
Kembalinya She menjadi hal yang menenangkan bagi Maria,Wanita tua itu membenarkan perkataan Fandi bahwa adiknya akan pulang dengan keadaan selamat.
Fandi yang tahu adiknya sudah pulang menganggap itu biasa saja.Adiknya sudah besar dan tua,dia hanya mengawasi saja tidak dapat mengatur nya.
Lain hal dengan kedua Ibu dan anak itu,Ara terus mencemaskan keadaan She yang selalu murung dan lebih sering menghabiskan waktunya di kamar.
Yugo yang datang ke sana pun untuk mengajak fitting baju dan melakukan segala hal yang sudah di rencanakan di abaikan oleh She.
"aku mengikuti mu saja!".
Satu kalimat yang terlontar dari bibir She,hanya itu dan tidak ada yang lain jika ada yang menanyakan pendapat nya.
.
.
Semakin hari semakin dekat dengan tanggal pernikahan She.
Hari ini dia sedang melakukan perawatan di seluruh tubuhnya.Ara yang di perintahkan Maria untuk memanggil orang salon kecantikan,dan sedang melakukan berbagai tahapan bersama She di kamar nya.
Ara tidak kuasa melihat wajah She yang selalu murung,beberapa hari lalu teman Ara melihat Allan di apartemen,mencoba nekat mendatangi ke sana dengan keadaan perut yang besar.Namun hasilnya nihil.
Tidak ada jawaban saat bel berbunyi.Ara tidak tahu Allan ada di dalam atau tidak.
🍀🍀🍀
Tiga hari lagi pesta pernikahan di gelar,She yang bagai patung bernyawa.Hanya menuruti apa yang di inginkan keluarga nya. Setiap malam dia habiskan hanya untuk melamun dan memandangi foto Allan di ponsel nya.
Merasakan rindu yang begitu dalam,matanya sudah seperti mata panda.Lingkaran hitam mengelilingi kelopak matanya.
__ADS_1
"semakin hari,wajah mu semakin pucat.Kau sakit She?" Maria berada di kamar anak gadisnya.
She hanya menggeleng menjawab pertanyaan Maria.
"Minumlah vitamin agar wajahmu cerah kembali! pernikahan mu semakin dekat."
She tersenyum hambar "Aku tidak apa-apa mah,hanya kurang tidur saja.".
"Tidurlah kalau begitu, istirahat! mamah akan keluar menemui yang lain!" She memejamkan matanya.
Pagi harinya,semua hampir finish.Sudah delapan puluh persen di kerjakan.
She yang terbangun karna rasa yang sangat tidak nyaman,kepala nya seperti berputar tak karuan.Untuk membuka mata saja terasa sangat berat.
Memasuki kamar mandi dengan berpegangan pada tembok.Berdiri di depan watafel membasuh muka.Perutnya sangat tidak enak,rasa nya seperti di aduk-aduk.
She mengeluarkan cairan bening.Membuka kran untuk menyiram nya.Hal yang beberapa Minggu dia takutkan terjadi.
She tersenyum,antara takut dan bahagia. Teringat dengan ucapan kakak ipar nya "Biarlah Tuhan yang menentukan kemana takdir mu She!".
Menyimpan benda itu di tas,berganti baju dan memulas make up sedikit di wajah nya.Langkahnya tergesa keluar dari kamar.
Di ruang tengah Maria yang sedang menata meja melihat anak perempuan nya keluar dari kamar,menenteng tas dan memakai pakaian rapi.
"She, pagi-pagi sudah rapih.Mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar mah!"
"Urusan apa?"
__ADS_1
"Sebentar mah,urusan pribadi"
"Menemui seseorang?"
She mengangguk.Mengambil kunci di gantungan dan melangkah pergi.Ara yang keluar dari dapur dan membawa bekal twins ikut berjalan di belakang She.
Hanya mengikuti tanpa bertanya apapun pada gadis itu.
"Onty!!!" Kedua ponakan nya berseru memanggilnya,tapi She yang sudah masuk mobil tidak mendengar.Dan melajukan mobil nya keluar dari gerbang dengan kencang.
Ara dan kedua anaknya yang melihat itu hanya diam.
"Kenapa Onty ngebut mah?"
"Onty sedang buru-buru mungkin" senyum Ara merekah kepada kedua jagoannya.
"Kami memanggil Onty,tapi dia tidak mendengar"
"Biarkan saja, Onty sedang fokus dengan kemudi nya.Kalian berangkat ya,nanti istirahat siang mamah ke sekolah.Sekarang berangkat dengan uncle sopir dulu.Baik-baik di sekolah,jangan membuat gaduh,dan belajar yang rajin supaya pintar.Ok?"
Ara mencium pipi keduanya dengan gemash.Keduan nya pun menyalimi tangan Ara dan mencium punggungnya.
"Daa mamah!"
Ara membalas lambaian tangan mereka.
.
.
__ADS_1
.
to be continue