
Persiapan sudah hampir 80%,Maria yang dibantu oleh mbak atau asisten rumah tangga nya,sedari pukul 9 pagi mencari persiapan untuk acara nanti sore.
Tak kalah She yang harusnya hari ini bekerja di salon nya,hanya memantau dari rumah saja.She mempunyai usaha salon yang cukup ramai,gadis seperti dia tidak bisa bekerja dengan tekanan.Akhirnya dua tahun yang lalu Fandi menghadiah kan salon untuk di kelola She sendiri,hadiah itu sesuai dengan passion She yang ke centil lan.
Meski hanya pernikahan yang dadagkan dan sama sekali tak terencana tapi Maria sangat cekatan dalam mempersiapkan,terlebih lagi She yang tahu model dan gaya hidup jaman sekarang sangat membantu Maria menyiapkan semuanya.
Sofa di ruang tengah sudah penuh dengan beberapa hantaran yang sangat cantik,tak lupa pula emas,berlian yang sudah di siapkan di kamar she.
Maria sudah mengabari pejabat kampung setempat,untuk mendampingi nya.Maria anak tunggal jadi tidak punya saudara,sedangkan orang tua nya sudah meninggal.
Keluarga dari Bara Brahmana mayoritas di luar negri,ada yang beberapa disini namun di luar pulau.
"Mah,kita tidak mengabari opa Brahma?" She yang sedang menata jajanan pasar di nampan tiba-tiba bertanya pada Maria.
"Mama bingung She,Biar nanti kakak mu saja yang bicara sama opa nya kalo dia bertemu"
"Bingung kenapa mah?"
"Kasta kita beda She,mamah takut Opa tidak menyetujui.Kasian kakak mu,terlebih lagi kasian Ara jika nanti nya dia hamil"
She menghela nafasnya panjang "Kenapa Opa masih saja memikirkan itu,sudah tua bukannya memikirkan bagaimana cara nya menumpuk pahala untuk bekal mati"
"She!!! jaga omongan mu,beliau Opa kandung mu,nanti ke dengeran Fandi dia marah"
"Mana mungkin kak Fandi marah sama adik kecinta'an nya ini" She mengibaskan rambut di bahunya dengan sombong.
"Terserah kamu saja!" Maria mengalah,percuma saja bicara dengan anak gadisnya.
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
Fandi meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku,lebam dan luka di wajahnya sudah sangat berkurang,masih terlihat samar.Tidak akan terlihat jelas, jika tidak menatap dekat.
Diliriknya jam di dinding pukul dua siang,awalnya hanya mengerjapkan mata,stelah sadar ia mengibaskan selimutnya dan bangkit.
Langkah kaki nya sangat lebar,,
tap..tap..tapp
Dua orang di bawah sana melihat ke arah tangga.
"Mah sudah semua?" Mata Fandi menelisik kotak yang sudah terhias rapih di sebelah kanan dan kiri Maria.
Mamah merentangkan tangan nya,dan tersenyum.
Fandi membalas senyuman nya.
Melihat adegan itu She tersenyum miring.
"Aku juga dari tadi membantu mama kak,sampe gak ke salon".
Fandi yang tau maksut adeknya,menangkup kedua pipi She dan mencium nya.
"Isshh ulluuuh ulluuuh...adek ku yang satu ini mengiri sama mama sendiri"
She tersenyum lebar.
"Fan,nanti apa yang akan kamu sebutkan di depan penghulu?"
"Mamah beli apa saja?" Fandi mengamati satu persatu kotak yang ada disana.
__ADS_1
"Kalau bisa jangan seperangkat alat sholat kak" kedua nya langsung menatap She.
"Alat sholat,berarti kan harus digunakan untuk sholat.Tanggung jawab mu langsung ke Tuhan jika kakak sendiri tidak mengajarkan,atau mbak Ara tidak menjalankan,kecuali sedang haid"
"Memang begitu dek??"
She mengangguk "Aku sering mendengar nya dari teman-teman ku"
"Sok tahu!" Fandi mengacak rambut adiknya.
"Tapi benar juga sih Fan kata She"
"Hem.. trus apa Mah?"
Maria beranjak dari sofa,mengambil sesuatu dari kamar she "Kalau ini bagaimana?" satu set emas dan berlian.
"Mah,kenapa tidak ada cincin nya?"
"Mamah tidak tahu ukurannya,besok kalian beli saja sendiri"
"Tidak bisa begitu mah,cincin itu lebih penting dari segalanya_"
"Kenapa bisa?"
"Karna itu simbol kalau Ara sudah ada yang memiliki"
Maria memutar bola matanya malas."Ya sudah sana kamu beli sendiri,kamu yang sudah pegang-pegang dia,kamu yang tahu ukurannya"
Setelah perdebatan yang pelik,yang menurut Maria tidak terlalu penting simbol-simbol itu.Fandi dan She melaju membelah ibu kota untuk membeli sepasang cincin simbol perkawinan.
_to be continue_
__ADS_1