
"She,,masuklah!!!kau kenapa berdiri di sana terus?"
Dua orang yang duduk di kursi sebelah pintu pun menoleh bersamaan ke arah pintu.She terkejut membulatkan bola mata nya melihat kedua nya.
"Ahh,iyaa... i-iyaa kak!" She melangkah kan kaki jenjangnya.
Berada di sebelah Ara akan lebih aman hati dan jantung nya di banding berdekatan dengan para asisten kedua kakak nya.
"Kak, hari ini sudah bisa pulang kan?"
Kedua kakak beradik itu sedang mengelus pipi baby twins yang gembul dan menggemaskan.
"Rencana nya sih nanti setelah Dzuhur sudah bisa pulang She,tidak tahu jika sampai sore.Kakak mu saja masih tidur sedari tadi tuh.Bangunkan coba!"
Perjalanan empat belas jam dan sampai Indonesia langsung menemani istrinya melahirkan,jelas saja sampai sekarang Fandi masih meringkuk dengan mata yang terpejam lelap.
She pun menuruti kata Ara.Bersandar di pembatas.Tangan nya terulur mencapit hidung Fandi.
"Kak bangun kak!! Matahari udah tinggi kak!"
Nampak nya usaha She belum membuah kan hasil.
"KAK OIIII!!! Malu sama burung tuh,udah terbang kemana-mana!!!WOIII BANGUN!!!"
Hustt!!!
Husttt!!!!
Hustttt!!!!
Sontak seketika She di demo oleh Ara, Allan dan Jelita.Dua ponakannya menangis bersamaan dan sangat kencang mendengar suara She yang seperti toak masjid.
Tapi kabar baik nya Fandi langsung terbuka matanya,dan segera duduk.
"Jelita,tolong sebentar!Gendong baby yang satunya!" jelita yang mendengar perintah dari bos nya pun langsung siap,mendekat dan menggendong baby.
"Maaf kan aku ya kak Ara,aku lupa" Wajah She terlihat sangat menyesal,kelakuan nya memang terbiasa seperti itu jika bersama kakak nya saat di rumah.
__ADS_1
"Ck!! Gara-gara kau yang bar-bar anakku menangis semua She!"
pletak!! satu jitakan mendarat di kepala She.Fandi langsung berlari ke kamar mandi karna takut adiknya mengamuk.
"Sudah tidak apa She,sebentar lagi mereka juga tenang.Mereka pintar,dari kemarin tidak rewel jika bersama Mamah nya" Ara yang sedang menggendong dan sedikit mengayun itu selalu tersenyum jika melihat kedua wajah baby nya.
Hemm .... mungkin nanti yang bisa membedakan mereka hanyalah keluarga nya saja.Mereka sangat mirip.
🍀
🍀
🍀
"Memang She cucu perempuan ku paling bandel,kau apakan kesayangan Opa!" Tiba-tiba daun telinga She di jewer.
"Aduh duh duh.... Opa!She sudah bukan anak kecil lagi,lepaskan ini Opa!" She kaget,dan memegang kupingnya.
"Mereka menangis karena kamu kan,awas saja kau ini!"
"Kak Ara,aku pulang saja ya bersama mamah,nanti kita bertemu di rumah saja.Seperti nya aku memang cucu tiri.Tidak pernah di istimewa kan oleh Opa" She melirik opa nya,tapi lelaki tua itu mengabaikan nya.
"Sini kakak peluk,kamu tetap istimewa untuk kakak She,adik kakak yang paling istimewa,karena cuma kamu satu-satunya adik kakak" Mereka berdua ber- pelukan erat,She memasang muka yang sok manja.
Matanya sekilas bertabrakan dengan tatapan Allan yang sedang melihat keduanya.Mendadak pudar lagi senyum She,dan hal itu di ketahui oleh Allan.
Kenapa anak ini mendadak beda dengan ku,biasanya selalu iseng dan jahil.Terutama mencari perhatian.
"Aku pulang dulu ya kak,Sampaikan pamit ku pada kak Fandi.Sampai jumpa di rumah,aku ke mamah dulu ya"
Pelukan terlepas,She melangkah melewati Allan yang hanya melihat nya namun diabaikan dan tidak di tegur sama sekali oleh gadis itu.Padahal dia sudah siap untuk menjawab jika She ingin mengisengi nya.
"Hati-hati ya She, sampai jumpa di rumah"
She mengangguk,dan melambaikan tangan.
Jebrettt!!
__ADS_1
Sengaja!She membanting pintu itu,lalu lari terbirit-birit dan tersenyum menutup mulutnya,karna mendengar baby twins menangis lagi.
"Benar memang cucu bar-bar sialan!!" Umpatan Opa nya keluar lagi.
"Itu She sayang?" Fandi yang baru keluar dari kamar mandi pun kaget akan suara pintu.Ara mengangguk.
"Liat saja kau nanti di rumah.Anak nakal!!"
Niat hati ingin membuat Allan terlonjak, ternyata niat nya Ter realisasikan beserta bonusnya,di umpat Opa dan kakak nya.
.
.
"Fan, Bagaimana bisa pulang hari ini?"
"Bagaimana sayang?" kebiasaan tanya,malah balik tanya kepada istrinya.
"Sudah Opa,siang ini juga sudah bisa" Akhirnya Ara yang menjawab.
"Oh kalau begitu biar Petra yang mengurusinya.Kau Allan,santai saja dulu.Di sini ada papah mu.Kau bisa istirahat sekedar minum kopi atau Ehekmmm!! berkencan mungkin?" mata Opa melirik pada Juwita yang pura-pura tuli.
Allan hanya tersenyum,dan menundukkan wajahnya.Opa segera menelfon Petra yang sedari pagi tadi sedang di bawah menunggu aba-aba Tuan besar nya.
"Nama nya sudah Fan?"
"Ohh..."
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1