam Rahma dalam hatinya dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Rahma tersenyum tipis ketika melihat kesabaran Intan tatkala membimbing para santrinya. Ia sangat telaten meskipun banyak yang belum bisa menirukan nada seperti yang dicontohkan.
"aku tidak mungkin menang melawannya meski aku memiliki paras yang lebih cantik dari dia." Sekali lagi Rahma bergumam dalam hati setelah pikirannya melalang jauh entah kemana.
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น...
Aji menutup laptopnya setelah selesai memeriksa tugas yang dikirim mahasiswa lewat e-mail. Ia meletakkan laptop itu di atas ranjang dan segera keluar kamar untuk menemui ummi Sarah di kamarnya.
Satu persatu anak tangga telah dilalui oleh Aji, kini ia sampai di depan kamar ummi Sarah. Aji mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka pintu tersebut. Bibir Aji melengkung begitu saja ketika melihat ummi Sarah duduk bersandar di ranjang dengan tangan yang menggenggam tasbih.
"Mi, boleh Aji masuk?" tanya Aji yang masih berdiri di ambang pintu.
"tentu saja, masuklah, Nak!" ummi Sarah melambaikan tangannya ke arah Aji dan setelah itu beliau menepuk ranjang yang ada di sisinya.
Aji duduk di sisi ummi Sarah, tanpa di suruh ia memijat kaki kiri ummi Sarah. Hal itu membuat wanita paruh bayu tersebut tersenyum bahagia.
"Abah kemana, Mi?" tanya Aji setelah beberapa menit terdiam.
"Abahmu menemui tamu di luar. Memangnya kenapa? kamu ada perlu sama abah?" tanya ummi Sarah.
"Tidak Mi," jawab Aji seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Mi, jangan terlalu banyak pikiran biar cepat pulih!" ucap Aji seraya menegakkan wajahnya untuk menatap ummi Sarah.
"ummi gak mikir apa-apa, Nak! memang sudah waktunya sakit," ucap ummi Sarah dengan suara yang lirih.
"ummi harus sehat ya, biar bisa gendong anaknya Aji suatu saat nanti," ucap Aji seraya menatap ummi Sarah dengan mata teduhnya.
Irama jantung ummi Sarah mendadak tak beraturan setelah mendengar ucapan Aji. Ada rasa haru yang menusuk hati ummi Sarah ketika melihat sorot mata putranya yang mengharapkan sesuatu yang belum ia dapatkan selama ini.
"Ji ...." ucap ummi Sarah dengan suara yang lirih.
"kenapa Mi?" tanya Aji tanpa menatap ummi Sarah, ia sedang fokus memijat telapak kaki ummi Sarah.
__ADS_1
"boleh ummi mengatakan sesuatu?" tanya ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.
Aji menegakkan wajahnya, ia menatap ummi Sarah dengan sejuta rasa penasaran yang ada di dada, "memangnya ada apa, Mi?" Aji menghentikan tangannya lalu ia maju agar lebih dekat dengan ummi Sarah.
Ummi Sarah mendadak bungkam, beliau kembali ragu untuk mengatakan keinginannya. Tapi hatinya tak tahan jika harus memendam semua ini lebih lama lagi.
"Ummi ingin kamu menikah lagi, agar kamu segera memiliki anak dari wanita lain," ucap ummi Sarah seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
Deg. Jantung Aji rasanya berhenti berdetak mendengar ucapan ummi Sarah. Ia tertegun karena belum percaya dengan pernyataan yang di ucapkan ummi Sarah. Perasaannya mendadak sedih karena membayangkan hal itu.
"Poligami tidak terlalu buruk, Nak. Poligami kan diizinkan di agama. Ummi dan Ning Firda mu pun tetap bahagia meskipun mempunyai madu. Ummi percaya kok kalau kamu pasti bisa bersikap adil kepada istri-istri mu nanti," ucap ummi Sarah seraya mengusap lengan Aji.
Aji hanya diam saja, ia tak bisa menjawab ucapan sang ibu. Bagaimana bisa wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini menyuruhnya untuk berpoligami. Se ujung kuku pun tak ada niat di hati Aji untuk membagi cintanya kepada wanita lain.
"Maaf Mi, Aji tidak bisa melakukan poligami sama seperti Abah dan Mas Sholeh. Aji hanya ingin hidup bersama Intan sampai tua nanti karena pernikahan itu bukan melulu tentang anak, Mi. Aji masih bisa mendapatkan kebahagiaan dari hal, Mi," ucap Aji seraya menatap ummi Sarah.
Ummi Sarah menghela napasnya panjang setelah mendengar penolakan dari Aji. Beliau sudah tau jawaban ini lah yang akan beliau dengar. Tapi sebagai seorang ibu, ummi Sarah pun harus menata masa depan putranya
"Ji, bagaimana kalau istrimu tidak bisa hamil seterusnya? kamu tidak akan bisa mempunyai keturunan, Nak!" ujar ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Aji, "Rahma bersedia menjadi istri keduamu, dia bisa memberimu keturunan, Nak! jadi, menurut Ummi, menikahlah dengan Rahma." sebuah kalimat yang membuat perasaan Aji semakin tak karuan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐
_
_
__ADS_1
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท