
"Untung kuncinya aku cabut!" gumam Ummi Sarah dengan nafas yang terengah, beliau pun melihat kunci mobil yang ada di genggamannya.
Setelah bersusah payah akhirnya Ummi Sarah sampai di jalan utama. Ummi Sarah rasanya ingin pingsan, di usianya yang sudah setengah abad lebih beliau harus di hadapkan dengan masalah seperti ini. Ummi Sarah menyandarkan tubuhnya di pohon besar yang ada di sisi jalan sambil menunggu mobil yang lewat. Ummi Sarah membelalakkan matanya ketika mobil yang tadi malang melintang di jalan tak ada lagi di sana.
"Ya Allah! aku sudah membuat anakku terkena masalah. Andai saja aku tadi mengikuti saran Intan, pasti putraku tidak akan terkena masalah," gumam Ummi Sarah dengan suara yang bergetar. Beliau pun menitikkan air mata karena rasa sesal yang menyerang hatinya.
Ummi Sarah melangkahkan kakinya setelah melihat lampu merah yang berkedip-kedip. Sebuah harapan mulai muncul di hati Ummi Sarah ketika melihat sebuah ambulance dan mobil polisi melaju berurutan dari arah utara. Ummi Sarah berdiri di tengah jalan sambil menggerakkan tangannya agar ambulance itu berhenti.
Ciiiitttt!
Ummi Sarah segera mendekat ke tempat supir ambulance tatkala mobil itu berhenti, "Pak Tolong anak saya pak! kami di rampok di sana!" teriak Ummi Sarah sambil menunjuk jalan gelap yang di lewati Aji tadi.
"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara bariton di belakang Ummi Sarah,
"Pak Polisi tolong anak saya! dia ada di sana! kami di rampok pak!" ucap Ummi Sarah dengan wajah penuh harap.
"Jangan pergi pak Sopir! anak saya terluka," ucap Ummi Sarah seraya menatap sopir ambulance yang masih syok itu.
Akhirnya kedua mobil itu melewati jalan yang di tunjukkan Ummi Sarah, beliau sendiri masuk ke dalam mobil polisi itu. Ada tiga polisi yang ada di dalam mobil tersebut, Ummi Sarah pun di interogasi salah satu anggota yang duduk di sebelahnya.
Sementara itu, di jalan makadam yang gelap gulita itu, Aji tidak bisa berbuat apa-apa karena lengannya pun terluka, ia tidak bisa membopong tubuh Intan ke dalam mobil.
"Uhuk ... uhuk!!" tiba-tiba saja Intan batuk dan mengeluarkan cairan dari mulutnya. Lalu kelopak mata itu perlahan terbuka, ia menatap wajah Aji yang di penuhi dengan air mata.
__ADS_1
"Tolong bertahanlah! kamu pasti kuat!" ucap Aji dengan suara yang bergetar. Telapak tangan kanannya masih menjadi bantalan kepala Intan yang terus mengeluarkan darah karena robek.
Aji menegakkan kepalanya ketika melihat sorot lampu dua mobil. Senyum dalam duka itu pun terbit begitu saja setelah melihat kedatangan mobil ambulance dan mobil polisi.
"Mereka lari kesana Pak!" ucap Aji sambil menunjuk arah di mana kawan perampok itu kabur,
Ummi Sarah membekap mulutnya setelah melihat kondisi Intan. Beliau shock karena kondisi gadis yang ada di pangkuan putranya itu. Rasa bersalah itu pun semakin bertambah besar ketika melihat Intan berlumuran darah. Gamis yang tadinya berwarna kuning kini sebagian berubah menjadi merah.
Petugas ambulance itu segera mengangkat tubuh Intan ke atas brankar pasien. Ambulan ini baru pulang dari mengantar pasien rujuk dari RSUD Mojokerto ke RSUD Lamongan dengan kawalan mobil patroli karena pasien yang di rujuk adalah orang penting di Lamongan.
"Pak tolong urus mobil saya ya pak," ucap Aji kepada salah satu polisi yang sedang berdiri di depan mobilnya untuk memeriksa kondisi mobil.
"Baik Pak. Mobil Bapak harus diderek karena aki mobil dan beberapa alat lain telah di ambil perampoknya. Mobil ini akan kami bawa ke POLSEK untuk di jadikan barang bukti," ucap polisi yang ada di hadapan Aji.
Kini, Ummi Sarah, Aji dan Intan berada dalam satu mobil. Mereka akan di bawa ke rumah sakit yang paling dekat dengan TKP agar Intan segera di tangani. Mobil ambulance itu melaju kencang menuju arah Jombang, karena RSUD Jombang lah yang paling cepat untuk di tempuh.
Aji terus menggenggam tangan Intan, Ia menatap tubuh yang sudah di penuhi beberapa alat medis yang tersedia di dalam ambulance. Luka di lengannya seakan mati rasa, ketika melihat gadis pujaannya hanya bisa menitikkan air mata karena rasa sakit yang menyerang kepalanya.
"Sabar ya! kamu pasti kuat!" ucap Aji sambil membungkukkan tubuhnya agar bisa lebih dekat Intan.
Air mata Ummi Sarah tidak bisa di hentikan lagi, beliau benar-benar merasa bersalah atas semua yang terjadi kepada Aji dan Intan. Beliau ingin sekali mendekap tubuh yang terbaring lemah itu, tapi Ummi Sarah tidak bisa melakukannya karena beliau takut Intan semakin kesakitan.
"Gus!" ucap Intan dengan suara yang lirih, ia melepas oksigen yang terpasang di hidungnya.
__ADS_1
"Ada apa, Tan? katakan! katakan apa yang kamu inginkan," ucap Aji seraya mengusap lembut pipi Intan. Ia tidak perduli lagi meskipun apa yang ia lakukan saat ini di saksikan langsung oleh Ummi Sarah.
"Semua ini sangat menyakitkan, Gus!" ucap Intan dengan suara yang semakin lirih, "saya ingin tidur," lanjut Intan seraya menatap Aji dengan mata yang terlihat sayu.
"Tidurlah! jika memang itu bisa membuatmu menjadi lebih baik," ucap Aji dengan tangan yang semakin kuat menggenggam Intan.
"Sebelum saya tidur, saya ingin merasakan kecupan dari Gus. Saya tidak tahu setelah ini saya masih bisa melihat Gus atau tidak, karena luka ini terlalu menyakitkan," ucap Intan dengan sorot mata yang semakin sayu.
Tanpa berpikir panjang Aji segera mendaratkan sebuah kecupan penuh rasa di kening Intan. Cukup lama Aji mendaratkan bibirnya di kening itu, hingga Aji melihat Intan sudah menutup matanya. Aji menegakkan tubuhnya, ia menekan denyut nadi Intan untuk memastikan bahwa nadi itu masih berdenyut.
"Ya Allah!" jerit Ummi Sarah dalam hatinya ketika melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1