Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Misi penyelamatan


__ADS_3

Jelita mengerjap kan mata,telinga nya mendengar suara gemuruh yang perlahan semakin mendekat.


Turun dari ranjang dan menyibakkan gorden,matanya melihat lampu berkedip dari arah berlawanan.


Itu helikopter kan,semoga saja itu tim penyelamat nona Ara.


Batin jelita merasa senang,mencoba mencari sesuatu yang bisa menerangi dirinya.


Meraih laci di bawah nakas,di bukanya laci itu..Jelita menemukan senter,meskipun kecil semoga bisa membantu, harapannya begitu.


"Nona!!!Bangun... aku mohon berdiri lah di jendela,pegang lah senter ini dengan posisi berdiri,aku akan mencoba mencari sesuatu untuk mengganjal pintu agar tidak bisa di buka dari luar" Jelita bicara panjang lebar, Ara yang belum sadar benar hanya menuruti, berdiri di sebelah jendela.


"Ita,ini maksut nya apa?" masih dengan kebingungan nya.


"Buka gorden nya nona!nyalakan senternya!"


Ita bicara sedikit berteriak,tangan nya masih mencoba mendorong sofa untuk menutup pintu.


"Kenapa tidak nyalakan lampu saja Ita?"


"Jangan!! cepat nona lakukanlah!!di luar ada heli yang sedari tadi berkeliling.Cepat nona sebelum Tuan Reno menyadari heli itu!"


Ara menuruti perintah Jelita,membuka gorden lebar,dan berdiri di depan jendela dengan tangan nya memegang senter yang diberdirikan.


Benar saja,heli di sebrang sana semakin kian mendekat dan dekat trus.


Prang!!!!


Tak lama,kaca jendela di sebelah sisi nya lagi pecah berhamburan.


"nona ayo mundurr dari jendela!" Ita menarik lengan Ara dan bersembunyi di depan pintu toilet.


Kaca sebelah nya lagi pun pecah.


Prang!!!!


"Itaa!!!! Kau apakan pintunya,kenapa sulit terbuka!!!Ita buka pintunya jangan macam-macam kau Ita!!!!!


Reno menyadari terjadi keributan,kamar Ara lah tujuannya.Ada yang tidak beres disana.Suara heli yang sedari tadi berputar dia sangka suara ombak ketika air pasang.


Suara kaca pecah pun terdengar oleh Reno.dia berusaha mendobrak pintu kamar Ara.


Di dalam Ara dan Ita sudah saling berpeluk.Mereka harap Reno tak bisa masuk hingga jeruji jendela terbuka.


"Ganjalan di dalam terlalu berat bos" bodyguard Reno susah payah mendorong pintu yang masih tertutup.

__ADS_1


"Berusaha lagi sampai bisa!"


Felix dan Fandi beserta kapten ada di heli,sebagian menyelusup lewat lantai dasar bersama Allan dan Bimo kerabat Felix,teman satu profesi.


"Biar aku tembak saja jeruji besi jendela nya Fan" beberapa bidikan melesat dan bisa terbuka.Tinggal lompat saja dari heli dan masuk jendela.


Reno berhasil mendobrak pintu,rahangnya mengeras mencari Ara,ditariknya dia dari dekapan jelita.


"Lancang sekali kau Jelita!!!Lihat saja" Reno menggendong Ara ala bridal style dan keluar dari kamar itu.


Aksi Reno tak luput dari pandangan Fandi,yang hendak melompat ke jendela.Bahunya turun naik melihat istrinya


"Jelita tolong!!!"


"Diam !!!" Reno membentak Ara yang ada dalam gendongan nya.


Tangan Ara memukul dada Reno,kaki nya berontak ingin turun,tapi tenaga nya kalah dengan tenaga Reno.


"Nona!!"


"Urus Ita!" perintah Reno pada bodyguard nya.


Reno pergi ke kamar miliknya tak jauh dari sana.Ara terus berteriak kencang.


"Fan! kau kejar Reno dan istri mu,biar yang lain aku yang menangani" Fandi pun mengangguk,dan keluar melewati bodyguard Reno yang sedang mencoba membekap Ita.


🍀


🍀


🍀


Reno menggila, Ara dihempaskan di ranjang yang amat luas di kamarnya.Tubuhnya bergetar hebat,air matanya luruh menetes deras.


Pintu dikunci oleh Reno.Tubuhnya berbalik tangannya menarik Ara yang hendak berlari dari sana.


"Lepaskan aku Ren,aku mohon!!" masih dengan air mata yang deras.


Reno membuka satu persatu kancing kemeja yang dia pakai,Mata Ara membulat tubuhnya mundur perlahan.Dada nya masih naik turun.


"Mari kita nikmati waktu yang tersisa ini,aku yang akan menang atau suami mu itu!"


Reno merangsek,mencoba mencumbu Ara.Ara pun berteriak tangan nya mencoba menyingkirkan Reno.


Reno mengukung Ara,mencoba melucuti pakaian yang melekat di tubuh Ara,sekeras mungkin Ara berontak hingga,jahitan di tangan nya merembes, mengeluarkan darah kembali.

__ADS_1


Pria itu sudah buta akan obsesinya,hingga tidak peduli jika Ara sudah menahan sakit di telapak tangan nya.


Mencoba menggapai bibir nya,tapi Ara terus berontak,kedua kakinya sudah tekan.Pakaian bagian atas Ara sudah terbuka seluruh kancingnya,Ara menjerit sekencang kencangnya.


Brugk!!!


Pintu terbuka,Fandi menatap kedua nya.Reno yang terus memaksa dan Ara yang mencoba menolak.


Fandi menerjang Reno,beberapa kali tendangan dan pukulan mendarat di perut dan wajah Reno,begitu pula Fandi.Beruntung Allan datang tepat waktu.Menutupi Ara dengan selimut.Lalu segera mengambil alih Reno.


Allan bahkan lebih dari Fandi,memukuli Reno dengan membabi buta.


"stop Lan!!" Ara tiba-tiba berteriak,Fandi dan Allan menoleh heran.


"Kalian boleh marah,aku pun juga.Tapi tidak boleh menghakiminya sendiri"


Tak lama polisi datang.membawa Reno dan semua yang terkait.


Fandi menghampiri Ara memeluk nya,menumpahkan seluruh rindunya.


"Tangan kamu?"


"Obati dulu,nanti aku ceritakan!"


Mereka beriringan berjalan menaiki lift,dan turun ke bawah.Beberapa Kapal sudah tertata rapih.Mata Ara menangkap beberapa orang yang dulu pernah dekat dengan nya.


"Tian,Lola apa kabar?" Mereka menghampiri Ara dan memeluknya.


"maafkan kami mbak,kami benar-benar tidak tahu jika mbak Ara ada di rooftop" sebuah kalimat penyesalan dari mereka.


"Apa ayah juga ada disini?" tanya Ara pada mereka.kedua nya mengangguk.


"Dimana?"


"Ayah dibawa oleh polisi juga, ayah tahu jika mbak di atas,ayah sudah berusaha bicara pada mas Reno tapi tak di dengar." Tian menjelaskan pada Ara.


"Kami mohon mba,selamat kan ayah!" Lola memohon dengan mata nya yang berkaca.


"Nanti mbak akan usahakan,kalian jangan cemas.Ayah kalian adalah ayah mbak juga" keduanya mengangguk.


Menatap nanar Ara yang memasuki heli,dan perlahan melesat.


.


.

__ADS_1


.


to be continue_


__ADS_2