
Hari yang ditunggu Aji dan Intan akhirnya tiba. Hari ini adalah hari jumat, dimana mereka harus berangkat ke Bali nanti sore. Sejak kemarin malam Intan sudah menyiapkan isi koper yang akan ia bawa nanti sore. Tinggal beberapa barang saja yang harus ia paking hari ini.
"Mas, jadi bawa sandal?" tanya Intan seraya menatap Aji yang sedang memakai kemejanya, pagi ini Aji harus pergi ke kampus karena ada kelas yang harus ia isi.
"Iya boleh! bawakan yang ringan saja!" ucap Aji tanpa menatap Intan.
Beberapa menit kemudian Aji sudah siap berangkat ke kampus. Tak lupa ia memakai sepatu kulitnya sebelum menghampiri Intan yang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Waw! udang asam manis!" gumam Aji ketika melihat menu yang tertata rapi dimeja.
"Mas, duduk dulu! biar aku ambilkan!" ucap Intan sambil menunjuk ruang tengah yang dirangkap menjadi ruang makan.
Aji menggelar karpet di ruang tengah, tak lupa ia menekan remote televisi untuk melihat acara pagi ini. Seperti biasa, ia selalu melihat berita pagi di salah satu chanel TV nasional.
"Waktunya sarapan!" ucap Intan dengan membawa dua piring yang berisi makanan.
Aji menerima piring yang ada di tangan kanan Intan. Ia sangat antusias karena menu pagi ini adalah salah satu makanan favoritnya. Tayangan berita yang ada di televisi menjadi pengiring sarapan romantis sepasang suami istri itu.
"Sayang, aku berangkat dulu, ya!" ucap Aji setelah menikmati satu gelas wedang jahe seusai menghabiskan sarapannya.
Intan mengantar suaminya sampai di teras rumah, tak lupa ia mengecup punggung tangan Aji sebelum suaminya itu berangkat ke kampus, "Hati-hati, Mas!" ucap Intan sebelum Aji masuk ke dalam mobil. Intan melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarai suaminya itu perlahan hilang dari pandangan.
Intan bergegas masuk ke dalam rumah, sebelum geng julid melewati depan rumahnya. Ia tidak mau mendengar omongan menyakitkan dari salah satu anggota geng itu yang super pedas seperti seblak level setan ja-ha-nam. hehe,
Pagi ini Intan harus membersihkan rumahnya sebelum ditinggal liburan ke Bali. Ia masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan paking beberapa barang yang sudah ia siapkan di atas ranjang. Ia bernyanyi ketika rasa sepi mulai menyapanya, inilah hari-hari yang akan dilalui Intan sebagai seorang ibu rumah tangga.
__ADS_1
Intan tidak bekerja lagi di studio tato, kemarin ia pamit kepada Pak Gatot dan Tommy untuk mengundurkan diri. Ia harus menepati janjinya kepada Aji—berhenti bekerja setelah menjadi istri sah. Meski berat semua itu harus ditinggalkan oleh Intan karena baktinya sebagai seorang istri adalah yang menjadi prioritas utama saat ini.
Satu koper besar sudah siap di ruang tamu. Intan kembali lagi ke kamarnya untuk memastikan jika tidak ada barang yang ketinggalan.
"Akhirnya, selesai juga!" gumam Intan seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Penunjuk waktu masih berada di angka sepuluh pagi, nyatanya rasa kantuk mulai menyerang Intan. Ia tak dapat lagi bertahan untuk tetap terjaga sampai suaminya pulang dari kampus. Ia terlelap sambil memeluk guling sebagai gantinya Aji.
...🌹🌹🌹...
Suara adzan ashar telah berkumandang. Intan dan Aji pun siap melaksanakan kewajiban empat rakaat sebelum berangkat menuju Bandara Soetta. Seperti biasa, mereka menunaikan kewajiban itu berjamaah dirumah.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka berdua siap berangkat menuju bandara. Kali ini mereka di antar oleh Pak Estu—tetangga kontrakan Aji. Sebelumnya Aji sudah berbicara kepada Pak Estu jika ia menitipkan mobil kepada tetangganya itu. Aji sangat percaya dengan pak Estu, karena selama ini beliau lah yang benar-benar tulus kepada Aji.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Pak Estu setelah melihat Aji dan Intan keluar dari kontrakan.
Singkat cerita, kini mobil yang ditumpangi Aji telah sampai di Bandara. Mereka berdua segera turun sambil membawa koper untuk segera check in. Aji memberikan beberapa lembar rupiah untuk Pak Estu sebelum pria berumur empat puluh lima tahun itu membawa mobil Aji keluar dari area bandara.
Setelah selesai mengurus beberapa data yang harus dilengkapi, mereka berdua harus menunggu selama tiga puluh menit untuk penerbangan ke Bali.
"Nanti kita nginep di Villa atau di hotel ya, Mas?" tanya Intan.
"Sepertinya sih di Villa, kita lihat nanti saja. Kata pak Farhan nanti ada yang menjemput kita di sana," ucap Aji dengan tangan yang asik bermain di tangan Intan.
***
__ADS_1
Langit yang cerah kini telah berubah menjadi gelap karena sinar sang surya mulai hilang dari cakrawala. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam, akhirnya sepasang suami-istri itu tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali. Mereka berdiri di lobby bandara untuk menunggu seseorang yang menjemputnya.
"Apa benar anda Pak Aji dan Bu Intan?" tanya seorang pria muda yang baru saja tiba di hadapan Aji.
"Iya benar! Anda siapa?" tanya Aji.
"Perkenalkan nama saya Putut Hermawan, saya yang bertugas untuk menjadi tour guide Bapak selama liburan di Bali," ucap pria tersebut.
Obrolan ringan terjadi di sana, Putut menunjukkan Aji dan Intan dimana mobil yang akan dipakai menuju tempat yang sudah di pesan oleh Farhan. Mereka bertiga menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit untuk bisa sampai di kawasan Villa elit yang ada di Bali.
"ini Villa yang sudah disiapkan untuk Pak Aji, apa saya perlu menunjukkan bagaimana isi villa ini?" tour guide itu menawarkan diri sebelum berlalu dari hadapan Aji.
"Saya masuk sendiri saja Pak, nanti saya akan menghubungi bapak jika butuh sesuatu." Aji mengembangkan senyumnya seraya menatap tour guide itu.
Intan membelalakkan matanya setelah pintu Villa tersebut terbuka lebar. Intan disuguhkan dengan pemandangan indah yang ada di halaman Villa. Intan meninggalkan Aji begitu saja ketika melihat kolam renang mini yang ada di antara taman buatan yang sangat asri itu.
"Besok kita renang yuk, Mas!" ucap Intan setelah menatap riak air yang bergerak pelan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷