Surga Hitam

Surga Hitam
Farhan patah hati?


__ADS_3

Suara adzan magrib telah berkumandang tepat saat sepasang suami istri itu keluar dari kediaman Pak Gatot. Rencana mereka hari ini telah terlaksana, mulai dari menemui ketua RT hingga menemui Pak Gatot pun sudah selesai di lakukan.


Aji hanya menyampaikan rencana lamaran dan pernikahan resmi yang sudah di rencanakan orangtuanya. Pak Gatot setuju dengan rencana kyai Yusuf—acara lamaran dilaksanakan di Tangerang sedangkan untuk resepsinya digelar di Jombang.


"Papah memang maunya seperti itu, meskipun kalian sudah menikah siri, Papah ingin Intan di lamar sebagai mana mestinya, Papah terserah kamu siapnya kapan melamar Intan, asal jangan terlalu lama."


Seperti itulah jawaban yang dikatakan Pak Gatot kepada Aji. Pak Gatot ingin keluarga kyai Yusuf datang melamar ke rumahnya walau hanya keluarga inti saja. Setelah itu Intan dan Aji bisa melangsungkan pernikahan resmi di kota kelahirannya.


Aji merasa lega setelah satu persatu langkahnya telah terlaksana, kini ia melajukan mobilnya ke arah cafe yang ia kelola bersama Farhan, malam ini ia ada janji dengan sahabatnya itu setelah lebih dari satu minggu tak bertemu.


"Gus yakin mengajak saya ke cafe dengan pakaian seperti ini? saya gak bawa kerudung loh!" tanya Intan ketika mobil yang ia tumpangi saat ini berhenti di perempatan lampu merah.


"Aku kan sudah bilang, aku menerima bagaimana pun keadaanmu, jangan khawatirkan hal itu lagi," ucap Aji seraya menatap Intan.


"Tapi Gus ...." Intan menghentikan ucapannya karena Aji menyelanya.


"Kamu sudah dewasa, Sayang. Aku menyerahkan semuanya kepadamu, kamu berkerudung atau tidak aku gak masalah, asal pakaianmu sopan dan tidak terbuka di tempat umum." Aji mengusap puncak rambut Intan dengan diiringi senyum yang manis.


"Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri, paham 'kan maksudku?" tanya Aji seraya menatap mata belo yang tengah menatapnya itu.


Intan hanya menganggukkan kepalanya, senyum yang manis pun terbit dari bibirnya. Ia terus menatap Aji karena kagum dengan sikap dewasanya yang membuat Intan semakin nyaman berada di sisinya.


Semenjak kejadian saat itu—di mana saat Intan mengeluarkan semua lukanya, Aji bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, ia tidak mau Intan tertekan karena tuntutan darinya. Aji sadar perubahan itu butuh proses, ia tidak bisa menekan Intan agar mengikuti semua keinginannya.


"Ayo turun!" ucap Aji setelah mobilnya berhenti di halaman cafenya.


Keduanya berjalan beriringan menuju cafe, Aji terus menggenggam tangan Intan hingga mereka sampai di ruangan khusus untuk Aji dan Farhan.


"Woww!" teriak Farhan ketika melihat Aji berani menggenggam tangan seorang wanita, lalu Farhan pun memicingkan matanya karena tidak asing dengan wanita yang berdiri di samping Aji.


"Assalamualaikum!" ucap Aji setelah melihat Farhan terus mengamatinya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" jawab Farhan dengan pandangan yang tak lepas dari Aji dan Intan, "baru Pak?" tanya Farhan dengan tatapan penuh arti.


Aji hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Farhan. Ia memberikan kode kepada Intan agar duduk di kursi yang baru saja ia tarik, lalu Aji pun ikut menghempaskan diri di kursi yang ada di samping Intan.


"Iya pak, dia baru ... baru jadi istri maksudnya," seloroh Aji yang membuat Farhan tergelak.


Entah apa yang lucu hingga membuat Farhan tak bisa menghentikan tawanya, Aji sendiri menjadi heran setelah melihat respon sahabatnya itu.


"Pak Aji kalau ngelucu bisa saja nih!" ucap Farhan setelah berhenti tertawa.


"Loh saya serius, Pak! ini istri saya," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Farhan. Ia menceritakan bagaimana kejadian yang pernah menimpanya dan Intan hingga membuat mereka harus menikah siri dadakan.


Farhan menghela napasnya panjang setelah mendengar cerita yang di sampaikan oleh Aji. Sebenarnya Farhan sendiri sedang mengalami patah hati tepat ketika Aji berangkat ke Jombang.


"Saya tidak menyangka Pak Aji akan menikah secepat ini." Farhan menatap Aji dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya, "Saya gagal menikah, Pak. Tunangan saya yang kemarin di bawa kabur selingkuhannya," keluh Farhan dengan nada penuh sesal.


Tentu saja hal itu membuat Aji dan Intan membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka wanita seperti tunangan Farhan bisa berbuat seperti itu. Padahal kalau di lihat dari penampilannya, tunangan Farhan terlihat kalem dan shalihah.


Mungkin kalimat ini cocok untuk menggambarkan keadaan Farhan saat ini. Tuhan telah membukakan sebuah kebenaran sebelum Farhan melangkah ke atas pelaminan.


"Sabar ya, Pak! semua pasti ada hikmahnya," ucap Aji setelah Farhan mengeluarkan kegundahan hatinya.


Intan hanya diam saja, ia mendengarkan obrolan suaminya itu. Beberapa kali ia tersenyum ketika Aji dan Farhan mengajaknya bercanda. Intan masih canggung jika bicara dengan Farhan.


Pertemuan antara Farhan dan Aji akhirnya berakhir tepat pukul sembilan malam. Aji pamit pulang terlebih dahulu setelah selesai membaca laporan mingguan yang sempat tertumpuk di meja kerja.


"Pak Farhan kapan-kapan main ke rumah, Pak!" ucap Aji sebelum keluar dari ruangan, "sekarang ada yang bikinin kopi loh!" bisik Aji yang membuat Farhan tertawa lepas.


"Kapan-kapan saya mampir," ucap Farhan sambil menepuk bahu Aji.


Farhan menatap kepergian sepasang pengantin baru itu, ia pun menghela napasnya dalam karena teringat penghianatan yang dilakukan mantan tunangannya. Cinta yang besar ternyata tidak cukup untuk membuat sang tunangan bertahan di sisinya.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam mobil putih yang melaju kencang di jalan raya, terjadi obrolan di antara sepasang suami istri itu. Mereka berdua tidak menyangka jika Farhan mengalami semua ini. Mereka menerka apa kiranya yang membuat tunangan Farhan memilih pria lain.


"Saya harap Gus tetap setia kepada saya! saya tidak mau di poligami suatu saat nanti!" ujar Intan seraya menatap Aji dengan tatapan tajamnya.


"Loh kok jadi ngebahas kita?" Aji menaikkan satu alisnya setah mendengar celotehan istrinya itu.


"mumpung masih awal, Gus! saya ingetin!" Sungut Intan. Bukannya takut, Aji malah tergelak setelah mendengar ucapan sang istri.


Setelah membelah jalanan Ciputat, akhirnya mereka berdua sampai di halaman kontrakan Aji. Mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah, tak lupa ia membawa tas besar yang berisi beberapa pakaian Intan yang di bawa dari kontrakannya.


Sebelum beristirahat, tak lupa mereka sholat isya' berjamaah. Melakukan kewajiban empat rakaat sebelum berangkat ke alam mimpi.


"Kamu istirahat dulu, aku mau ke depan ngunci pintu!" ucap Aji setelah keluar dari tempat ibadah yang ada di rumahnya.


Intan masuk ke dalam kamar Aji, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Intan mengembangkan senyumnya ketika melihat fotonya saat MA tertempel di almari Aji.


Pintu kamar itu pun terbuka lebar tepat setelah Intan memakai piyamanya. Kedua sudut bibir Aji tertarik ke dalam ketika melihat penampilan Intan saat ini—terlihat menggoda meskipun hanya memakai piyama.


"Kamu terlihat lebih cantik malam ini," ucap Aji setelah berdiri di hadapan Intan.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2