Surga Hitam

Surga Hitam
Kenapa? kenapa?


__ADS_3

Dua hari kemudian ....


Mentari pagi mulai menyapa semua makhluk yang ada di kota Jombang. Intan membuka jendela kamar untuk menghirup udara segar kota yang akan ia tinggalkan setelah ini. Ia menutup kelopak matanya untuk merasakan betapa sejuknya udara pagi.


Setelah puas menyapa udara pagi, Intan membalikkan tubuhnya, ia menatap Aji yang masih bergelung di bawah selimut tebal yang menghangatkan itu. Seusai sholat subuh, Aji memang sengaja tidur lagi karena setelah ini ia akan melakukan perjalanan ke Tangerang.


Intan mulai menata beberapa pakaian yang harus di bawa kembali ke Tangerang. Tak lupa ia menyiapkan pakaian gantinya dan pakaian untuk Aji. Ia mencari celana jeans Aji, kaos polos serta jaket denim yang ada di almari gantungan.


"Haruskah aku menyiapkan itu?" gumam Intan dalam hatinya ketika melihat tumpukan CelDam di Almari paling bawah.


"No, no, no! aku malu!" Intan menggelengkan kepalanya sambil bergumam. Intan segera menutup pintu almari setelah selesai berkemas.


"Ya Allah!" Intan terkesiap setelah membalikkan tubuhnya. Ia terkejut karena tiba-tiba saja Aji sudah berdiri dibalik tubuhnya.


"Selamat pagi, istriku ...." sapa Aji dengan di iringi senyum yang sangat manis setelahnya.


Intan mengembangkan senyumnya ketika melihat wajah tampan yang ada di hadapannya, "selamat pagi, Suamiku ...." ucap Intan dengan suara yang lembut, ia mengulas senyumnya—sebuah senyuman sehangat mentari pagi.


"Setelah ini kita sarapan berdua ya, aku mau mandi dulu," ucap Aji sembari mengusap rambut hitam Intan sebelum keluar dari kamar.


Setelah kepergian Aji, Intan segera merapikan ranjangnya. Dalam beberapa menit saja kamar itu berubah menjadi rapi, "selesai!" ucap Intan setelah menyelesaikan tugasnya.


Intan meraih jilbabnya, ia mengayun langkah menuju lantai dasar untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Intan pergi ke dapur untuk mencari bahan makanan yang bisa di masak untuk sarapan.


"Eh, eh, eh! kamu mau ngapain di sini?" tiba-tiba terdengar suara ummi Sarah dari pintu belakang.


"mau nyiapin sarapan Mi," jawab Intan setelah meletakkan mangkuk yang baru saja ia ambil dari rak.


"kamu itu belum sembuh total, Nak! jadi jangan masak atau melakukan pekerjaan rumah!" ummi Sarah menyingkirkan mangkuk yang baru saja di letakkan oleh Intan.


"Sarapannya sudah siap di meja makan! setelah ini kita sarapan bersama ya. Ummi mau memanggil abah dulu di belakang," ucap ummi Sarah sebelum berlalu dari hadapan Intan.

__ADS_1


Intan mengayun langkahnya menuju ruang keluarga, ia menghempaskan diri di sana, menunggu orang-orang rumah untuk sarapan bersama.


"Kenapa di sini sendirian?" Intan menengadahkan kepalanya ketika mendengar suara Aji di balik sofa yang ia tempati saat ini.


"Ayo sarapan!" ucap ummi Sarah yang baru saja datang bersama kyai Yusuf,


Kyai Yusuf sudah kembali dari rumah keduanya sejak kemarin sore. Beliau tidak pernah lama jika menemui istri keduanya yang ada di kota lain, cukup menginap satu malam saja untuk menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya yang ada di sana.


Keheningan terasa di ruang makan itu, tak ada yang bicara selama sarapan berlangsung, hanya suara garpu dan sendok yang saling bersahutan bagai musik pengiring di sana.


Sarapan bersama telah selesai, semua kembali ke aktivitas masing-masing. Intan dan Aji sibuk mempersiapkan diri di kamar. Mereka harus segera berangkat karena pagi ini Intan ingin menemui bibi nya terlebih dahulu sebelum kembali ke Tangerang. Awalnya Aji menolak keinginan Intan, tapi setelah melihat raut kecewa di wajah istrinya, membuat Aji menjadi tidak tega.


Beberapa puluh menit kemudian, Aji dan Intan siap berangkat, mereka berdua pamit kepada orang-orang rumah. Ummi Sarah banyak memberikan petuah kepada putranya yang kini mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi.


"Nak, jangan lupa pesan Abah kemarin ya, kabari orang rumah jika Papa mu menyetujui rencana pernikahan yang sudah kita rencanakan kemarin," ucap kyai Yusuf setelah Intan menjabat tangan beliau.


"Iya Bah, pasti saya sampaikan ke Papah," ucap Intan dengan di iringi senyum manisnya.


Mereka berdua asyik bersenda gurau untuk mengusir rasa sepi. Mereka membahas hal-hal yang tidak penting selama dalam perjalanan menuju Lamongan. Intan menghentikan gelak tawanya ketika mobil putih itu melintas di kawasan hutan Manting—di mana insiden menakutkan yang terjadi beberapa hari yang lalu.


"Tenang! tidak usah di ingat-ingat lagi. Mungkin dengan cara menyakitkan itu, Allah membukakan jalan kita menuju mahligai pernikahan yang indah ini," ucap Aji setelah menyadari ekspresi Intan berubah.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Intan telah sampai di desa tempat bibi nya tinggal. Beberapa kali Aji melewati jalan desa, tapi mereka berdua tak menemukan rumah yang dulu pernah Intan kunjungi, rumah yang dulu sudah berganti menjadi bengkel motor.


"lebih baik kita turun dulu, kita tanya ke pemilik bengkel itu," ucap Aji setelah menghentikan mobilnya di halaman bengkel.


Intan pun ikut turun bersama Aji, hatinya gelisah karena takut kehilangan jejak bibinya. Ia mengekor di belakang Aji yang sedang berjalan ke arah bengkel.


"Permisi, Mas!" ucap Aji setelah sampai di bengkel motor itu.


"Iya Mas, ada apa ya?" tanya montir yang sedang membenahi mesin motor,

__ADS_1


"Saya mau tanya, rumah ibu Halimah yang dulu ada di sini, sekarang pindah di mana ya?" tanya Aji kepada Montir tersebut.


"Loh! Mas belum tahu kah kalau tiga tahun yang lalu rumah Bu Halimah terbakar habis?" ucap Montir itu yang berhasil membuat Intan membelalakkan matanya, "Bu Halimah dan ketiga anaknya meninggal Mas, ikut terbakar di dalam rumah," ucap Montir tersebut.


Rasanya, Intan tak sanggup lagi untuk berdiri. Ia shock setelah mendengar kabar yang mengejutkan itu, air mata pun lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Lalu di mana anak Bu Halimah yang satu lagi?" tanya Intan dengan isak tangis yang terdengar pilu.


"anak sulung Bu Halimah di adopsi orang Mbak, dia selamat karena waktu kejadian itu, dia sekolah," ucap Montir itu, "Tanah Ibu Halimah ini sudah saya beli Mbak, uangnya di pakai untuk membayar hutang-hutang almarhum dan sisanya di berikan kepada anak sulungnya," ucap Montir tersebut.


Rasanya, Intan tak sanggup lagi untuk mendengarkan cerita tentang bibinya itu. Ia semakin terisak karena merasa bersalah—ia terlambat mengetahui kabar keluarga satu-satunya yang ia miliki.


"Maaf Pak, kalau boleh tau di mana ya makam Bu Halimah?" tanya Aji setelah termangu di tempatnya.


"Mas ikutin saja jalan ini, setelah ada pertigaan nanti belok kiri, nanti makamnya ada di kanan jalan Mas." Montir itu menjelaskan di mana letak makam yang di cari Aji.


"kalau begitu terima kasih Pak atas informasinya, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktu Bapak," ucap Aji sebelum berlalu dari bengkel tersebut. Tak lupa ia membantu Intan berdiri dari bangku panjang yang ia tempati saat ini.


Intan semakin tergugu ketika ia berada di dalam mobil, Aji berusaha menenangkan istrinya itu agar hatinya lebih kuat menjalani semua takdir yang digariskan Sang Maha Agung.


"Kenapa Gus? kenapa Allah mengambil orang-orang terdekat saya?" tanya Intan di sela-sela isak tangisnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 ♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2