
Bocil minggir dulu ya!!!🙏
"Mas,kenapa Ara belum kemari yaa? Udah jam berapa ini" Azia melihat jam tangan nya.
"Sedang asik dengan teman nya mungkin" Jawab suami Azia.
Wajar saja sedari tadi keluarga Ara menunggu,Ara sendiri yang berjanji akan ke sana setelah menemui teman-teman nya,tapi jam sudah akan mendekati angka 11,sudah terlalu larut jika untuk acara seformal itu.
Meski semuanya sudah terlampau dewasa, bahkan mayoritas sudah berumah tangga,tapi mereka pasti lebih memilih pulang lebih awal.
Yoga hendak berdiri dan melangkah ke ruang di mana Ara reuni "Mas,mau kemana aku ikut?!" Azia memegang lengan kakak nya.
Akhirnya mereka berdua memasuki ballroom,namun hanya tersisa beberapa orang saja.Yoga dan Azia saling menatap bingung. sudah bubar.
Yoga mencoba bertanya dengan seseorang di sana, jawabannya semua sama Ara sudah tidak terlihat dua jam yang lalu,bahkan dia pergi tak berpamitan dengan yang lain.
"Coba di toilet ada tidak?" Yoga menuju toilet,Azia mencoba masuk dan keluar hanya mengedikan bahunya,pertanda tidak ada.
"Dimana sih Ara,mas??" Sebenarnya tidak terlalu khawatir,hanya saja Ara tidak pernah menghilang tidak berpamitan seperti ini.
"Tadi ada seseorang pingsan di toilet,dan dibawa ke kamar hotel sebelah"
"Oh ya,siapa yang membawa nya?pekerja sini juga?"
"Sepertinya kekasihnya,karna awalnya dia menunggu di depan pintu,lalu ada yang minta tolong seseorang pingsan,cowo itu langsung masuk dan menggendongnya..."
"Cakep banget tauuu.."
Bisik-bisik obrolan kedua nya terdengar oleh Yoga dan Azia.
__ADS_1
"Maaf tadi anda membicarakan orang pingsan di toilet?" Yoga langsung bertanya kepada kedua waiters disana.
"Maaf,anda siapa nya ya?"
"Mungkin itu tadi adik saya,apa kalian mengenali mukanya?"
"Dia pake baju apa, ciri-ciri nya bagaimana?"
Azia memegang pundak yoga,,"Satu-satu mas tanya nya,mereka bingung!"
"Oh sudahlaaa... " Yoga mengambil ponsel d sakunya.
"Ini bukan?" setelah melihat foto itu,keduanya mengangguk.
"Kalian tau dimana sekarang?"
"Mereka mungkin di penginapan,di sudut kafe ini ada penginapan.Mungkin anda bisa bertanya pada receptionis."
"Baik, terimakasih" Azia segera meraih lengan Yoga,mereka sudah panik.Berjalan tergesa-gesa,takut jika laki-laki yang bersama Ara adalah Reno.Karna hanya dia lah yang bisa melakukan ini semua.
Fandi mendekati Ara yang masih tidak sadarkan diri,wajahnya semakin dekat,hidungnya sudah saling menempel.
Hanya kecupan singkat,Ara masih tidak bergeming. "maaf kan aku Ara,mungkin ini terlalu cepat" Fandi begumam lirih.
Fandi mendekat kan nya lagi,kali ini bukan hanya kecupan singkat,sedikit menuntut dan lebih dalam.Dia tau benar orang yang berada di bawah kungkungan nya tidak akan membalas.
Tangan Ara dia letakan di sebelah kanan dan kiri kepalanya.Semakin dalam hingga menimbulkan suara decapan.
Suara Ara melenguh lolos terdengar jelas oleh Fandi,dia tersadar.Matanya mengerjap.Paham betul di atas tubuhnya ada seseorang, dia membulatkan mata.Menepuk-nepuk dan mencoba mendorong dada Fandi,namun pergelangan tangan nya ditahan,diletakan kembali di sebelah kepala Ara.
Panik atau bagaimana,serangan yang tiba-tiba itu membuat Ara mengeluarkan suara laknut. Fandi semakin gencar dan mengeksplor yang ada di dalam sana,mengabsen tak terlewatkan satupun.
__ADS_1
Ciuman itu semakin turun kebawah memberikan tanda.
"Eehhmmm...to-long hentikan!" Ara meringis menahan sakit,suaranya terputus-putus.
"Maaf.. ada yang menjebak kita Ara"
"Akhh..... hentikan kak!"
Tangan kanan Ara mencoba mendorong bahu Fandi untuk menyingkir. Tapi sial Tangan Fandi sudah menjamah masuk ke dalam dress,dan menyentuh dua buah kenyal Ara.
"Hiks..." Ara sedikit terisak,bukan yang pertama tapi ini sangat tidak dia benarkan.
Dress Ara sudah teronggok di atas kepalanya.Sentuhan Fandi membuat Ara terbuai.Ara yang bukan asing lagi dengan hubungan intim yang seperti ini pun masih setengah sadar,tidak boleh terjadi.
"Raa,tolong aku.Kita dijebak Ra... Seseorang memberikan sesuatu di minuman kita,aku tidak bisa menghentikan ini"
Ara menarik rambut Fandi,agar menyingkir dari dua buah benda kenyal.Fikiran nya sudah tidak fokus lagi.
"Akhh.. Jangan kak!!" Kepala nya menengadah,ketika tangan Fandi berhasil masuk ke dalam area segitiga dan menyentuh nya dengan lembut.
Fandi menarik kepalanya dari sana, menatap wajah sendu tapi menikmati permainannya itu "Aku akan bertanggung jawab,maaf kan aku Ara."
Dia berpindah ke area paling terlarang.Entah sudah sejak kapan baju Fandi tercecer di lantai,hanya menyisakan dalaman.
"Kak,jaa-..... Akhhh!!!" Ara memejamkan mata mendongak ke atas saat sesuatu memasuki intinya. Bermain dengan lidah tak bertulang itu sesekali keluar masuk.
Sadar Ara sudah mencapai puncak,Fandi memposisikan diri.
"aakhhh!!!..." Tangan nya mencengkram lengan Fandi yang berotot. Ini sangat tidak dibenarkan tapi Ara merasa kalah tenaga,dan buaian Fandi sangat memabuk kan.
Memberi waktu senjata nya terbenam sempurna. Keningnya berkerut,ada rasa yang aneh disana "Dia benar janda bukan sih?,kenapa rasanya seperti ini?."
__ADS_1
_tbc_