
Terkadang kita tidak sengaja menjatuhkan garam di atas luka orang lain, bahkan kita sampai tidak sadar jika seseorang itu harus menahan sakit atas perbuatan yang kita lakukan. Amarah, dendam, iri dan dengki yang tersimpan dalam hati lama-lama akan membusuk jika kita tidak mengeluarkannya. Namun, sebagian orang memilih untuk diam dan membiarkan semua itu menyakiti jiwanya.
Seperti yang dialami Firda saat ini. Semua rasa yang tersimpan di dalam hati akhirnya membuat jiwanya terguncang. Tak hanya itu ... penyakit-penyakit kronis pun berhasil menggerogoti organ dalamnya. Entah ini sebuah cobaan atau balasan yang harus di terima oleh Firda.
Setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Surabaya selama dua minggu, akhirnya Firda diperbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat total dan kontrol setiap satu minggu sekali. Firda benar-benar rindu dengan anak-anaknya.
"Bi, kita ke rumahnya ummi dulu, saya mau bertemu Intan," ucap Firda saat mobil yang dikendarai sopir kyai Yusuf berhenti di halaman depan.
"Ami yakin? apa Intan mau bertemu dengan Ami?" Sholeh memastikan apa yang diucapkan oleh sang istri.
Firda mengangguk pelan, ia menatap Sholeh dengan sorot penuh harap. Ia benar-benar ingin bertemu dengan sosok wanita yang selama menjadi korban pelampiasannya. Ya, Firda iri kepada Intan dan Aji yang selalu romantis sedangkan dirinya sering diabaikan oleh suaminya.
Firda turun dari mobil dibantu Sholeh. Tubuhnya masih gemetar karena belum sepenuhnya pulih. Ia melangkah pelan di tengah teriknya matahari. Adzan dzuhur baru saja berkumandang di Musholla pondok.
Sementara itu di dalam ruang keluarga Intan duduk seorang diri di sofa panjang seraya memberikan ASI kepada Ghaly. Ummi Sarah dan Aji sedang sholat dzuhur di belakang. Intan menatap bayi mungil yang belum genap satu bulan itu, bayi yang setiap hari tidur dan terjaga di saat tengah malam.
"Uluh ... uluh ... Ghaly udah kenyang ya," ujar Intan setelah Ghaly melepas puncak dadanya. Ghaly menggeliatkan tubuh di pangkuan Intan.
Intan mengalihkan pandangan ketika mendengar suara yang berasal dari ruang tamu. Ia mencoba menerka siapa yang datang di jam-jam seperti ini saat ini. Namun, tak lama setelah itu Intan terkejut bukan main ketika melihat Firda muncul dari ruang tamu. Ia segera berdiri sambil menggendong Ghaly
"Ummi ... Mas Aji!!" teriak Intan ketika melihat Firda mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Dik, jangan takut!! aku sudah sembuh ... kemarilah!" ujar Firda dengan suara yang lirih. Ia melangkah pelan sambil berpegangan di Sofa. Sholeh masih menurunkan barang-barang yang ada di mobil.
Intan menggeleng pelan, ia benar-benar takut saat ini. Rasanya ia masih trauma dekat dengan Firda apalagi saat ini tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Ia takut tidak bisa melindungi Ghaly jika Firda mengamuk seperti beberapa waktu yang lalu.
"Mas ... Mas Aji!" teriak Intan dengan suara yang bergetar.
Mata sayu Firda mulai berembun ketika melihat reaksi Intan. Ia sedih karena adik iparnya itu ketakutan saat berdekatan dengannya. Firda semakin gemetar karena tertekan dengan keadaan ini.
"Sayang ... ada apa?" tanya Aji setelah sampai di ruang keluarga dengan napas yang tersengal.
Setelah mendengar teriakan istrinya di ruang tamu, Aji segera keluar dari ruang ibadah saat menyelesaikan kewajiban empat rakaatnya, ia beranjak tanpa wirid dan doa seperti biasanya.
"Saya takut dengan Ning Firda, Mas!" ujar Intan seraya mendekap tubuh Ghaly hingga bayi mungil itu bergerak karena merasa tidak nyaman.
"Ada apa, Ji?" tanya Sholeh saat baru sampai di ruang keluarga.
Aji mendekat menegakkan tubuhnya, ia menatap Sholeh dengan raut wajah sedih karena prihatin melihat cobaan yang sedang menimpa kakak tertuanya itu, "tidak ada apa-apa, Mas! hanya salah paham saja," ucap Aji dengan suara yang lirih.
Pandangan Aji beralih ketika suara tangisan Ghaly terdengar di ruang keluarga itu. Ia segera menghampiri istrinya yang sedang menenangkan Ghaly, "Sini biar aku yang gendong! kamu duduk dulu," ucap Aji seraya menunjuk sofa yang agak jauh dengan Firda.
"Dik, jangan takut! aku tidak akan melakukan apapun yang bisa membahayakanmu!" ucap Firda dengan suara yang lirih.
__ADS_1
"Aku datang kesini hanya untuk minta maaf atas semua kesalahanku padamu, Dik! maaf karena sikapku selama ini membuatmu tidak nyaman," ucap Firda dengan suara yang bergetar.
Firda meluapkan perasaan iri yang selama ini ia pendam di dalam hati. Rumah tangga Intan dan Aji yang rukun dan diselimuti kebahagiaan membuat Firda iri hati. Ia ingin merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh Intan.
Kenapa Allah memberikan kebahagiaan untuk Intan yang bertato dan hidup dalam pergaulan bebas? sedangkan aku yang taat malah menderita karena sikap suamiku?
Ya, kalimat itulah yang tertanam dalam pikiran Firda hingga membuat nuraninya tertutup. Ia seakan lupa bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Sang Kuasa.
"Sebaiknya Ning istirahat dulu! Ning terlalu lelah ... anak-anak ada di kamar Ning Ninis, mereka sedang tidur di sana," ucap Intan seraya menatap Firda dengan ekspresi yang datar.
Mendengar kabar itu, Firda terhenyak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar Ninis dengan langkah tertatih lalu Sholeh pun segera meraih tubuh lemah itu dan membantunya berjalan menuju kamar Ninis. Rasa rindu kepada keempat buah hatinya telah membelenggu jiwa.
Mungkin terlalu berat untuk Intan menerima permintaan maaf dari Firda hingga ia tak mampu menjawab. Intan memilih untuk mengalihkan perhatian Firda ke anak-anaknya.
"Sayang, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama ... apalagi saat orang yang menyakiti kita terlihat tidak berdaya. Aku harap kamu segera menghapus kebencian kepada Ning Firda. Dia terlalu menderita ...." ucap Aji dengan tangan kanan yang tak henti mengusap rambut Intan.
πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ πΉ
ββββββββββββββββ
Hallo gengsππaku mau kasih kalian rekomendasi untuk kalian nih, karya keren dari temen akuπyuk kepoin sayπ
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·