Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Kalah


__ADS_3

Pagi menjelang,posisi mereka tidur sudah tak lazim lagi.Ara dan Fandi yang tadi nya berada di masing-masing ujung yang bersisian,kini menjadi di tengah di apit oleh dua jagoan.


Wajar saja jika tidur nya seperti itu,kedua anaknya laki-laki.Sama-sama memeluk mamah nya,papah nya pun tidak kebagian.


Fandi menghela nafas,tidur nya benar-benar tidak nyenyak.Pusing yang dia rasakan sejak semalam semakin bertambah pusing ketika terbangun pukul empat pagi melihat kedua anaknya masih di posisi yang sama.


Sangat gemash tentunya.


"Hhmmm aku kalah dengan mereka!" bola matanya berputar.Hafi memeluk Ara, lengan nya terulur hingga leher jenjang mamahnya.Riza pun memeluk pinggang Ara.


Selimut yang tadi malam menutup ke empatnya,sudah entah kemana tidak jelas.Kaki hingga pangkal paha istrinya terlihat jelas oleh Fandi.


"Ayssh!!!" Dia beranjak dari ranjang nya masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Ara terbangun karna mendengar suara Adzan dari ponselnya.Membenarkan posisi kedua anaknya,kaki jenjang itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Akhhh!..hmpt!" Untung saja tangan Fandi segera terulur membekap mulut istri nya yang hampir teriak keras.


Kesadaran Ara masih setengah,yang dia ingat Dirinya masih di Australia,dan tidur bertiga.


"Aku lupa jika sudah pulang mas,untung saja kamar sendiri.Kalau kamar orang lain kan bahaya!"


"Jangan sampai!"


"Kenapa bisik-bisik mas?Kamu sudah mandi,dan ambil wudhu?Tunggu di luar ya,nanti kita subuh bersama" Baru saja kaki nya melangkah,tangan nya sudah di cekal dan di dorong hingga istrinya duduk di sebelah wastafel.


Ara membulatkan matanya.


Ceklek!! pintu terkunci oleh Fandi.


"Disini saja ya sayang,aku sudah menahannya dari semalam.Dua krucil itu benar-benar menguasai mu"


"Apasih ma_" Terlambat.Bibir nya sudah di bungkam oleh bibir suaminya.


Ara mengalungkan tangan ke leher suaminya.Pergulatan sudah di mulai,Fandi yang sudah sangat merindukan istrinya itu menggila menyentuh setiap inci tubuh yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama mashhh,waktu subuh cuma sedikit..akhh"


Suaminya sudah dengan posisi menggendong siap melesakan miliknya.Ara mencengkram kepala suaminya saat dirasa sesuatu disana mulai menekan.


"Pindah bathub ya sayang!" Ara hanya mengangguk. Dia sudah pasrah dengan semua yang suaminya lakukan.Suara merdu keduanya terdengar di ruang itu.


Menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit,keduanya keluar kamar mandi bersamaan.Ara dengan handuk dan rambut yang di gulung ke belakang.


Ara langsung melihat ke ranjang.Kedua nya masih tidur berpelukan.


"Mereka masih tidur sayang!"


"Lalu?"


"kita lan_"


"Subuh dulu mas!keburu waktunya habis cepetan!"


Benar kata istrinya,jarum panjang sudah mendekati angka tiga.Jika tidak terjadi apapun di dalam sana tadi pasti tidak akan kesiangan seperti ini.


Mungkin orang-orang sudah pulang dari masjid,tapi Ara dan suami nya baru saja takbir.


Pagi yang cerah,hari ini Ara di sibukkan dengan kembalinya twins sekolah dan belum lagi usaha nya yang di tinggal selama sepuluh hari itu.


Membuka Gerai Twins dua tahun lalu,dan cabang nya pun sudah banyak di berbagai mall,mempunyai dua anak laki-laki yang ganteng dan menggemaskan membuat jiwa bisnis Ara meronta-ronta.Awalnya hanya iseng membuat beberapa pasang saja,tapi lama-lama banyak brand melirik gaya pakaian anaknya.


Beberapa memang sudah bekerja sama dengan Ara dan anaknya.Masih menjalani kontrak dan sering pemotretan membuat kadang kala pekerjaan Ara tercecer.


Riza, Hafi dan kedua orang tuanya sudah duduk di meja makan menunggu Oma.


Tak lama Maria pun datang,mereka menyantap sarapan pagi nya yang sudah dibuat dan disiapkan oleh Siti.


"Nanti aku mungkin pulang siang mas,Aku antar mereka dulu ke sekolah.Setelah itu ke pusat,lalu mengecek barang.Biar nanti yang jemput Riza dan Hafi sus Nera.Kalian mau kan sayang?"


Kedua nya mengangguk,dua tahun lebih Nera dan Jelita membantu Ara mengurus kembar.Jelas saja mereka dekat dengan keduanya.

__ADS_1


Jelita memutuskan pergi dari paviliun dan menetappi rumah Ara yang dahulu karena ibunya sudah tidak ada,tidak enak jika terus di sana.


Hubungan nya dengan Allan pun hingga sekarang masih abu-abu.Sejak Allan bimbang,sejak itu juga Jelita menjauh.


Sedangkan Sus Nera kini tinggal di apartemen karna dia sudah menikah.


Kedua nya masih di percaya oleh Ara untuk mengurus Gerai nya dan sesekali menjaga twins jika Ara terlalu sibuk.


"Kau tidak ingin menambah asisten lagi sayang?"


"untuk apa mas?mereka berdua penurut,aku bisa menghandle nya"


Maria hanya mendengar dan menatap bergantian anak dan menantunya.


"Aku takut kamu terlalu capek"


"Tidak mas,aku senang melakukan ini semua.Nanti jika aku butuh asisten lagi aku akan bilang padamu"


Muach!! satu kecupan mendarat di atas pelipis istrinya.


Riza yang melihat itu pun menatap tajam papahnya.


Fandi yang tahu anaknya memperhatikan mereka,mengecupi Ara terus di tempat yang sama.Maria terkekeh melihat itu.


"Hafi,lihat!!" Riza mengisyaratkan dengan matanya.Hafi pun turun dari kursi nya,dan menaikki kursi sebelah ara.wajah Ara di miringkan ke hadapannya.Hafi mencium persis tempat yang sama.


Ara dan Fandi sama-sama tersenyum melihat kelakuan anak-anak nya.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2