
Dari pagi hanya menghubungi sekali, Ara merasa suaminya mengabaikannya hari ini.Sudah bukan menjadi prioritas nya,terlebih lagi tidak menjemput saat di mall.Tidak berpamitan akan meeting.
Sudah mencoba menghubungi tapi tidak juga di jawab,sesibuk apa sebenarnya sampai melupakan istri dan anak-anaknya.
Itulah yang ada di benak Ara.Dari pulang hingga malam dirinya masih di dalam kamar,makan malam pun hanya di acak dan di aduk-aduk saja.
Susu yang sudah dingin masih di atas nakas,Jelita yang ingin menemani di kamar pun di tolak oleh Ara.
Kebiasaan menyendiri nya muncul kembali,Apapun masalah dan apapun yang dia rasakan tidak akan pernah bercerita dengan orang lain,lebih baik di kamar dan sendiri.Ara akan menghabiskan waktu nya untuk bermain ponsel dan menonton televisi.
.
.
Mata nya mengerjap,merasakan perutnya.Merasakan kedua calon bayi nya menendang cukup keras.Ara melihat kasur di sebelahnya masih kosong belum ada penghuni.
Padahal sudah jam 11 malam tapi belum di rumah.
Tangan nya mengusap perut yang sedari tadi ber gerak.
"Kenapa nak?belum tidur?..kalian merasakan apa yang mamah rasa?hemm?"
Ara menuruni tangga,menuju dapur membuat segelas susu dan membuka kulkas mencari cemilan.
Duduk bersandar di sofa ruang tengah, tiba-tiba telinga nya mendengar pintu gerbang di buka.Langkahnya ke arah jendela mengintip siapa di luar.
Mata nya memicing melihat suami nya turun dari mobil.Ara segera mengambil gelas susu nya dan berjalan cepat ke lift menuju kamarnya.
Berpura-pura tidur, Ara merebahkan dirinya di ranjang,dan menarik selimut sampai perut.Tubuhnya miring kanan membelakangi ranjang suaminya.
Tak berselang lama,pintu di buka.Fandi masuk dan menutup nya kembali,tak lupa mengunci pintu.Matanya melihat sosok yang sedari tadi ada di pikiran nya sudah terlelap tidur.
Membuka kancing kemeja nya,dan melempar ke ranjang baju kotor.Membersihkan diri di dalam kamar mandi.Setelah selesai dengan ritual mandinya dia merebahkan tubuhnya di samping Ara,tak lupa kecupan di kening dan pipi Ara.Hal itupun di rasakan oleh Ara.
__ADS_1
🍀
🍀
🍀
Pagi hari ketukan pintu membuat Ara merasa terganggu dan membuka matanya,segera bangun melihat siapa yang mengganggu nya pagi-pagi sekali.
"Siapa?"
"Nonaa..."
Ceklek pintu terbuka!
"Nona,dari semalam belum turun untuk makan.Saya mengkhawatirkan nona,apa nona baik-baik saja?"
Ternyata Jelita, Ara sampai terharu mendengar penuturan nya.Asisten nya yang bukan siapa-siapa dan tidak terikat darah pun mencemaskan diri nya.
"Aku minum susu Jelita,tenang saja.Mereka juga tidak rewel"
"tidak! Mulut ku tidak enak makan.Mual yang aku rasakan."
"Apa karna Dede bayi,atau nona yang tidak makan dari kemarin?"
Ara mengedikan bahunya "entahlah"
"Kalau ada apa-apa bicara padaku ya nona?"
Jelita pamit ke bawah,dan Ara menutup pintu.Fandi mendengar semua obrolan istri dan assisten nya.Tubuhnya bersandar di papan ranjang.Ara berjalan melewati suaminya yang sedang menatap nya lekat.
Dari kemarin hanya minum susu?
Ara keluar dari kamar mandi dengan wajah,tangan,dan kaki yang basah.Ternyata dia telah berwudhu,karna masih ada waktu subuh.
__ADS_1
"sholat subuh mas!"
Ucapannya memang untuk Fandi yang sedang bersandar di sana,tapi tatapan nya mengarah ke lain.
"Iya,duluan dulu" Jawab Fandi,kaki nya turun dari ranjang melangkah ke kamar mandi.
Setelah selesai bermunajat,Ara bersiap-siap memakai dress,dan segera turun.Hari ini dia berencana mendatangi panti asuhan dengan Jelita.Maria tidak bisa menemani karna ada acara dengan teman sosialita nya.
"Mau kemana?"
"Aku hari ini mau ke panti mas,sudah janjian dari kemarin dengan jelita.Nanti biar sopir yang mengantarkan kita"
Tidak meminta ijin terlebih dahulu,istrinya tiba-tiba punya rencana sendiri.
"Kau tidak meminta ijinku dulu sayang?"
"aku sudah mencoba menelfon mu kemarin tapi tidak di jawab" sembari membersihkan dan merapihkan ranjang.
Masih dengan rasa sabar nya Ara mencoba menjawab suaminya dengan nada tenang,dan santai.
Tangan nya meraih tas,dan switer yang ada di sebelahnya.Langit sedang tidak cerah seperti biasanya.Fandi melihat ponsel Ara yang sengaja di tinggal di meja.
"Ponselnya tidak di bawa,bagaimana aku menghubungi mu Ara?"
Ara berhenti ketika sudah menggenggam handle pintu.
"ponsel itu tidak penting,hubungi saja Jelita!!"
Tanpa menoleh, Ara membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
to be continue_