
"Keluar lah aku tidak ingin di ganggu!" Ara yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur tiba-tiba merasakan tangan kekar melingkar di perutnya.
Secepat kilat Ara mencoba melepas belitan tangan itu.Tapi lilitannya sangat kuat.Ara terus meronta untuk di lepaskan.
Tubuhnya terus menghindari suaminya yang sedari tadi ingin menyentuh. Ara meraih sebuah tripod yang sering dia pake,untuk memukul tangan Fandi,walau hanya menakuti saja.
"Ishh aku bilang keluar!!!" mata nya sedikit mengembun,bukan hanya tubuhnya.Matanya saja enggan bertemu tatap dengan suaminya.
Fandi segera pulang ketika jam kantor telah usia,dia tidak tahu jika pada jam istirahat Ara ijin pulang karna sedikit tidak enak badan.
"Heyy,galak sekali" Fandi tersenyum,tangan nya terus meraih Ara,tapi istrinya itu bergerak menghindari.Hingga membuka pintu kamar dan berlari keluar.Menuruni tangga.
"Araa!!!...Stop disana!" Fandi ikut keluar kamar mengejar Ara.Matanya tertuju kepada Ara yang akan memegang handle pintu utama.
"FAHIRA FERYALDI aku bilang STOP!!!" Kaki Ara bagai rem motor ya pakem,seketika berhenti tanpa menoleh.
Pergelangan tangannya ditarik oleh Fandi menuju sofa,,
"Lepass,ishh sakit ini.Kau menyakiti ku Fan!!" tangan nya berpindah ke pinggang Ara memeluk dan membawanya duduk.Tangan yang melingkar itu Ara mencoba melepasnya.
"Kau kenapa sebenarnya?hemm?.." Ara tidak menjawab.
"heyy...aku bertanya kepada mu Ara.Marah, melihat ku dekat dengan perempuan?" Ara masih tak bergeming.
"Sopan sekali memanggil ku Fan..Fan" Fandi menangkup kedua pipi Ara dan mengecup bibir itu.
"Sayang,bicara lah jangan diam saja dari tadi!"
Benar-benar Fandi tidak mengira jika Ara akan membisu seperti ini.Sulit sekali meluluhkan hatinya kembali.
Sudah setengah jam mereka duduk bersebelahan,tapi Ara masih diam.Dia pun bangkit dan beranjak meninggalkan Fandi di sana sendiri,yang sedari tadi bermain ponselnya.
Maksud hati Ara,Fandi menjelaskan siapa perempuan tadi tapi nyatanya dia diam saja.Yang ke dua,kenapa sampai sekarang Fandi tak mengenalkan Ara sebagai istri di perusahaan Brahmana Group.
Hingga mendekati dua bulan pernikahan saja,Ara tidak di kenalkan kepada opa Brahma.Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Fandi menghela nafas,istri nya susah sekali di bujuk.Ara masuk ke dalam kamarnya.
🍀
🍀
🍀
Ara keluar dari kamarnya,hari sudah gelap,cahaya lampu sudah mulai di nyalakan.Langkahnya berhenti di ujung tangga,ternyata Fandi sudah tidak ada di sofa.
Matanya menelisik ke segala arah,mungkin di ruang kerja nya.
Ara turun ke baseman,kali pertama Ara mengendarai mobil yang di hadaih oleh Fandi.Keluar membelah jalanan ibu kota.Tujuan nya ke taman kota.
Beberapa kantong plastik kecil sudah di genggam nya,Ara menjatuhkan tubuhnya di kursi pinggiran taman kota,sesekali mencicipi cemilan yang dia beli dan memandangi kendaraan yang berlalu lalang.
Ponsel,dia lupa membawa ponsel.Seseorang duduk di sebelahnya.
"disini memang enak untuk menyendiri" Ara menoleh,dahinya berkerut.
"Allan? ngapain disini?"
"mencari angin"
"Yang benar saja Ra,di rumahmu ada AC kenapa mencari angin disini?"
"Di sini lebih enak,pemandangan nya lebih luas.Kau mau Lan?" Ara menawarkan beberapa cemilan yang ada di kantong putih itu.
Allan menyicipi beberapa makanan,Ternyata makanan jalanan seperti ini enak ya.
"Makan nya blepotan Ra,gimana sih?" Allan mengulurkan tangan nya mengusap bawah bibir Ara.
Seseorang di sebrang sana mengintai diam-diam,terlihat seperti orang ciuman jika dilihat dari jauh.Matanya membola,tak berfikir lama dia keluar dari mobilnya dan menghampiri Ara.
"Brengsek" Fandi menarik kerah kemeja Allan.
__ADS_1
"Kau kenapa Fan?"
Bugh! satu tinjuan membuat bibir Allan pecah.
"Brengsek!! Kau mencium istri ku Lan!"
Tangan nya sudah terkepal,melayang.
"Kak stop! kau salah melihat,dia membersihkan kotoran di bibirku"
"Bibir mu di pegang-pegang oleh nya?"
matanya hampir jatuh "ayss Lan,kau.."
Allan bingung dengan situasi itu "Tunggu Fan,kau dan Ara?"
"Dia istriku Lan"
"Hah???!"
"Kami menikah dua bulan yang lalu"
"Tunangan mu?"
"Tu-tunangan?" Ara terkejut dengan pernyataan Allan,tunangan siapa?.
"aku bisa jelaskan nanti Ra, perkataan Allan tidak seperti yang kau pikirkan"
Padahal beberapa menit yang lalu,Ara sudah sedikit mereda emosinya,kenapa membuncah lagi gara-gara perkataan Allan barusan.
Ara berlari meninggalkan mereka,memutuskan pulang saja kembali ke apartemen mungkin jauh lebih baik.Menanti Fandi pulang dan menjelaskan semua nya.
.
.
__ADS_1
.
to be continue_