
Rembulan telah hadir untuk mengusir gelapnya langit malam. Angin berhembus mesra menyapa semua orang yang duduk di pendopo yang ada di belakang rumah kyai Yusuf. Wajah semua orang yang ada di sana terlihat serius, ada Kyai Yusuf, Aji, Sholeh dan juga Ninis. Mereka sedang membahas masalah yang sedang terjadi sedangkan Aslam masih sibuk menyiapkan rekaman CCTV yang dipindah di dalam laptop.
Sholeh baru sampai di Jombang saat menjelang siang. Ia benar-benar shock ketika melihat kondisi istrinyaβtak bersuara dengan tatapan yang masih kosong sama seperti tadi pagi. Sholeh semakin bingung saat anak-anaknya mulai rewel apalagi anak keempatnya yang belum genap dua tahun.
"Mas, jujur saja saya resah karena kejadian hari ini," keluh Aji seraya menatap Sholeh dengan intens, "ini bukan pertama kalinya Ning Firda mengganggu Intan. Saya masih bisa diam jika hanya kata-kata Ning Firda yang membuat Intan sedih, tapi hari ini Ning Firda sudah melampaui batasnya," lanjut Aji dengan pandangan yang tak lepas dari kakak pertamanya itu.
Sholeh masih bergeming di tempatnya, ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. Sejak istrinya hamil anak keempat, Sholeh sibuk dengan yayasan dan pekerjaannya, ia pun harus membagi waktu pulang ke rumah istri keduanya, alhasil ia jarang sekali ngobrol santai dengan Firda.
"Apa cerita yang kamu ucapkan bisa dipercaya Ji?" Sholeh masih ragu karena belum percaya jika istrinya berubah menjadi sosok lain yang diceritakan oleh Aji.
"loh untuk apa saya berbohong kepada Mas Sholeh? memang begitu adanya! Saya sering melihat langsung bagaimana Ning Firda menghujat istri saya," Aji mulai kesal karena pertanyaan dari Sholeh, "istri saya memang mantan anak jalanan, Mas! tapi dia tidak pernah menyentuh hidup orang lain!" Suara Aji mulai terdengar beriringan dengan amarah.
Ninis dan kyai Yusuf masih diam sambil mendengarkan Aji dan Sholeh yang sedang mengungkapkan opini. Mereka berdua membela istri masing-masing dan hal itu membuat kepala kyai Yusuf semakin pening, "sudahlah! kalian jangan berdebat lagi! kita tunggu Aslam datang saja agar tahu bagaimana kejadian tadi pagi." Kyai Yusuf menghentikan kedua putranya agar tidak berdebat lagi.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Aslam datang dengan membawa laptop. Semua yang ada di pendopo fokus ke arah layar laptop setelah Aslam memutar video yang tersimpan disana. Ninis menaikkan satu alisnya ketika melihat ekspresi wajah Firda, ia terus mengamati kakak iparnya itu sebelum menghampiri Intan.
Aji menutup kelopak matanya tatkala melihat istrinya turun begitu saja dari gazebo. Jujur saja hatinya meradang karena perbuatan Firda yang bisa membahayakan istri dan anaknya yang belum lahir.
"untung saja Intan hamil besar! kalau seandainya Ning Firda menyerang Intan sebelum dia hamil, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi," gumam Aji setelah video yang terputar itu selesai, "aku takut jiwa anarkisnya muncul kembali," imbuh Aji dengan helaian napas yang berat.
Sholeh hanya menundukkan kepalanya, ia tidak tahu lagi harus berkata apa karena istrinya terbukti bersalah. Ia pun bisa melihat jika Intan tidak melakukan apapun seperti spekulasinya.
"Mas, maaf saya harus menyampaikan pendapat saya," ucap Ninis dengan suara yang lembut. Hal itu berhasil membuat Sholeh menegakkan kepalanya lagi, kini pandangannya tertuju pada sosok berjilbab yang sangat mirip dengan umminya itu.
"Katakan, Dik!" ucap Soleh dengan suara yang lirih.
"Saran saya, lebih baik Mas Sholeh membawa Ning Firda ke Psikiater karena ada kemungkinan Ning Firda mengalami depresi persisten. Mas harus bergerak cepat kali ini, saya khawatir kesehatan lambung Ning Firda akan terganggu karena keadaan ini," papar Ninis yang membuat semua pria yang ada di sana tercengang.
__ADS_1
Keheningan mulai menyapa semua orang yang ada di pendopo. Kyai Yusuf sendiri masih diam sambil menatap Sholeh dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"kalisn bertiga kembalilah ke rumah, abah ingin bicara dengan Mas mu!" ujar kyai Yusuf dengan pandangan yang tak lepas dari Sholeh.
Kyai Yusuf mengubah posisi duduknya setelah Aji, Aslam dan Ninis benar-benar pergi dari pendopo. Tatapan kyai Yusuf tak sehangat biasanya, bisa dikatakan jika pria beristri dua itu sedang marah kepada anak tertuanya.
"Apa saja yang kamu lakukan selama ini hingga kamu tidak tahu jika istrimu seperti itu?" tanya kyai Yusuf dengan tatapan tajamnya.
Sholeh hanya bisa menelan ludah setelah mendengar pertanyaan ayahnya. Ia bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan yang membingungkan itu.
"Saya sibuk dengan yayasan dan harus membagi waktu pulang ke rumah kedua, Bah!" jawab Sholeh dengan kepala yang tertunduk.
"lalu kamu akan menyalahkan yayasan dan istri keduamu untuk menutupi kelalaian mu sendiri?" sarkas kyai Yusuf.
"Dari dulu abah kan sudah bilang, jangan poligami jika tidak sanggup menegakkan keadilan! apa yang dialami Firda saat ini adalah karena kamu tidak becus mengatur waktu!" kyai Yusuf benar-benar marah kali ini.
"kalau sudah seperti ini bagaimana? kondisi istrimu sangat menyedihkan karena kurang perhatian darimu!" suara kyai Yusuf terdengar menggelegar di indera pendengaran Sholeh.
Semua kalimat yang diucapkan abahnya itu seperti sebuah pisau yang menyayat hati. Sholeh hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mengingat memori di masa lalu. Ya, Sholeh pun mengakui jika semua ini adalah kelalaiannya. Ia sudah mendzolimi istrinya, lalu bagaimanakah nasib keempat anaknya setelah ini. Sungguh ... Sholeh merasa terpukul saat ini. Penyesalan memang datangnya di akhir.
"Sekarang semua keputusan ada di tanganmu! abah tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu! kalau kamu ingin istrimu sembuh, lakukan saran dari Ninis!" ujar kyai Yusuf sebelum beranjak dari tempatnya.
"Tetaplah di tempat ini! sepertinya kamu harus berteman dengan keheningan agar pikiranmu tidak melulu tentang dunia! semua yang terjadi dalam rumah tanggamu adalah teguran dari Allah, maka segeralah bertaubat!" ucap kyai Yusuf sebelum pergi meninggalkan Sholeh seorang diri di pendopo,
π·Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈπ·
ββββββββββββββββ
__ADS_1
Aku punya rekomendasi untuk kalian nih, kuy lah kepoin siapa tau sukaπππ
Judul: Masa Lalu Sang Presdir
Author: Enis Sudrajat
Blurb:
"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.
"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.
Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.
"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.
"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.
"Coba lihat buka sendiri!"
Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.
"Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan.
"Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard
π·π·π·π·π·π·π·π·π·
__ADS_1