Surga Hitam

Surga Hitam
Nikah Siri,


__ADS_3

Sinar mentari telah berganti dengan sinar rembulan, langit yang biru telah berubah menjadi gelap. Semua persiapan telah selesai di lakukan. Syukuran pernikahan Aji dan Intan di gelar di rumah Kyai Yusuf, hanya tetangga kanan kiri yang di undang untuk menghadiri syukuran mendadak itu.


Pernikahan siri antara Intan dan Aji tetap di laksanakan di rumah sakit. Ummi Sarah dan anak-anaknya sudah berkumpul di ruang inap Intan, mereka hanya menunggu kedatangan kyai Yusuf dan tetangganya yang di minta menjadi saksi.


Keluarga Pak Gatot sudah tiba sejak tadi sore. Kali ini bu Leni ikut menjenguk Intan karena ibu yang melahirkan Kinar itu telah luluh hatinya. Beliau sangat bahagia karena setelah ini Intan memiliki suami.


"Pah, restui Intan ya Pah," ucap Intan seraya menatap Pak Gatot yang berdiri di samping bednya.


"Tentu, Nak. Papah sangat bahagia karena kamu telah menemukan jodohmu." Pak Gatot mengusap puncak rambut Intan dengan penuh kasih sayang.


Semua orang yang ada di ruangan mengalihkan pandangannya ketika pintu ruangan terbuka. Kyai Yusuf datang bersama tiga pria paruh baya. Kini mereka semua berkumpul di dekat bed Intan untuk memulai ijab kabul.


Berhubung Intan tidak memiliki orang tua atau saudara laki-laki, maka wali hakim yang menikahkan Aji dan Intan malam ini. Seorang tokoh agama di tempat tinggal kyai Yusuf yang di tunjuk untuk menikahkan mereka.


Aji menjabat tangan tokoh agama tersebut, ia menatap tokoh agama itu dengan wajah yang serius. Jujur saja ia gugup karena tidak ada persiapan sebelumnya, ijab kabul pun berlangsung dengan khidmat.


"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Rahma Ayunda binti Abdul Rahman dengan mas kawin tersebut tunai." akhirnya Aji mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan cukup satu kali saja.


"Bagaimana para saksi?" tanya tokoh agama yang menikahkan Aji kepada para saksi.


"Sah!" ucap semua orang yang ada di ruangan itu.


Setelah pengucapan ijab kabul, kini semua orang menengadahkan tangannya untuk mengucapkan doa yang di pimpin tokoh agama tersebut. Semua acara berjalan dengan lancar tanpa ada halangan.


"Gus Aji dan mbak Intan di nyatakan sah sebagai suami istri di mata agama. Saya harap Gus segera mengurus surat pernikahannya agar sah di negara dan agama," ucap tokoh agama tersebut setelah acara selesai.


Intan menitikkan air mata karena teringat kedua orangtuanya. Ia hanya bisa berbaring di atas bed pasien karena kondisinya belum sepenuhnya membaik, kepalanya masih terasa sakit jika di pakai banyak bergerak.


"Selamat ya Komodo! aku bahagia karena cita-citamu selama ini sudah terwujud," ucap Kinar dengan suara yang lirih, ia canggung karena berada di tengah-tengah keluarga Kyai Yusuf.

__ADS_1


Kinar mengungkung tubuh Intan selama beberapa menit, rasa bahagia dan sedih bercampur aduk dalam dirinya. Ia sedih karena melihat keadaan Intan saat ini yang terbaring lemah di saat dirinya sah menjadi istri Aji.


Waktu terus berlalu begitu saja, penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh malam. Semua anggota keluarga Kyai Yusuf akhirnya pamit pulang karena Intan butuh istirahat.


"Nah, kalau begini Ummi kan jadi lega meskipun meninggalkan kalian berdua saja. Kalian bebas mau pegang tangan, mau peluk-pelukan atau mau apa saja, kalian dinyatakan halal," ucap ummi Sarah sebelum keluar dari ruangan Intan.


Semua orang yang ada di sana tergelak setelah mendengar ucapan ummi Sarah, apalagi Ninis—ia pun ikut menggoda sepasang pengantin baru itu.


"Nis, sudah Nis! lihat tuh wajahnya Aji sudah merona!" ujar gus Aslam seraya menahan tawanya.


Kyai Yusuf berjalan ke tempat pak Gatot berada saat ini, beliau pamit kepada besannya sebelum pulang dari rumah sakit, "Silahkan mampir ke rumah kami, Pak. Barangkali Bapak sekeluarga bersedia menginap di rumah malam ini," ucap kyai Yusuf dengan di iringi senyum tipis.


"Terima kasih, Pak. Kami sudah pesan hotel di daerah sini," ucap Pak Gatot seraya membungkukkan tubuhnya.


"Setelah Intan sembuh, saya dan keluarga pasti akan melamarnya secara resmi. Jika memang bapak ingin acaranya di selenggarakan di Tangerang, kami siap berangkat kesana," ucap kyai Yusuf sambil menepuk pelan lengan Pak Gatot.


Akhirnya, semua keluarga kyai Yusuf keluar dari ruangan. Aji mengantar keluarganya sampai di depan pintu lift, "Hati-hati di jalan, Mas." Aji menepuk bahu Aslam sebelum kakak keduanya itu masuk ke dalam lift.


Aji termenung di depan lift. Ia tidak menyangka jika dirinya secepat ini menjalin hubungan yang sah di mata agama. Mulai saat ini Intan sudah menjadi tanggung jawabnya, entah bagaimana hubungan mereka setelah ini.


"Loh pada mau kemana ini?" tanya Aji setelah kembali ke ruangan Intan. Ia melihat keluarga Pak Gatot sudah bersiap di samping bed Intan.


"Kami mau istirahat dulu, Ji. Kami sudah pesan hotel kok," ucap Tommy saat dirinya berhadapan dengan Aji.


"Papah ke hotel dulu ya, kalian harus istirahat setelah ini," ucap pak Gatot seraya menepuk bahu Aji.


Intan menatap kepergian keluarga angkatnya itu dengan mata yang berembun, sejujurnya saja Intan ingin sekali berada di dekat mereka saat ini, tapi Intan pun tidak bisa menghentikan mereka, ia sadar jika mereka pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


"Jangan mengantar kami! kasian Intan sendirian di kamar," ucap Pak Gatot ketika melihat Aji mengekor di belakang keluarganya.

__ADS_1


"Hati-hati, Pah," ucap Aji sebelum keluarga baru nya itu benar-benar berlalu.


Aji kembali masuk ke ruangan, tak lupa ia menutup pintu ruangan itu. Ia berdiri di depan pintu seraya menatap Intan yang mengembangkan senyumnya. Ia segera mendekat ke bed itu, untuk ngobrol berdua dengan wanita yang saat ini sah menjadi istrinya.


"kamu tidak ingin salim seperti pengantin pada umumnya?" tanya Aji setelah berdiri di samping ranjang Intan.


"Tadi belum ya, Gus?" tanya Intan dengan hidung yang kembang kempis karena malu.


Intan segera menyambut uluran tangan Aji, per sekian detik kemudian ia mengecup punggung tangan itu cukup lama, entah mengapa air matanya tiba-tiba saja turun tanpa dikomando.


Aji menghapus air mata itu, ia mengusap dengan lembut pipi tanpa polesan make-up itu. Intan memejamkan matanya ketika Aji perlahan mendekatkan wajahnya.


"Aku mencintaimu, istriku ...." ucap Aji setelah mengecup kening Intan selama beberapa menit.


Intan menatap wajah yang sangat dekat dengannya saat ini, ia menyelami telaga bening yang sangat menenangkan itu. Intan mencari cinta yang tersimpan di sana, tangannya pun mulai menyusuri rahang kokoh itu untuk yang pertama kalinya.


"Haruskah saya menjawab ucapan cinta dari Gus?" tanya Intan dengan suara yang lirih.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2