
Opa menelfon Petra,sahabat sekaligus asisten pribadinya.Segala hal Petra sanggup menyelesaikan dengan mudah.Tidak banyak omong,bukti nyata pekerjaan nya tidak pernah gagal adalah pengabdian nya untuk Tuan besar, hampir dua puluh lima tahun semenjak Allan balita.
Petra di tugaskan untuk mengurus segala administrasi dan ***** bengeknya dari hal apapun itu tentang perawatan cucu menantunya.
"Namanya sudah Fan?" Telfon di akhiri dan kembali di genggam.Sekarang Fandi lah yang menjadi incaran Opa.
"Ahh... sudah Opa,sudah ada"
"Siapa?" Opa nya penasaran.
Bukan hanya Opa saja yang penasaran, Jelita dan Allan pun seketika langsung hening menyimak.
Mereka bahkan ragu jika Fandi bisa memberikan nama yang bagus dan baik.
"Kenapa semua diam? ternyata kalian sangat penasaran?atau meremehkan aku tidak bisa memilih kan nama untuk mereka?" Fandi terkekeh.
"Aku yang siang malam bekerja membuat nya,dan aku papah nya,jika kalian lupa itu.Tentu saja aku yang mencari nama yang baik dan bagus untuk mereka!" Menepuk dada nya dengan pongah.
Allan yang melihat dan mendengar itu menyunggingkan senyum,bosan sekali melihat bos nya yang kadang suka sombong.
"Rizaidan Fathariano Brahmana untuk yang lahir pertama dan Hafidan Daffara Brahmana untuk yang lahir ke dua_"
"Panggilan nya apaaa?" Allan tiba-tiba menyeletuk kan pertanyaan.
"Nak ganteng dan Nak bagus!" Fandi sontak menjawab pertanyaan konyol itu.
"Ishh Allan!!!aku sudah menyebutkan panjang-panjang kau tetap haa hoo haa hoo,dasar aneh tidak fokus!Makanya buruan kawinin Jelita biar bisa dapet kaya Riza dan Hafi!" Gigi Fandi gemertak gemas melihat Allan asisten nya.
__ADS_1
"Hushh mas,sabarr!! Aku ralat bukan cuma di kawinin tapi di nikahin" Ara membenarkan ucapan suaminya.Kedua nya sama saja membully Jelita dan Allan.
Opa yang baru tahu hubungan Jelita dan Allan pun tersenyum dan mengangguk anggukan kepalanya.Tidak lupa jari telunjuknnya ikut terangkat dan menggoyangkan nya.
Jelita yang berada di sana pun hanya tersenyum dan malu kepada para bos nya.Untung saja papah Allan,Petra belum ada di sana, bagaimana jika ada.Pasti sudah malu di buat nya.
"Ehekmmm.. Nama yang bagus Fan.Kau ternyata banyak berubah semenjak menikah.Opa fikir akan seperti dulu terus,tidak terkendali dan ugal-ugalan" Opa nya membuang wajah kembali melihat kedua cicitnya.Beliau tahu pasti Fandi akan berdecak kesal.
"Ayshhh!tidak usah di jelaskan Opa! Jangan percaya Opa ya sayang!" Fandi memeluk istrinya.
Mereka segera berkemas untuk persiapan pulang, mobil sudah tertata rapih di basemant.Begitu juga Allan yang sudah siap juga di area parkir.
Dua puluh menit kemudian Opa mendapat panggilan telfon dari Petra.Bahwa semuanya sudah selesai dan beres.Ajudan pendamping Opa pun mendekat membawa kursi roda.
"Kenapa aku memakai ini,aku bisa jalan sendiri!Ara saja yang duduk di sini!"
"Tambah satu boleh tidak Opa?"
"Apanya?" Opa merasa bingung dengan ucapan Fandi.
"Kursi rodanya,untuk aku menggendong Riza!..Ara kan menggendong Hafi dan duduk di kursi roda,aku mau juga dong Opa" alis Fandi terangkat angkat untuk meledek Opa.
"Sudahi kegilaan mu Fan,Opa mau menambah lagi tapi untuk Jelita menggendong Riza.Bukan kau!!!Kau laki-laki tidak malu??" tongkatnya sudah mendarat pelan di bokong Fandi.
"Iya iya ya Opa,aku cuma becanda!"
Mereka mulai meninggalkan ruangan yang beberapa detik lalu di gunakan Ara.Masing-masing kursi roda di dorong oleh ajudan Opa,Fandi membawa tas darurat Ara yang cukup besar,ketambah lagi yang di beri rumah sakit.
__ADS_1
Ahhh benar-benar suamiable banget.
🍀
🍀
🍀
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman utama Brahmana.Opa bahkan menghubungi mobil patroli polisi untuk menyembunyikan sirine nya.
Pantas saja tidak ada setengah jam sudah sampai dan di sambut hangat oleh seisi rumah.
She dan Maria menyambut mereka di depan.Memasuki ke dalam,ada keluarga paman Ara,Paman Pardi juga sudah ada di sana.
Kedua pasangan itu berdiri untuk menyambut Ara, dan memeluknya.Ara yang masih terasa sakit nya jahitan di area sensitif, hanya mampu berdiri dan duduk kembali di kursi roda nya.
"Mereka ganteng-ganteng,lihat lah Paman!"
Ara memanggil Jelita untuk mendekat,dan benar saja ketika Paman nya melihat kedua cucu itu berdekatan,Paman bingung.
"Benar-benar twins,nyaris tidak ada bedanya."
.
.
.
__ADS_1
To be continue