
Setelah hari itu,kedua nya tidak pernah bertemu lagi.Ara yang menyibukkan diri nya dengan berbenah rumah,melepas rindu dengan sanak saudara.
Beberapa orang merasa dengan perubahan Ara,dia tidak membawa masalah pribadi di dalam keluarga,tidak ada pembahasan atau cerita apapun.Yang mereka percaya sekarang Ara bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Dari dulu memang bisa, tapi sesekali dia sering bercerita kepada Kakak perempuan atau ipar.
"Acara nya jam berapa nanti malam Ra?.."
Kakak beradik itu sedang menonton tv bersama.
"Di undangan sih mulai sore,tapi aku ke sana habis magrib kalau gak Isa aja kali ya mbak"
Tangan nya sembari memindah-mindah Chanel televisi.
"Sampe malam Ra?"
"Hem..Mungkin"
"Bagaimana kalau kita sekalian makan malam di sana" Sesekali makan diluar mumpung sedang di rumah berkumpul pikir Azia.
"Oh boleh juga mbak,disana ada restoran, Karaoke, billiard juga ada".
Azia hanya manggut-manggut.Secepatnya dia akan memberitahu yang lain untuk menyiapkan diri masing-masing.
Momen berkumpul keluarga biasa dilakukan jika ada acara tertentu,momen Lanka bagi sebagian orang.Setelah ini rumah akan terlihat kosong tidak berpenghuni.Azia dan suami yang kembali ke rumahnya,Yoga pun begitu,belum saudara yang lain yang sudah mulai kembali pulang.
Dan mungkin Ara akan tinggal sendiri d rumah itu beberapa hari sebelum dia kembali lagi ke ibu kota.
Rumah akan ada yang mengurus,di tinggali oleh pasutri yang umurnya sudah tidak muda lagi,mereka d pasrahkan untuk membersihkan dan menjaga rumah ini.
Matahari sudah mulai terbenam,Ara sudah ada di bilik kamarnya.Setelah melakukan kewajiban nya kepada Sang pencipta. Dia bersiap untuk ke acara yang sudah jauh hari dia rencanakan akan datang.
Menggunakan dress berwarna dusty pink tidak berlengan,dan hanya bertali satu yang melingkar di leher jenjangnya.Rambut pirangnya dia gerai sempurna,tidak lupa poni yang sedari tadi sudah di roll dia buka.Memoleskan sedikit make up dan menyemprotkan wewangian.
__ADS_1
Ara menuruni tangga,dia menggunakan heels yang tidak terlalu tinggi karna dia sudah tinggi.
"Gak bisa pake baju yang lebih tertutup sedikit dek" Yoga,siapa lagi yang sering menegur tentang penampilan Ara.
Tinggal di daerah yang mayoritas anak santri,jadi Yoga pasti akan mengeluhkan tentang kostum.
" Ini tertutup mas,mana ada yang aku buka?."
"Itu punggung bagian atas mu terlihat begitu,naiklah lagi ganti!"
Dengan terpaksa Ara mengganti dengan mini dress yang biasa saja,berlengan dan panjang selutut.
"Baru beberapa menit aku di atas udah gak ada orang" Ara bergumam kala di bawah sudah sepi.
Ternyata orang-orang di bawah sudah dulu pergi,terpaksa Ara mengambil ponsel dan memesan taxi online.
🍀
🍀
🍀
Dari depan memang sudah terlihat sangat ramai,barisan motor dan mobil yang berjejer sangat rapih.
Ara mencari mobil Azia,benar saja sudah ada mobil kakak nya,sudah pasti memang mereka sudah ada di dalam.
Ara berfikir sejenak,hendak menghampiri keluarga dahulu atau teman-teman nya.
Ruangan nya hanya sisi kanan dan kiri,tersekat oleh toilet.
"Mbak,udah pesan?" Sudah pasti Ara menghampiri keluarga nya terlebih dahulu.
"Eh Ra..... Udah pesan semua,kamu gimana?mau mbak pesan kan?" Tawar Azia.
__ADS_1
"Jangan dulu mbak,biar nanti saja. Aku kesebelah dulu ya.Daa.. Happy-happy semua." Ara bahagia melihat pemandangan itu, keluarga yang berkumpul bersama.Dia melambaikan tangan.
.
.
Kaki nya sudah memasuki ballroom "sudah sangat ramai,aku pasti yang paling akhir ".
"Liat belakang mu,siapa yang baru saja datang!" Alisnya terangkat untuk memberi tahu.Toni si paling reseh,jail,absurdt,dan masih banyak lagi,sengaja menempatkan diri dan geng nya tak jauh dari pintu.
Misinya baru saja akan dimulai.
Mereka melihat ke arah pintu masuk,Fandi yang berdiri membelakangi pun segera membalikan tubuh nya.Terpaku mematung melihat Ara yang sedang bertegur sapa dengan yang lain.
"Woii!!..tiati tuh gelas bisa jatuh" Toni menoel Radit untuk menegur Fandi yang sedari tadi bengong.
"Ren..mau di mulai sekarang apa bagaimana?" tanya Toni dan di angguki Radit.
"Memang apa rencana mu?" Fandi sebenarnya penasaran dengan rencana yang mereka buat,hanya saja temannya tidak mau terburu-buru memberitahu.
"Memangnya kau mau yang seperti apa?sat set atau pelan-pelan?" Toni berbisik lirih.
"Kalau pelan-pelan kau akan di tikung oleh Andrew,lihat dia sudah lebih dahulu mendekatinya" Radit menunjuk Ara dan Andrew yang sedang mengobrol dan sesekali tertawa.
"Siapa sih Andrew,kenapa bisa sedekat itu? kau dapat dia dari mana?!" Wajah Fandi memanas,nampaknya dia kecewa dan marah,baru tau Andrew kemarin,bahkan dia tidak menjabat tangan waktu pertama bertemu.
"Nemu dikantong kresek Alfamart" Celetukan Toni seketika,membuat mereka tertawa kecuali Fandi.
"Sialan kau Ton.. Terserah apapun rencana mu,aku ikut saja. Aku mau yang pilihan pertama."
Toni dan Radit saling melempar senyum.Mereka tahu apa yang harus mereka perbuat selanjutnya.
_TBC_
__ADS_1